<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700</id><updated>2012-01-02T13:56:00.388+07:00</updated><category term='Analisis'/><category term='Pemilu 2009'/><category term='Puisi'/><category term='Lain-lain'/><category term='Teori Sosiologi Modern'/><category term='Pemikiran Mahasiswa'/><category term='Kuliah'/><category term='Sosiologi'/><category term='Stories'/><category term='Pengantar Sosiologi'/><category term='UAN'/><category term='Tips dan Trik'/><category term='Cerita'/><category term='Biografi'/><title type='text'>Share My Opinion</title><subtitle type='html'>"Membumi Dalam Keberagaman, Menyatu Dengan Kesetaraan"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>101</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-7765509644090141238</id><published>2012-01-02T13:56:00.000+07:00</published><updated>2012-01-02T13:56:00.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Anthony Giddens : The Last Modernist (Sebuah Biografi Singkat)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Sebuah Pengantar &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menarik sebuah benang merah dari inti teori Struktur Anthony Giddens ke arah konsep pemikir-pemikir sebelumnya seputar teori tersebut bukanlah sebuah pekerjaan yang singkat. Gagasan yang plural tentang beberapa subjek, serta rentangan kurun waktu sejarah sampai pada zaman Comte misalnya -yang merupakan rentangan waktu yang cukup panjang- yang telah memuat daftar ratusan gagasan para sosiolog dan teoritisi lainnya, turut menambah rumit proses perunutan tersebut. Namun, untuk bisa memahami dengan jelas siapa Giddens dan bagaimana teori strukturnya, maka proses perunutan merupakan hal yang wajib dilakukan. Untunglah, peta perkembangan pemikiran teori Sosiologi yang dibuat Ritzer bisa membantu pekerjaan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini berisi biografi singkat Anthony Giddens, teori struktur dan agennya, serta pembahasan singkat peta perkembangan pemikiran dari Auguste Comte sampai Giddens, ditambah dengan teori terpadu George Ritzer, sebagai perkembangan teori selanjutnya. Tulisan ini sengaja hanya difokuskan pada teori struktur dan agen dengan maksud agar bisa diperoleh gambaran lebih mendalam seputar teori tersebut.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;I. Biografi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Anthony Giddens adalah seorang teoritisi sosial Inggris. Ia lahir pada 18 Januari 1938. Karya awalnya bersifat empiris dan memusatkan perhatian pada masalah bunuh diri. Dalam karya-karyanya, Giddens membangun perspektifnya sendiri, yang terkenal sebagai teori strukturasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;II. Teori Struktur dan Agen&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;img alt="Anthony Giddens" src="http://www.yudhieharyono.com/wp-content/uploads/2009/12/Anthony-Giddens-241x300.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Giddens mengemukakan teori strukturasi. Kunci pendekatan Giddens adalah bahwa ia melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya dapat dipisahkan satu sama lain. Agen terlibat dalam struktur dan struktur melibatkan agen. Menurutnya, seluruh tindakan sosial memerlukan sturktur dan seluruh struktur memerlukan tindakan sosial. Giddens menolak untuk melihat struktur semata sebagai pemaksa terhadap agen (misalnya seperti Durkheim), tetapi melihat struktur baik sebagai pemaksa maupun penyedia peluang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Inti konseptual teori strukturasi terletak pada pemikiran tentang struktur, sistem dan dwi rangkap struktur. Struktur didefinisikan sebagai “properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya), yang memungkinkan praktek sosial serupa yang dapat dijelaskan untuk eksis di sepanjang ruang dan waktu dan yang membuatnya menjadi bentuk sistemik. Struktur hanya akan terwujud Karena adanya aturan dan sumber daya. Struktur itu sendiri tidak berada dalam ruang dan waktu. Fenomena sosial mempunyai kapasitas yang cukup untuk menjadi struktur. Giddens berpendapat bahwa struktur hanya ada di dalam dan melalui aktivitas agen manusia. Jadi Giddens mengemukakan definisi struktur yang tak lazim, yang tak mengikuti pola Durkheimian dalam memandang struktur sebagai suatu yang berada di luar dan memaksa aktor. Menurutnya, struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Giddens melihat modernitas sekarang sebagai “juggernaut” (panser raksasa) yang lepas kontrol. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;i&gt;“kehidupan kolektif modern ibarat panser raksasa yang tengah melaju hingga taraf tertentu bisa dikemudikan, tetapi juga terancam akan lepas kendali hingga menyebabkan dirinya hancur-lebur. Panser raksasa ini akan menghancurkan orang yang menentangnya dan meski kadang-kadang menempuh jalur yang teratur, namun ia juga sewaktu-waktu dapat berbelok ke arah yang tak terbayangkan sebelumnya. Perjalanannya bukannya sama sekali tak menyenangkan atau tidak bermanfaat; adakalanya memang menyenangkan dan berubah sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi, sepanjang institusi modernitas ini terus berfungsi, kita takkan pernah mampu mengendalikan sepenuhnya baik arah maupun kecepatan perjalanannya. Kita pun takkan pernah merasa aman sama sekali karena kawasan yang dijelajahinya penuh dengan bahaya. (Giddens, 1990:139)"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Istilah &lt;i&gt;“juggernaut”&lt;/i&gt; (panser raksasa) digunakan Giddens untuk menggambarkan kehidupan modern sebagai sebuah “dunia yang tak terkendali” (runaway world). Citra panser raksasa dimaksudkan Giddens untuk menerangkan bahwa mekanisme modern jauh lebih besar kekuasaannya ketimbang agen yang mengemudikannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari sudut empat intitusi mendasar. Pertama, kapitalisme yang ditandai oleh produksi komoditi, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja tanpa property, dan sistem kelas yang berasal dari ciri-ciri tersebut. Kedua adalah industrialisme yang melibatkan penggunaan sumber daya alam dan mesin untuk memproduksi barang.  Industrialisme tak terbatas pada tempat bekerja saja dan industrialisme mempengaruhi sederetan lingkungan lain, seperti transportasi, komunikasi, bahkan kehidupan rumah tangga. Ciri yang ketiga adalah kemampuan mengawasi. Hal ini mengacu pada pengawasan atas aktivitas warga Negara individual (terutama) dalam bidang politik. Dimensi institusional keempat dari modernitas adalah kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasaan, termasuk industrialisasi peralatan perang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Modernitas menurut Giddens erat kaitannya dengan ruang dan waktu. Dengan datangnya modernitas, ruang makin lama makin dilepaskan dari tempat. Berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik makin lama makin besar peluangnya. Menurut Giddens, tempat semakin menjadi “phantasmagoric”, artinya “tempat terjadi peristiwa sepenuhnya ditembus dan ditentukan oleh pengaruh sosial yang jauh jaraknya dari tempat peristiwa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut Giddens, modernitas adalah kultur berisiko. Ini bukan berarti bahwa kehidupan sosial kini lebih berbahaya daripada dahulu. Konsep risiko menjadi masalah mendasar baik dalam cara menempatkan aktor biasa maupun aktor yang berkemampuan spesialis-teknis dalam organisasi kehidupan sosial. Modernitas mengurangi risiko menyeluruh bidang dan gaya hidup tertentu, tetapi pada waktu yang bersamaan memperkenalkan parameter risiko baru yang sebagian bersar atau seluruhnya tidak dikenal di era sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Mengapa kita menderita akibat negatif di dalam panser raksasa modernitas? Giddens mengemukakan beberapa alasan: pertama, karena kesalahan rencana dalam dunia modern; orang yang merencanakan unsur-unsur dunia modern membuat kesalahan. Kedua, kegagalan operatornya; masalahnya bukan berasal dari perencana, tetapi dari mereka yang menjalankan dunia modern.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;III. Kritik Teori&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Giddens mengemukakan definisi struktur yang tak lazim, yang tak mengikuti pola Durkheimian dalam memandang struktur sebagai suatu yang berada di luar dan memaksa aktor. Menurutnya, struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial.       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Giddens menolak pendapat pakar yang menyatakan bahwa kita telah memasuki era post-modern, meski ia menyatakan kemungkinan munculnya tipe post-modernisme di masa datang. Namun demikian, menurutnya kita masih masih hidup di era modern.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Giddens  menolak sebagian besar pendirian yang biasanya dikaitkan dengan post-modernisme. Sebagai contoh, bagian pemikiran post-modernisme yang menyatakan tak mungkinnya menciptakan pengetahuan sistematis. Menurut Giddens, pandangan seperti itu membawa kita kepada penolakan aktivitas intelektual sama sekali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;IV. Peta Pemikiran (Dari Comte – Giddens)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Auguste Comte (1798) berpendapat bahwa keteraturan sosial tergantung pada pembagian pekerjaan dan kerjasama ekonomi. Individu-individu menjalankan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi begitu pembagian kerja muncul, partisipasi individu dalam kegiatan ekonomi menghasilkan kerjasama, kesadaran akan ketergantungan juga bertambah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pendapat Comte ini dimentahkan oleh Karl Marx (1818-1883), terutama ketika dia menganalisis bahwa potensi konflik akan lebih besar ketika ada perbedaan pekerjaan, karena perbedaan ini kemudian akan mengakibatkan munculnya perbedaan kelas dalam masyarakat. Menurut Marx, masyarakat terbentuk atas struktur dalam bentuk pembagian kelas masyarakat, yang terdiri dari kelompok kapitalis dan kelompok buruh/ pekerja. Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisis kapitalisme, yakni borjuis dan proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Struktur dalam masyarakat terbentuk karena ada perbedaan penguasaan aset-aset ekonomi. Dimana kelompok kapitalis menguasai berbagai komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut dengan gaji, sedangkan para pekerja hanya memiliki sedikit hak milik dan mereka harus memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dalam masyarkat kapitalis dilihat juga sebagai penghasil berbagai produk dan komoditas. Marx berpendapat bahwa kekuasaan-kekuasaan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Di samping itu, struktur ekonomi kapitalisme turut menentukan pemikiran dan tindakan individu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Marx berpikir bahwa eksistensi kelas-kelas dalam masyarakat berpotensi menimbulkan konflik. Konflik ini terjadi manakala muncul konfik kepentingan antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang bekerja. Misalnya: orang yang memberi upah berharap memberikan upah sekecil-kecilnya, sedangkan para buruh menghendaki yang sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Marx berpikir bahwa perbedaan kelas dan konflik yang menyertainya hanya bisa diatasi dengan menciptakan dunia sosialis, dimana tidak ada penguasaan aset-aset produksi oleh salah satu pihak. Jadi aset-aset produksi harus dimiliki bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dari sini Marx kemudian mendambakan sebuah masyarkat komunis dalam mana terjadi revolusi ekonomi besar-besaran. Sementara gerakan massa kaum buruh yang tidak puas dengan perlakuan yang mereka terima dari kaum kapitalis merupakan kekuatan revolusioner yang sewaktu-waktu bisa bangkit dan meruntuhkan kekuatan kapitalisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Namun, teori Marx ini disanggah oleh Vilfredo Pareto (1848-1923). Pareto justru berpikir bahwa tidak realistis berharap akan tercapainya perubahan sosial yang dramatis melalui revolusi ekonomi. Menurut Pareto, masyarakat akan didominasi oleh sejumlah kecil elite yang memerintah berdasarkan kepentingan diri sendiri. Elite kecil ini memerintah massa rakyat yang didominasi oleh faktor non-rasional. Menurut Pareto, karena kapasitas rasional terbatas, maka mereka bukanlah kekuatan revolusioner. Pareto berpikir bahwa perubahan sosial terjadi manakalah elite mulai mengalami kemerosotan moral dan digantikan oleh elite baru yang berasal dari elite yang tak memerintah atau unsur yang lebih tinggi dari massa. Segera setelah elite baru berkuasa, proses yang baru pun terjadi. Jadi, Pareto menyodorkan teori perubahan sosial melingkar, sedangkan Marx menyodorkan teori perubahan sosial linear.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pareto membayangkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, sebagai kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung. Perubahan satu bagian dipandang menyebabkan perubahan bagian lain dalam sistem. Dari sini dapat dilihat Pareto menganut teori sistem dalam pemikirannya tentang masyarakat.  Dalam mana setiap sub-sistem dalam kesatuan sistemnya akan dipengaruhi dan turut mempengaruhi sub-sistem lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Berbeda dengan Pareto yang menekankan masyarakat yang terikat dalam sistem, George Simmel (1858-1918) meninjau masyarakat lebih dari sudut interaksi sosial yang tercipta di dalamnya. Ia berpendapat bahwa masyarakat merupakan serangkaian interaksi. Menurutnya, struktur yang terbentuk dalam masyarakat, seperti: Negara, marga, keluarga, kota atau serikat pekerja, merupakan kristalisasi dari interaksi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam kaitan dengan kelompok yang muncul dalam masyarakat, Simmel mengungkapkan pemikirannya tentang dyad (kelompok yang terdiri dari dua orang) dan triad (kelompok yang terdiri dari tiga orang). Dyad tidak memperoleh makna di luar individu yang terlibat di dalamnya, dan masing-masing anggota dyad  akan mempertahankan tingginya level individualis. Sebaliknya, triad  -yang memiliki kemungkinan besar memperoleh makna di luar individu yang terlibat- berpotensi melairkan struktur kelompok. Hal inilah yang menjadi ancaman bagi individualitas anggotanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Lain halnya dengan pandangan Max Webber (1864-1920) seputar struktur sosial. Berbeda dari Karl Marx yang melihat stratifikasi yang tercipta dalam masyarakat diakibatkan semata karena faktor ekonomi, Weber menilai bahwa stratifikasi tersebut terbentuk karena hal-hal yang bersifat multidimensional, yakni basis ekonomi, status dan kekuasaan. Implikasinya adalah orang dapat menempati peringkat yang tinggi di satu atau dua dimensi stratifikasi tersebut sementara berada pada posisi yang lebih rendah di dimensi lainnya. Teori Weber ini merupakan kritik teori Marx sekaligus merupakan perkembangan teori yang melihat bahwa faktor ekonomi bukanlah faktor tunggal penentu struktur sosial masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Eksistensi George Lukacs sebagai seorang teoritisi yang menganut paham Marxisme-Hegelian tak dapat diabaikan dalam perkembangan teori sturktur. Lukacs mengkritik teori Marx yang mengungkapkan bahwa orang dalam masyarakat kapitalis merupakan penghasil produk atau komoditas, sehingga nilai dilihat sebagai sesuatu yang dihasilkan pasar dan bukan oleh aktor itu sendiri. Menurut Lukacs, oranglah yang menghasilkan komoditas dan sekaligus memberi nilai kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Perbedaan kelas dalam masyarakat yang menurut Marx disebabkan karena dampak dari distribusi faktor ekonomi yang tidak merata dinilai berbeda oleh Lucaks. Justru menurutnya, manusia dalam masyarakat kapitalis berhadapan dengan realitas yang diciptakannya sendiri (sebagai kelas) yang baginya tampak sebagai fenomena alamiah yang asing bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, kaum proletar bukan teralienasi karena sistem, tapi karena diri mereka sendiri yang menganggap demikian. Hal tersebut karena mereka tunduk pada hukum-hukum yang mereka buat sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Konsep Lukacs inilah yang dikemudian dikenal dengan konsepnya mengenai kelas dan kesadaran palsu. Kesadaran kelas ini merujuk pada sistem kepercayaan yang dimiliki bersama oleh mereka yang menempati posisi kelas yang sama dalam masyarakat. Jadi, pada umumnya, masyarakat kapitalisme tidak memiliki pengertian yang jelas tentang kesadaran kelas mereka sebenarnya. Kesadaran kelas mereka berarti ketidaksadaran atas kondisi ekonomi dan sosio-historis seseorang yang dikondisikan kelasnya oleh kelas kepalsuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jika menurut Marx, perbedaan kelas dalam masyarakat menyebabkan rusaknya harmoni masyarakat, para penganut teori fungsionalisme struktural justru berpikir sebaliknya. Para penganut teori ini beranggapan bahwa perbedaan aktifitas dalam masyarakat merupakan hal yang harus diperlihara untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Perbedaan posisi dan aktifitas berarti juga perbedaan fungsi. Fungsi-fungsi yang berbeda dalam sistem ini, jika dipelihara dengan baik sangat produktif untuk mencapai tujuan masyarakat. Gugusan aktivitas justru harus diciptakan sesuai dengan kebutuhan sistem. Talcot Parson, salah seorang tokoh fungsionalisme struktural mengemukakan sistem yang disebut AGIL, yakni adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi (pemeliharaan pola). Sistem inilah yang harus dijalankan agar masyarakat bisa harmonis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat selalu berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Masyarakat hidup dalam suatu sistem yang teratur, karena mereka secara formal diikat oleh norma, nilai dan moral. Setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Robert Merton (1910-2003), salah seorang teoritisi fungsionalisme-sturktural agak berbeda pendapat dengan pendahulunya. Menurutnya, tidak setiap struktur, adat-istiadat, gagasan, keyakinan dan lain sebagainya memiliki fungsi positif. Menurutnya, suatu fakta sosial dapat mengandung konsekuensi negatif bagi fakta sosial lain. Untuk itulah maka Merton mengembangkan teorinya mengenai disfungsi. Ketika struktur atau institusi dapat memberikan kontribusi pada terpeliharanya bagian lain sistem sosial, mereka pun dapat mengantung konsekuensi negatif bagi bagian-bagian lain tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam kaitan dengan disfungsi di atas, Merton mengembangkan konsep fungsi manifest dan fungsi laten. Dimana fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak dikehendaki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam perkembangannya, teori struktur-fungsional diperhadapkan dengan kritik yang muncul dari teoritisi lainnya. Konsep Herbert Blumer (1900-1987) tentang interaksionisme simbolik merupakan salah satu bentuk kritik terhadap teori fungsionalisme struktural. Menurut Blumer, teori fungsionalisme struktural cenderung memusatkan perhatiannya kepada beberapa faktor, misalnya norma, yang menyebabkan perilaku manusia. Menurutnya, teori ini mengabaikan proses krusial ketika para aktor menopang kekuatan yang bertindak padanya dan pada perilaku mereka sendiri dengan makna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Blumer juga menolak teori fungsionalisme struktural yang mengemukakan bahwa perilaku individu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Ia menolak anggapan bahwa perilaku aktor ditentukan oleh faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh aktor itu sendiri. Karena yang terpenting menurut Blumer adalah proses pendefinisian ketika aktor melakukan perbuatannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kritik terhadap teori Struktur-fungsional datang juga dari Ralf Dahrendorf (1929) dengan teori konfliknya. Ia menolak pandangan para fungsionalis yang menganggap bahwa masyarakat adalah statis, atau kalaupun berubah maka perubahan tersebut secara seimbang. Menurutnya, masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Jika para fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, para teoritisi konfliki melihat apa pun tatanan yang ada di tengah masyarakat tumbuh dari tekanan yang dilancarkan segelintir anggota yang berada di puncak. Kalau para fungsionalis memusatkan perhatiannya pada kohesi yang diciptakan oleh nilai masyarakat yang dimiliki bersama, para teoritisi konflik menitikberatkan pada peran kekuasaan dalam memelihara tatanan di tengah-tengah masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dahrendorf mengemukakan gagasannya bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsensus. Teori konsensus merupakan teori yang membahas tentang integrasi nilai di tengah-tengah masyarakat, sedangkan teori konflik membahas tentang konflik kepentingan dan hal-hal yang menyatukan masyarakat di bawah tekanan-tekanan tersebut. Menurut Dahrendorf, masyarakat tak mungkin ada tanpa konflik dan konsensus. Pendapat Dahrendorf ini semakin memperjelas perbedaan antara dirinya dengan para penganut teori fungsional-struktural.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam kaitan dengan struktur yang terbentuk dalam masyarakat, menurut Dahrendorf, kelompok mana yang berada di atas dan mana yang berada di bawah ditentukan oleh kepentingan bersama. Dalam setiap asosiasi, kelompok yang berada di atas berusaha mempertahankan posisi mereka, sementara kelompok yang berada dibawah akan berusaha melakukan perubahan. Dalam hal inilah kemudian konflik terjadi. Sehingga konflik dalam kelompok-kelompok tersebut akan berlangsung sepanjang waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;V. Perkembangan Teori Setelah Giddens (Teori Terpadu Ritzer)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam kaitan dengan perdebatan yang panjang antara para teoritisi dengan kekuatan teori-teori masing-masing, yang mengkritik dan kritik, seputar struktur yang terbentuk dalam masyarakat, George Ritzer mencoba mengemukakan sebuah paradigma terpadu. Paradigma terpadu Ritzer ini merupakan salah satu bentuk kritik terhadap tiga paradigma lainnya. Yakni kritik terhadap paradigma fakta sosial yang hanya memusatkan perhatian pada struktur dan institusi skala besar; kritik terhadap paradigma definisi sosial yang memusatkan perhatian pada situasi sosial dan pengaruhnya tindakan dan interaksi; kritik terhadap paradigma perilaku sosial yang memusatkan perhatian pada imbalan yang mendorong perilaku yang diharapkan dan hukuma yang mengekang perilaku yang tidak dikehendaki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ide kunci Ritzer ialah “tingkatan realitas sosial”. Ini bukan berarti bahwa realitas sosial benar-benar terbagi dalam beberapa tingkat. Namun, menurut Ritzer, realitas sosial paling tepat dipandang sebagai kesatuan sosial yang berskala luas yang mengalami perubahan secara terus-menerus. Untuk itu dia mengungkapkan gagasan perlu adanya perpaduan antara hal-hal yang mikroskopis dan makroskopis, serta dimensi objektif dan subjektif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam kaitan dengan perpaduan mikro-makro, Ritzer memahami bahwa dunia sosial dibangun atas serangkaian entitas yang berskala kecil sampai yang berskala besar, karena itu merupakan hal yang lazim. Sementara dalam pemahamannya seputar dimensi subjektif-objektif, menurut Ritzer pada level mikro atau individu, terdapat proses mental subjektif aktor dan pola objektif tindakan dan interaksi yang ia ikuti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Untuk pembahasan lebih lanjut bisa download buku yang ditulis oleh S. Mestrovic dengan judul Anthony Giddens: The Last Modernist berikut ini. &lt;a href="http://www.2shared.com/document/pt8hSj6A/__Anthony_Giddens__The_Last_Mo.html" target="_blank" title="Anthony Giddens (The Last Modernist)"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan : warugakita.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-7765509644090141238?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/7765509644090141238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/7765509644090141238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2012/01/anthony-giddens-last-modernist-sebuah.html' title='Anthony Giddens : The Last Modernist (Sebuah Biografi Singkat)'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-987147759372513315</id><published>2011-11-15T11:46:00.000+07:00</published><updated>2011-11-15T11:46:12.737+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Aku Bukanlah Seekor Burung</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku bukanlah seekor burung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan kedua sayapku&lt;br /&gt;Aku bisa langsung melesat ke angkasa luas&lt;br /&gt;Tanpa aku merasa takut akan terjatuh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku bukanlah seekor burung&lt;br /&gt;Yang bisa terbang melintasi dunia&lt;br /&gt;Sejauh yang aku inginkan&lt;br /&gt;Kemanapun aku pergi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku bukanlah seekor burung&lt;br /&gt;Yang bebas bertengger dimana saja&lt;br /&gt;Dan pergi kapan saja&lt;br /&gt;Sesuka hatiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku bukanlah seekor burung&lt;br /&gt;Yang punya suara indah&lt;br /&gt;Yang bisa bernyanyi merdu&lt;br /&gt;Atau pun punyai bulu bulu cantik warna warni&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Namun…&lt;br /&gt;Aku tak perlu menjadi seekor burung&lt;br /&gt;Untuk aku bisa mencapai langit yang tinggi&lt;br /&gt;Bahkan ‘tuk sekedar memetik bintang bintang yang menghiasinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku tak perlu menjadi seekor burung&lt;br /&gt;Untuk ku bisa menjelajah dunia ini&lt;br /&gt;Karena aku punya dunia sendiri&lt;br /&gt;Yang setiap saat bisa aku arungi dengan mudahnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku juga tak perlu menjadi seekor burung&lt;br /&gt;Yang harus bisa bernyanyi dengan indah&lt;br /&gt;Dan berhiaskan bulu bulu cantik&lt;br /&gt;Karena aku sendiri merasa begitu sempurna tanpa itu semua&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"&gt;Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri&lt;br /&gt;Karena yang aku miliki adalah sebuah dunia, dan menjadi duniaku&lt;br /&gt;Karena yang aku miliki adalah sebuah kelebihan dan menjadi kelebihanku&lt;br /&gt;Karena yang aku miliki adalah sebuah kecantikan, dan menjadi kecantikanku&lt;br /&gt;Karena yang aku miliki adalah sebuah rahasia, dan menjadi rahasiaku&lt;br /&gt;Karena yang aku miliki adalah sebuah surga, dan menjadi surgaku&lt;br /&gt;Dan aku bisa apa saja dengan semua yang kumiliki&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Hanya amanah untuk dijaga&lt;br /&gt;Karena pasti semua akan kembali pada Sang Maha Memiliki...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-987147759372513315?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/987147759372513315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/987147759372513315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/11/aku-bukanlah-seekor-burung.html' title='Aku Bukanlah Seekor Burung'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-66750817223604335</id><published>2011-11-15T11:14:00.000+07:00</published><updated>2011-11-15T11:14:24.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Dunia yang Mulai "Terbelah"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kondisi status sosial di kehidupan seperti saat ini sangatlah terbagi dalam berbagai spektrum. Kata sosial tidak hanya dimaknai sebagai hubungan yang terjadi diantara umat manusia, namun juga hubungan manusia yang dilihat dalam berbagai perspektif yakni ekonomi, budaya dan lainnya. Disini disebut bahwa bentuk budaya, politik,ekonomi dan yang lain merupakan perangkat yang membentuk sistem sosial yang ada di masyarakat.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wilayah ekonomi, mungkin prespektif Karl Mark yang menarik untuk dijadikan rujukan. Bahwa dalam struktur masyarakat produksi kelas masyarakat sosial dibagi menjadi dua yakni proletar dan borjuis. Proletar adalah kaum buruh yang dalam hal ini menjadi babu kaum borjuis atau kaum majikan. Dalam pandangan Karl Mark bahwa kaum borjuislah yang mengusai kaum praletar dalam bidang produksi. Kaum proletar sebagai yang terkuasai mengalami alienasi atau keterasingan dalam hidupnya. Jika masyarakat proletar bekerja dalam sistem produksi modern maka dalam pandangan Karl Mark mereka mengalami keterasingan dari lingkungan kerja, teman kerja, alat produksi, dan hasil produksi. Kaum proletar seakan an sich terhadap lingkungan kerjanya, tidak mau tau yang terjadi dilingkungan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pandangan Karl Mark tersebut ada ketimpangan kelas ekonomi yang berdampak sistemik pada kelas sosial. Dalam artian sistem sosial terpecah menjadi dua muka disebabkan kelas ekonomi yang sengaja dipecah oleh sistem produksi modern yang kapitalistik. Oposisi biner dalam wilayah sosial disini tidak sendirinya ada namun bentukan ekonomilah yang mengakibatkan kelas sosial terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut kalau dilihat dalam spektrum ekonomi. Kalau dalam spektrum budaya ada “dunia yang terbelah” dalam kebudayaan kita. Keterbelahan tersebut minimal terjadi antara kutub ke budayaan barat dan timur. Eropa yang mereperentasikan budaya barat yang menjadi oposisi biner dari kebudayaan asia sebegai reprentasi budaya timur. Dalam dua budaya besar tersebut seringkali berbeda dan sengaja digesekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barat yang terlambangkan sebagai budaya pop yang terkesan glamour dan hedonistik. Sedangkan budaya timur sebagai representasi budaya sopan dan lemah lembut. Kedua kutub berbeda inilah yang sering menjadi pergolakan dalam fenomena sosial. Ada anggapan bahwa Indonesia itu budaya timur jadi tidak usah sok barat atau anggapan-anggapan lain. Hal inilah yang menjadi keterbelahan dalam budaya dalam ruang lingkup kewilayahan yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal yang kemudian menjadi pertanyaan sekarang, apakah kebudayaan harus dipisah oleh geografis, atau harus dipecah-pecah dalam suatau kewilayahan. Budaya bukannya lebih baik digeneralkan dan tidak dikota-kotakkan yang cendrung dangkal. Orang Indonesia boleh berbudaya layaknya orang eropa, Malaysia boleh berbudaya layaknya orang Indonesia begitu juga sebaliknya. Budaya dalam pandangan penulis tidak harus dikotak-kotakkan dalam kewilayahan. Tidak harus ada oposisi biner yakni timur-barat, asia-eropa,indonesia-malaysia atau lain sebagainya. Biarkan budaya seperti air yang mengalir dan merembes kemana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari papaparan penulis dari fenomena sosial yang ada selama ini, baik dalam sistem ekonomi dan kebudayaan atau mungkin dalam bidang lain ada semacam pembelahan yang terjadi. Ada “dunia yang terbelah” menjadi dua bagian besar atau dalam bahasa filsafatnya oposisi biner. Dalam asumsi penulis selayaknya dunia ini tidak dijadikan dua atau terpecah jadi bagian-bagian yang cendrung berbeda dan berakibat pada gesekan sosial. Kalau boleh berharap, bangunlah dunia yang utuh dalam satu kesatuan tidak dunia yang terbelah. Dunia yang utuh tidak oposisi biner dan sengaja membedakan antara proletar-borjuis dan antara barat dan timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan iseng-iseng ini hanya sebagai refleksi dan kegusaran penulis akan situasi sosial dan dunia yang terbelah. Entah menurut pembaca hal ini terlalu dangkal atau apalah yang mungkin beranggapan bahwa perbedaan itu rahmat. Namun dalam pandangan penulis perbedaan yang rahmat itu tidaklah memarginalkan kelompok yang lain dalam hal ini proletar dan budaya yang merasa termarginalkan baik itu barat maupun timur. Selanjutnya, terserah anda untuk ber-asumsi yang terpenting dalam pandangan penulis “dunia yang mulai terbelah” ini sudah saatnya diakhiri dan membuat dunia yang utuh dalam satu kesatuan. Tidak ada yang harus dimarginalkan dalam spektrum dan konteks apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-66750817223604335?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/66750817223604335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/66750817223604335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/11/dunia-yang-mulai-terbelah.html' title='Dunia yang Mulai &quot;Terbelah&quot;'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-295250187790329091</id><published>2011-10-28T10:52:00.000+07:00</published><updated>2011-10-28T10:52:04.787+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Ratapan Anak Negeri</title><content type='html'>Hari ini tanggal 28 Oktober, 83 tahun yang lalu &lt;br /&gt;Keanekaragaman suku nampak indah bagaikan pelangi&lt;br /&gt;Beda agama tak jadi penghadang tuk ikhlas mengabdi&lt;br /&gt;Warna-warni bahasa tak jadi penghalang tuk saling memahami&lt;br /&gt;Ceritanya masih jelas kudengar sampai hari ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini 28 Oktober, 83 tahun yang lalu&lt;br /&gt;Dada mereka penuh bangga bisa satukan hati&lt;br /&gt;Jiwa mereka penuh bangga mampu mendarma bhakti&lt;br /&gt;Kudengar banyak raga penuh bangga turut membela negeri&lt;br /&gt;Lecut semangat bersatu menggelora tak pernah henti&lt;br /&gt;Ceritanya masih jelas kudengar sampai hari ini &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini  28 Oktober, setelah 83 tahun berlalu&lt;br /&gt;Kulihat dada-dada penuh iri&lt;br /&gt;Kulihat jiwa-jiwa berhiasan pamrih dan rasa dengki&lt;br /&gt;Kulihat raga-raga bergelimang materi&lt;br /&gt;Kulihat lecut semangat mengejar nafsu duniawi&lt;br /&gt;Tak peduli walau harus makan saudara sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini 28 Oktober, setelah 83 tahun berlalu&lt;br /&gt;Kulihat bumi compang-camping tak terperi&lt;br /&gt;Alam kempot peot, tercabik-cabik oleh eksploitasi&lt;br /&gt;Lumpur menyembur, tanah longsor, banjir bandang, gempa dan tsunami&lt;br /&gt;Masih saja kudengar sudut bibir mencibir, "Ah, itukan karena bencana alam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat persembunyian si bijak tak lagi kutemukan&lt;br /&gt;Kulihat di tengah padang ilalang yang mengelupas&lt;br /&gt;Seonggok akar menyeruak ke permukaan melintas&lt;br /&gt;Berbalut butir embun membaris kata 'Suara Komunitas'&lt;br /&gt;Kepadanya lantas bergegas kusematkan pesan seutas&lt;br /&gt;"Jagalah negeri ini, wahai kawan"&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-295250187790329091?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/295250187790329091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/refleksi-hari-sumpah-pemuda-ratapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/295250187790329091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/295250187790329091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/refleksi-hari-sumpah-pemuda-ratapan.html' title='Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Ratapan Anak Negeri'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-6081227000697916139</id><published>2011-10-23T18:24:00.001+07:00</published><updated>2011-10-23T18:26:29.718+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hal-Hal Yang Ingin Ku Ungkapkan Kepadamu</title><content type='html'>&lt;b&gt;1. Bagaimana Aku Memanggilmu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memanggilmu lewat telepon, "Cita, Cita berapa lama lagi matamu akan mencair di mataku?" Tetapi selalu saja ada yang cemburu,  mungkin kau sedang memandang gaun hitam, untuk ke pemakaman. menghidangkan sendok, piring, dan garpu di meja yang berisikan menu-menu: tentang bagaimana caranya membuat airmata dari kelopak matamu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Aku Merindukanmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung bagaimana mengungkapkan rindu mungkin rindu seperti rumah tua yang tak dijaga di mana laba-laba dan kecoa bebas bersarang memanggil kenang lampau yang enggan hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin pula rindu adalah telepon genggamku yang kunanti berdering sendiri---memanggilku untuk sekedar melihat namamu dalam daftar nomor kontakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Aku Ingin Kau Baik-Baik Saja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sedang mendengarkan lagu picisan yang mengumbar keinginan klasik dalam rayuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam, aku ingin membacakan dongeng untukmu, kemudian kunyalakan api di perapian, agar kehangatan terus bersarang di senyummu&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;4. Aku Sayang Kamu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selalu lucu, jika aku bilang sayang, dan kau minta pembuktianku perlukah kita ke pengadilan, mengajukan bukti dan saksi di persidangan untuk sekadar menunjukkan rasa sayangku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Aku Mencintaimu (Dengan Sederhana)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku ingat pelajaran kalkulus, dan statistika distribusi poison, bernoulli, soal-soal integral lipat tiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku tidak ingin mencintaimu serumit itu. Aku ingin mencintaimu saja, apa adanya seperti sebuah kertas yang kaulipat kemudian kauterbangkan bersama harapan lain yang ingin kautitipkan padaku.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-6081227000697916139?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/6081227000697916139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/hal-hal-yang-ingin-ku-ungkapkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/6081227000697916139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/6081227000697916139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/hal-hal-yang-ingin-ku-ungkapkan.html' title='Hal-Hal Yang Ingin Ku Ungkapkan Kepadamu'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-6448404805288333140</id><published>2011-10-23T18:15:00.000+07:00</published><updated>2011-10-23T18:15:28.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Yang Ku Inginkan Darimu</title><content type='html'>Aku ingin melihat senyummu,&lt;br /&gt;agar kutahu kau benar-benar mengagumiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin melihat sedihmu,&lt;br /&gt;agar kutahu kau benar-benar merindukanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin melihat diammu,&lt;br /&gt;agar kutahu kau benar-benar merasakan kehadiranku&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Aku ingin melihat marahmu,&lt;br /&gt;agar kutahu kau benar-benar mengkhawatirkanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku ingin kau tahu,&lt;br /&gt;rasa cinta di hatiku membuatku tersenyum,&lt;br /&gt;bersedih, marah dan terdiam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetaplah disampingku,&lt;br /&gt;agar kau benar-benar tahu&lt;br /&gt;aku bahagia bersamamu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-6448404805288333140?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/6448404805288333140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/yang-ku-inginkan-darimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/6448404805288333140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/6448404805288333140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/yang-ku-inginkan-darimu.html' title='Yang Ku Inginkan Darimu'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1500409432932129735</id><published>2011-10-23T18:02:00.002+07:00</published><updated>2011-10-23T18:13:51.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Awal Paragraf (Curhatan Penulis)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Puisi ini merupakan curahan perasaan yang dirasakan oleh penulis saat ini, ketika sedang berusaha menyelesaikan skripsi. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal paragraf adalah bait terindah pada awal bulan ini&lt;br /&gt;Formulasi kata yang tak bisa dipecahkah beribu pujangga&lt;br /&gt;Figuratif setiap ucap yang tertuang dalam pinta&lt;br /&gt;Resonansi mengalun merdu setiap simpuh &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Intisari desah nafas yang tak lelah kita helat&lt;br /&gt;Lingkar masa menggema dalam lembaran lalu bertajuk kenangan, kisah ataupun sejarah&lt;br /&gt;Isyarat dari sang maha melaui janjinya dalam “demi masa”&lt;br /&gt;Agung dan syahdu tepat di saat purnama tandai hari jadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan qalbu tak henti berujar ihwal imaji lusuh tak tergenggam&lt;br /&gt;Tasyakur serupa syair yang melebur tidak menjadi cita dan jika untuk sebuah janji&lt;br /&gt;Awal paling indah dalam symfoni sebuah kisah, kembali&lt;br /&gt;Mengisi paragraf paragraf selanjutnya&lt;br /&gt;Intuisi melankolik yang tertinggal, mengharap segala bahagia yang kelak tercipta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1500409432932129735?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1500409432932129735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/awal-paragraf-curhat-penulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1500409432932129735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1500409432932129735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/awal-paragraf-curhat-penulis.html' title='Awal Paragraf (Curhatan Penulis)'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-8003646704400324570</id><published>2011-10-22T13:28:00.001+07:00</published><updated>2011-10-22T13:40:21.398+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Ironisme Sebuah Badan Kemahasiswaan (Curhatan Penulis)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini sekedar curhatan terkait dengan kondisi badan kemahasiswaan kampus yang saat ini semakin kurang mampu membentuk karakter sebenarnya seorang mahasiswa, sebagai seseorang yang ‘katanya’ memiliki daya intelektualitas yang diatas rata-rata. Yaa...keberadaan Badan Kemasiswaan yang ada di tingkat fakultas dan universitas dianggap tidak mampu menjalan peranannya sebagai lembaga yang mampu untuk menggerakan mahasiswa ke arah yang lebih maju dan mampu membuat perubahan pada diri pribadi yang peduli akan ilmu pengetahuan. Tapi pada kenyataannya badan-badan seperti hanya disebut sebagai sebuah organisasi pembuat acara saja, alias Event Organizer. &lt;span class="fullpost"&gt;  Kondisi ini tentu bukan sebuah harapan yang diinginkan, sebagai seorang mahasiswa seharusnya mampu menaruh dan memberikan perhatian lebih akan perkembangan khasanah ilmu pengetahuan baik yang bersifat akademis maupun non-akademis. Sungguh di sayangkan setiap kegiatan yang diadakan oleh badan kemahasiswaan terutama di kampus ‘kuning’ saya tercinta, hanya terkesan sebagai sebuah kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya menjadi topeng penutup untuk menegaskan eksistensi keberadaan akan badan kemahasiswaan kampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan yang dilakukan terjadi dengan mengalir begitu saja tanpa adanya sebuah proses pemahaman mendalam terkait dengan esensi serta signifikansi dari kegiatan ataupun acara yang akan diselenggarakan. Kegiatan yang dilaksanakan bahkan sering dianggap tidak memiliki dasar serta konsep yang jelas, kesan hanya pengadaan acara saja yang dikaitkan dengan program kerja (biasanya disebut proker) yang udah disusun sebelumnya. Dengan kata lain, acara dilaksanakan bukan berangkat dari program kerja, tetapi program kerja lah yang secara fleksibel menyesuaikan dengan acara yang diadakan. Dengan demikian, pantas saja bahwa organisasi kemahasiswaan ‘nomor wahid’ di kampus ini direndahkan martabatnya dengan gelar ‘EO kampus berjaket kuning’. Yaa, dari penjabaran diatas mengkerucutkan saya pada sebuah hipotesa bahwa hal ini merupakan WARNING!!! bagi kita semuanya (termasuk saya sendiri) bahwa aksi-aksi dari mahasiswa kita pada masa sekarang ini sedang berada di dalam kebuntuan. Mengapa penulis berhipotesa demikian? Ya, memang pada kenyataannya bahwa setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan, umumnya, hanya sekadar menjadi suatu aksi ‘puncak’. Acara ‘puncak’ ini merupakan hari H atau hari waktu pelaksanaan kegiatan tersebut seakan-akan menjadi puncak gunung besar, puncak dari rencana-rencana yang telah disusun dalam program kerja. Setelah acara selesai dilaksanakan tidak ada kelanjutannya...(Nahloh!!!). Kegiatan yang dilakukan oleh anggota-anggota badan kemahasiswaan itu hanya menjadi ‘puncak’ dari sebuah proses penyusunan rencana dalam program kerja atau malah ga ada di dalam proker, melainkan cuma berupa puncak dari proses penyusunan kegiatan dalam kepanitiaan yang telah dibentuk (yang terkadang pembentukan panitianya ini pun dilihat tidak memperhatikan kualitas setiap individu  namun dari kuantitas individu yang masuk sebagai panitia, asas semakin besar jumlahn panitianya semakin baikpun menjadi pilihan). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8Ft-Yh1_Qp0/TqJlLYu7n_I/AAAAAAAAAQ8/gsNZE2Vb1i8/s1600/1422193620X310.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://1.bp.blogspot.com/-8Ft-Yh1_Qp0/TqJlLYu7n_I/AAAAAAAAAQ8/gsNZE2Vb1i8/s320/1422193620X310.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang terkadi seperti ini menjadikan nggak adanya proses pemahaman akan seberapa PENTING sebuah kegiatan itu diadakan. Tidak ada proses pengkajian dan pendalaman materi dan substansi dari kegiatan, yang kemudian menyebabkan pelaksanaan hari H-nya itu tidak memberikan kepuasan kepada kelompok-kelompok yang suka mengkritik (orang-orang iseng, seperti halnya saya sendiri namun diharapkan dari adanya orang-orang seperti ini akan menjadi masukan untuk membuat kegiatan yang lebih bermutu). Proses ini semestinya dilakukan pada awal saat pembentukan atau pengodokkan kegiatan dan dilakukan evaluasi setelah kegiatan selesai dilaksanakan. Karena proses awal yang kurang baik ini, efeknya langsung berdampak pada tidak adanya keberlanjutan atau aksi susulan dari kegiatan yang telah dilakukan, padahal aksi-aksi susulan itu amatlah penting untuk meneruskan (menyempurnakan) visi awal dari kegiatan yang dimaksud sebagai suatu usaha untuk menegaskan bahwa kepentingan atau signifikansi dari kegiatan itu dapat dicapai dengan baik. Namun, pada kenyataannya di kampus ‘kuning’ saya ini, kegiatan seperti festival hanya sekedar menjadi sebuah acara festival yang bersifat sesaat pada hari festival itu dilaksanakan, kegiatan seminar dan diskusi hanya mejadi kegiatan diskusi (sesaat) ketika diskusi itu dilaksankan; aksi demonstrasi hanya sekadar menjadi kegiatan dramatisasi jalan-jalan (sesaat) di jalan raya dan menyebabkan kemacetan; acara-acara seni budaya dan olahraga pun ujung-ujungnya juga sekadar menjadi ajang atau lahan tanding untuk memperlihatkan kekuatan masing-masing jurusan yang berdampak kepada mengerucutnya orang-orang yang unggul dan berprestasi karena yang lainnya ‘dilibas’ (dengan kata lain ‘mahasiswa secara umum’ perlahan mati karena yang juara dan menang atau yang tampil ke panggung, ‘yang menonjol’, hanya yang itu-itu saja). Setiap kegiatan yang dilaksanakan hanya menjadi ajang penegasan ‘kita aktif sebagai mahasiswa’ atau ‘kita memberikan kontribusi’, bukan sebagai ‘gerakan mahasiswa yang mencerdaskan’. Kalaupun mau dikatakan bahwa setiap kegiatan itu merupakan suatu usaha untuk belajar, ya, bisa saja kita katakan demikian: belajar membuat acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pihak yang dituding masih berkilah bahwa setiap kegiatan memiliki aksi-aksi susulan, boleh lah saya menyebutkan beberapa usaha-usaha aksi susulan itu. Pertama, dokumentasi foto, yang lebih banyak berisikan pose narsis dari panitia, dan kemudian diunggah ke facebook lalu di tag ke teman-teman panitia yang lainnya. Dalam hal pendokumentasian ini, tidak banyak yang bisa dikategorikan sebagai arsip penting sebagai sejarah aksi mahasiswa di dalam kampus dalam melakukan kegiatan. Kedua adalah pembuatan laporan kegiatan yang umumya dikebut dalam beberapa hari sebagai beban tugas pertanggungjawaban. Bayangkan saja!!!, suatu kegiatan telah dilaksanakan pada awal-awal atau pertengahan tahun, tetapi laporan kegiatan baru dibuat di akhir tahun sebelum berakhirnya masa jabatan ‘ajang menyibukkan diri di akhir tahun’. Ketiga, dan ini sesungguhnya tidak pantas dikatakan sebagai aksi susulan, adalah melaksanakan kegiatan tersebut sebagai apresiasi tradisi kepengurusan sebelumnya (dengan kata lain: mengulangi kegiatan. Dengan alasan: acara tahunan atau program kerja turun-temurun badan kemahasiswaan). Sebenarnya bisa saja dikatakan sebagai aksi susulan yang baik kalau misalnya acara (kegiatan) yang telah dilaksanakan di tahun sebelumnya itu diadakan kembali di tahun berikutnya dengan kemasan yang berbeda, eksplorasi ide yang baik, dan tidak memberikan kebosanan kemonotonan bagi semua warga kampus (dalam kalimat lain: ada progress yang baik dan meningkat dari kegiatan tersebut dan memiliki dampak yang nyata bagi semua kalangan berupa majunya pola pikir dan pemahaman masing-masing mahasiswa terhadap isu-isu latar belakang masalah yang menyebabkan dilaksanakannya kegiatan tersebut). Yang lebih mengherankan adalah, di akhir tahun masa aktif, diadakan pula kegiatan lain berupa ‘pesta’, sebagai perayaan berakhirnya masa aktif anggota-anggota Badan Kemahasiswaan tersebut, dan dengan bangga pula menyatakan telah melakukan sesuatu yang berarti, padahal sesuatu yang dikatakan berarti itu hanyalah berupa kegiatan-kegiatan tanpa konsep, yang diadakan dalam bentuk tontonan dan acara hiburan semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masalah Sebenarnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat bahwa tidak semua kegiatan bersifat demikian, karena saya juga pernah merasakan melakukan hal-hal seperti itu dan akhirnya menyadari bahwa hal yang saya lakukan tersebut tidak terlalu membawa dampak yang berarti bagi diri saya. Pada kenyataannya, ada pula kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Badan Kemahasiswaan yang memang bertujuan memberikan edukasi atau usaha ‘pertolongan’ bagi masyarakat, seperti kepedulian panitia terhadap pilkada, bedah kampus, bantuan bencana, dan sebagainya. Namun, sekali lagi saya berhadapan pada kenyataan bahwa aksi-aksi seperti itu berhenti di saat itu saja. Ketika penyuluhan kepada masyarakat tentang apa itu pilkada telah usai, ya usailah dia, paling-paling kemungkinan akan diulangi kegiatan itu di tahun depan ataupun pada masa pilkada akan dilaksanakan kembali (lagi-lagi memberikan penyuluhan serupa, padahal masyarakat sudah mendapatkannya di tahun sebelumnya). Begitu juga dengan aksi-aksi penyuluhan lainnya. Dengan demkian, kembali kita pada kesimpulan bahwa semua itu hanya menjadi ‘acara’ saja, sekadar acara. Untuk kegiatan-kegiatan seminar yang dilakukan, mungkin ini menjadi argumen simpanan bagi pihak yang dituding untuk membela diri. Nah, sekarang saya mempertanyakan beberapa hal akan kegiatan yang dilakukan tersebut: apakah setiap seminar yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa di kampus ada memiliki arsip tulisan (notulensi) pembahasan yang dilakukan dalam tulisan? Jika ada, apakah kesimpulan dari seminar itu telah dilakukan atau direalisasikan dalam kehidupan? Kalau iya, apakah telah dilakukan pengkajian mendalam atau riset lanjutan untuk menemukan permasalahan-permasalahan baru atau solusi konkret terhadap isu-isu yang dikaji tersebut? Kalau boleh saya menebak dengan arogan, kemungkinan hanya menulis di note facebook, penerbitan buletin yang isinya hanya berupa reportase kegiatan atau sedikit tulisan artikel yang mendalam, atau lebih parah hanya rencana untuk turun ke jalan. Apakah ada karya ilmiah atau karya akademis dari mahasiswa (panitia) sendiri yang membahas tentang kegiatan-kegiatan seminar yang dilaksankaan itu beserta pembahasan isu-isunya? Sudah berapa banyak buku atau dokumentasi yang baik telah dihasilkan oleh para aktivis kita sekarang ini, yang terlibat dalam pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan-kegiatan itu, terkait dengan program kegiatan beserta isu-isunya? Paling-paling hanya blog atau website, yang jika dibuka hanya berisikan informasi jadwal sebagai bentuk usaha publikasi. Bukan sebagai usaha penyebaran informasi melalui media dengan tujuan kepentingan edukasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Badan Kemahasiswaan Yang Diharapkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah merupakan badan eksekutif dalam sebuah negara. Ada banyak tuntutan kepada pemerintah agar dapat memberikan pendidikan kepada seluruh anak bangsa supaya negara menjadi maju. Yang paling gencar meneriakkan tuntutan ini adalah kalangan intelektual, termasuk mahasiswa. Begitupun dengan Badan Kemahasiswaan yang merupakan badan eksekutif di kampus yang pada dasarnya memiliki peran yang sama persis dengan pemerintah, yakni harus memenuhi aspirasi dari rakyat kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa tuntutan akan edukasi adalah kebutuhan pokok bagi setiap kalangan. Atas dasar itu lah, bisa pula kita tarik keseimpulan bahwa para mahasiswa sebagai rakyat di lingkungan kampus memiliki tuntutan yang sama dengan rakyat di lingkungan bangsa dan negara: butuh gerakan pencerdasan! Dan Badan Kemahasiswaan yang baik harus dapat memenuhi aspirasi anggotanya ini. Setiap program kerja harus memiliki visi untuk pengembangan diri setiap mahasiswa, harus memiliki unsur untuk belajar (dalam arti yang sebenarnya), harus berupa suatu aksi untuk maju ke depan: untuk bergerak! Dengan kata lain, kalau misalnya tidak bisa dielakkan kenyataan bahwa Badan Kemahasiswaan memang terlahir untuk mengadakan acara-acara, maka setiap kegiatan atau acara yang dilaksanakan oleh badan eksekutif harus memiliki tujuan edukatif dan sebagai ruang atau lahan untuk studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bagaimana agar supaya setiap kegiatan atau acara itu menjadi lahan dan ruang untuk edukasi? Ya, hal kongkret dan jelas, lakukanlah kegiatan yang memiliki konsep, dan memiliki aksi-aksi susulan yang berkelanjutan. Contoh yang dapat saya berikan adalah melakukan kegiatan atau acara yang memang membuka ruang seluas-luasnya untuk belajar dan mengembangkan diri. Sudah semestinya Badan Kemahasiswaan membuat suatu acara yang memiliki program pengkajian, bukan acara tontonan belaka. Program kerja yang memang memberikan jawaban terhadap isu-isu yang diangkat, bukan malah menjadikan isu-isu itu sebagai pembenaran untuk diadakannya acara hiburan semata. Ingin mengadakan acara seni budaya, pahamilah terlebih dahulu apa seni budaya itu dengan melakukan berbagai diskusi mendalam, riset mendalam, dan pengejawantahan usaha penkajian itu dalam sebuah acara yang memang berisi. Lalu selanjutnya lakukan pengarsipan dan pendokumentasian yang baik, yang nantinya memang bisa menjadi bahan koreksi, bahan bahasan, bahan kajian selanjutnya. Begitu juga dengan acara-acara dan kegiatan lainnya. Lakukan kegiatan dengan wacana yang memang memberangkatkan kita semua (mahasiswa) kepada pemahaman tentang isu yang ada. Visi dan misi pencerdasan tidak boleh berhenti atau selesai pada acara hari H dilaksanakan, tetapi semestinya memiliki aksi selanjutnya untuk mencampai kesempurnaan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terwujudnya tuntutan ini lah yang nantinya akan dapat menjawab “Apa dan bagaimana Badan Kemahasiswaan kampus ?” yang dapat menjelaskan state of the art yang telah dimiliki oleh Badan Kemahasiswaan kampus.  Kalau tidak demikian, selalu saja melakukan kegiatan dan mengadakan acara tanpa konsep, tanpa pengkajian, tanpa aksi susulan berkelanjutan (berhenti dan selesai di sebuah acara belaka), berbahgialah menyandang gelar sebagai Event Organizer-nya kampus yang berbasis pada mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-8003646704400324570?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/8003646704400324570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/ironisme-sebuah-badan-kemahasiswaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8003646704400324570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8003646704400324570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/ironisme-sebuah-badan-kemahasiswaan.html' title='Ironisme Sebuah Badan Kemahasiswaan (Curhatan Penulis)'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8Ft-Yh1_Qp0/TqJlLYu7n_I/AAAAAAAAAQ8/gsNZE2Vb1i8/s72-c/1422193620X310.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-6690851005053641902</id><published>2011-10-22T13:24:00.001+07:00</published><updated>2011-10-22T13:44:32.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Strategi Pemberantasan Korupsi : Sebuah Refleksi</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia di hebohkan dengan kasus korupsi yang semakin banyak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat di pemerintahan sana. Tidak tanggung-tanggung korupsi yang mereka lakukan bukan hanya korupsi uang yang jumlahnya miliaran hingga triliunan rupiah, namun juga korupsi akan kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para wakil rakyat –yang katanya terhormat, namun tidak pernah menghormati rakyat yang memilihnya- merupakan sebuah implikasi dari berbagai permasalahan yang akut di negara ini. Mulai dari krisis kepemimpinan, hingga membentuk krisis kepercayaan telah menjadi pekerjaan rumah yang tidak kunjung terselesaikan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Apakah benar ada keseriusan dalam upaya pemberantasan korupsi yang dari awal di kumandangkan di negeri ini??Alih-alih korupsi menyusut, malahan yang terjadi justru peningkatan yang bisa dikatakan besar. Menariknya, kecenderungan itu terjadi di era reformasi dewasa ini, dimana gelombang tuntutan transparansi dan pertanggungjawaban pejabat publik semakin mengemuka. Sebagai seorang mahasiswa saya melihat persoalan ini disebabkan oleh belum menyeluruhnya identifikasi masalah korupsi di Indonesia, namun buru-buru bereksperimen mencari metode pemberantasannya. Ibarat orang sakit, diagnosis penyebab sakitnya belum diketahui namun sudah dilakukan terapi sehingga beresiko pada kondisi pasien yang justru menjadi semakin memburuk. Apabila dilihat, setidaknya ada dua aspek utama yang menjadi pendorong korupsi di Indonesia yaitu dimensi struktural maupun kultural.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari dimensi struktural, hal ini antara lain disebabkan oleh pertama besarnya peluang yang diciptakan untuk melakukan mark-up kalangan pejabat birokrasi maupun BUMN. Peluang itu biasanya tercipta karena lemahnya monitoring maupun longgarnya prosedur pengeluaran anggaran. Kedua, adanya tradisi untuk memberikan upeti bagi mereka yang menginginkan jabatan di posisi penting birokrasi dan BUMN. Setoran biasanya diberikan kepada orang-orang yang berada di lingkarang pengambilan keputusan. Akibatnya, begitu mereka benar-benar menduduki jabatannya, mereka ingin “mencari pengganti yang lebih banyak” dengan berbagai cara. Ketiga, para pejabat sektor publik mungkin mendapatkan insentif yang kecil untuk melakukan pekerjaannya secara baik dan karenanya “uang amplop” dijadikan sebagai pendapatan bonus. Keempat, perusahaan swasta dan individu berupaya mengurangi biaya yang di bebankan pada mereka oleh pemerintah -seperti pajak, bea dan cukai- dengan melakukan suap kepada petugas maka dapat memperkecil biaya-biaya yang seharusnya dibayar kepada pemerintah. Kelima, pemerintah memberikan kemudahan keuangan maupun failitas yang sangat besar pada pengusaha melalui proteksi, pelelangan, privatisasi, dan pemberian konsensi. Keenam, di Indonesia uang terkadang dapat mengganti bentuk hukum. (seperti dalam kasus pelanggaran lalu lintas)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selain itu di samping aspek permasalahan struktural, terdapat permasalahan budaya atau sikap mental di sebagian masyarakat dengan orientasi kekuasaan dipergunakan untuk menumpuk kekayaan dengan jalan pintas. Kesenjangan sosial dan kekuasaan yang cukup lebar dalam struktur masyarakat kita, dipahami turut menyuburkan hubungan patron-klien yang pada gilirannya memberi kontribusi besar bagi langgengnya budaya korupsi di masyarakat. Masyarakat harus menemukan pengayom dan menyediakan uang pelicin untuk mendapatkan pelayanan publik yang baik. Pegawai negeri sipil maupun BUMN harus pandai mengumpulkan uang demi kenaikan pangkat mereka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-G8mScv19ICs/TqJlSI-4m9I/AAAAAAAAARE/Y6XJCME70MY/s1600/tikus_korupsi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-G8mScv19ICs/TqJlSI-4m9I/AAAAAAAAARE/Y6XJCME70MY/s1600/tikus_korupsi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari dua pandangan tersebut telah memperlihatkan betapa kompleksnya penyebab kebocoran uang bangsa ini. Sementara penanganannya lebih banyak bersifat formalitas, seperti pembentukan KPK maupun sejenisnya. Meski, dalam batas tertentu lembaga ini telah memberikan sebuah harapan pemberantasan korupsi di negara ini. Namun, dalam praktiknya lembaga-lembaga bentukan di atas lebih banyak bersifat collecting data para koruptor. Dapat dipahami bahwa selama ini pemberantasan korupsi di Indonesia kurang efektif. Karena, selama ini pendekatan yang dipergunakan masih bersifat parsial. Padahal, penaganan yang diperlukan adalah pendekatan multidimensional. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam rangka pemberantasan korupsi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Penegakan Hukum (Law Enforcement)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebuah kondisi dasar di dalam pengendalian korupsi adalah adanya suatu kerangka hukum nyata yang menegakkan hukum tanpa campur tangan politik. Tujuan dari hal ini adalah untuk menghindari konflik kepentingan dan intervensi kekuasaan terhadap proses hukum. Banyak negara dengan tingkat korupsi yang tinggi memiliki status hukum formal yang baik, namun tidak punya arti nyata karena hukum tersebut jarang ditegakkan. Negara yang serius melakukan reformasi seharusnya mempunyai penyelidikan yang efektif dan badan peradilan serta sistem peradilan yang independen. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Disini reformasi peradilan lebih diperlukan dibandingkan sekedar perubahan personalia, dengan tidak adanya perubahan kondisi yang mendasar. Perubahan dilakukan pada aspek pertama, peningkatan kesejahteraan untuk para hakim dan personalia pendukungnya. Kedua, adanya pemberian informasi atas penundaan dan penghentian persidangan atas suatu kasus dan Hakim yang terlibat dan di umumkan pada masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Peradilan mempunyai peranan yang sangat penting sekali tidak hanya dalam menangani kasus korupsi yang dibawa oleh penguasa negara, namun juga membantu masyarakat memeriksa tindakan negara. Di negara dimana peradilan cenderung independen, dalam proses penegakkan hukum masyarakat bisa mendesak pihak eksekutif untuk mematuhi hukum yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Reformasi Birokrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kebanyakan negara berkembang membayar pegawai negeri sangat murah. Para pejabat menambah penghasilan mereka dengan pekerjaan tambahan atau dari hasil suap. Studi terakhir telah menemukan suatu hubungan yang bersifat ekuivalen antara gaji pegawai negeri dan tingkat korupsi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Reformasi pegawai negeri biasanya memerlukan suatu usaha yang berkelanjutan, khususnya kalau korupsi telah mengakar dan sistemik. Jika para pegawai negeri digaji kecil, maka hanya semua orang yang mau menerima suap yang tertarik bekerja di sektor publik. Pembayaran pegawai negeri harus disesuaikan sekurang-kurangnya seimbang dengan posisi yang sama di sektor swasta. Sistem rekrutmen dibuat transparan dan dengan mekanisme dan kriteria yang jelas. Selain itu harus ada sistem monitoring yang efektif dan suatu sistem pengaduan masyarakat. Penting untuk menghindari pemberian kekuasaan monopoli pada birokrat sehingga dapat mereka gunakan untuk korupsi yang lebih besar. Kebebasan informasi adalah suatu prakondisi untuk upaya antikorupsi. Undang-undang kebebasan memperoleh informasi di Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Eropa, membuat birokrasi menjadi transparan dan memberikan akses yang luas kepada publik. Undang-undang ini mengizinkan masyarakat untuk meminta informasi, tanpa adanya pembatasan yang tidak perlu dari pejabat publik. Pemasyarakatan suatu undang-undang, peraturan ataupun kebijakan publik melalui media merupakan pilihan yang penting. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Membangkitkan keberanian masyarakat mengingat kondisi yang berkembang saat ini, memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai masalah penyelewengan kekuasaan atau kewenangan yang berbentuk korupsi, kolusi dan nepotisme, meskipun belum tampak dilakukannya penanganan yang serius oleh pemerintah, akan tetapi telah membuka jalan ke arah masalah yang sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kondisi yang mendukung upaya untuk mencari solusi secara tuntas terhadap masalah besar telah tersedia. Masyarakat tidak lagi menabukan membuka borok, bahkan kalau itu menyangkut unsur penegak hukum, sebagaimana kita lihat dalam kasus-kasus yang diberitakan di media beberapa tahun terakhir. Transparansi semakin menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar, masyarakat semakin tergugah untuk menuntut keadilan. Masyarakat semakin memiliki keberanian untuk mengungkapkan masalah-masalah yang semula hanya menjadi bahan gunjingan, meskipun dalam berbagai kasus justru pelapor yang menjadi korban ketidak-adilan. Semua ini tidak boleh disia-siakan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Akan tetapi, jangan juga terjadi bahwa suasana yang membaik untuk penuntasan masalah ini diselewengkan oleh mereka yang ingin membuat sensasi atau mencari keuntungan diri sendiri saja. Mengungkapkan borok bukan untuk membongkar kejahatan atau mencari keadilan akan tetapi untuk memperoleh manfaat pribadi, dari melindungi diri sendiri sampai melakukan pemerasan atau membuka borok hanya karena tidak ikut kebagian/ menikmati sesuatu keuntungan yang tidak halal. Dengan demikian, sasaran yang sebenarnya, memberantas penyelewengan, penyalah-gunaan kewenangan atau kekuasanaan, korupsi dan sebagainya demi tegaknya keadilan tetap tidak tercapai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Sanksi Sosial&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam keadaan masih lemahnya tradisi atau budaya disiplin dan patuh hukum dari masyarakat, apalagi penegak hukum, apa yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya penyelesaian masalah-masalah penyelewengan dan kecurangan dalam praktek KKN? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rasanya memang tidak banyak. Akan tetapi, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan, apalagi berputus asa. Mengingat masih lemahnya unsur-unsur penegak hukum di Indonesia, sambil menunggu proses penguatan, masyarakat masih dapat menyumbangkan kontribusinya dalam upaya pemberantasan korupsi dan masalah yang terkait. Jalan itu adalah cara-cara pemberian sanksi sosial yang biasa dilakukan oleh masyarakat dalam menyikapi seseorang yang dianggap melanggar norma atau kepatutan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Bagaimana sanksi sosial ini dilaksanakan? Banyak cara yang tersedia di masyarakat, tinggal apakah kita bersedia memanfaatkannya atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tampak ada kecenderungan di masyarakat bahwa kalau seseorang dituduh melakukan tindakan penyelewengan, misalnya, korupsi atau mempraktekkan KKN, maka jawaban yang sering diajukan adalah 'orang lain juga melakukan hal yang sama' atau 'si A dan si B malah lebih buruk dari saya'. Ini jelas harus dihentikan, karena argumen tersebut sebenarnya mengatakan bahwa dia mengakui apa yang dituduhkan, tetapi karena tidak sendirian, jangan hanya dirinya yang diberi sanksi. Memang keadilan menuntut agar semua yang bersalah harus dikenakan hukuman dan yang tidak bersalah dibebaskan. Kalau seorang dikenal sebagai koruptor (memang belum tentu benar, tetapi masyarakat harus dapat menilai secara benar) maka orang-orang yang berhubungan dengan dia, teman dekat dan jauh harus mulai memboikot untuk 'mengucilkan' yang bersangkutan agar yang bersangkutan merasakan sanksi tersebut Masyarakat dapat melakukan protes secara pasif ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setiap ada undangan dari yang korup ini, tetap juga orang ini hadir, ikut menyambut dengan gembira. Ini harus dihentikan. Orang perlu memboikot acara-acara, seperti pesta ulang tahun, aatau perkawinan, bahkan undangan doa yang lebih bersifat pesta yang diselenggarakan oleh orang yang kita curigai sebagai koruptor. Kalau kita mengutuk tetapi hadir dalam pesta-pesta ini ya kita ini munafik. Jika banyak orang berani melakukan hal ini, maka hal ini akan membawa dampak yang positif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selama hukum kita belum dapat benar-benar melindungi semua orang secara adil, selama hukum masih bisa dibelokkan untuk kepentingan yang berkuasa atau kelompoknya atau yang mampu dan bersedia membayar, maka sanksi sosial ini perlu kita terapkan sehingga orang akan merasakannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sosialisasi Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pembelajaran mengenai korupsi harus dimulai sejak seseorang berada di dalam lingkup paling dasar yaitu keluarga. Maka dari itu sosialisasi serta pengetahuan yang di informasikan melalui unit paling kecil di dalam masyarakat ini, akan memberikan sebuah pembelajaran bagi generasi-generasi masa depan. Dengan adanya kontrol serta pengawasan yang ketat sejak kecil tentunya seorang anak akan tidak akan terbiasa dengan tindakan-tindakan yang menyimpang tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila hal-hal tersebut diatas dapat berjalan dengan efektif agaknya terciptanya clean government akan mendekati kenyataan. Dan, praktik korupsi di Indonessia bisa ditekan ke tingkat minimal. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-6690851005053641902?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/6690851005053641902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/strategi-pemberantasan-korupsi-sebuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/6690851005053641902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/6690851005053641902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/10/strategi-pemberantasan-korupsi-sebuah.html' title='Strategi Pemberantasan Korupsi : Sebuah Refleksi'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-G8mScv19ICs/TqJlSI-4m9I/AAAAAAAAARE/Y6XJCME70MY/s72-c/tikus_korupsi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1573191138966491316</id><published>2011-04-05T20:35:00.001+07:00</published><updated>2011-04-05T20:39:24.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Sosiologi'/><title type='text'>Pengantar Sosiologi IV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Bab IV&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Struktur Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tMZEbMRMs7M/TZsZxtPLotI/AAAAAAAAAP8/41iquiqiz3E/s1600/035535b2.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-tMZEbMRMs7M/TZsZxtPLotI/AAAAAAAAAP8/41iquiqiz3E/s320/035535b2.gif" width="258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Struktur sosial merupakan “tatanan” atau “jalinan” pokok yang membentuk suatu masyarakat. Dalam ranah sosiologi, terdapat dua bentuk struktur sosial, atau, dengan kata lain terdapat dua hal yang turut andil dalam proses pembentukan suatu masyarakat yakni diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial. Hal tersebut akan dibahas lebih jauh dalam pemaparan berikut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diferensiasi Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diferensiasi sosial merupakan pembedaan masyarakat secara horizontal. Istilah “horizontal” sebagaimana dimaksudkan di sini adalah “secara merata”, dan “bukannya berjenjang” (atas-bawah). Hal tersebut dapat dimisalkan dengan suku, ras dan agama (SARA) berikut mata pencaharian. Diferensiasi sosial sebagai pembedaan masyarakat secara horizontal, lebih menekankan aspek premis (argumen) universal bahwa setiap individu memiliki harkat dan martabat serta kedudukan yang sama antara satu sama lain. Argumen tersebut secara tidak langsung menyiratkan perihal persamaan derajat manusia di hadapan Tuhan. Bentuk-bentuk diferensiasi sosial dapat dimisalkan dengan beberapa contoh berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Si A beragama Islam, Si B beragama Kristen, Si C Katolik, Si D Hindhu dan Si E beragama Budha.&lt;br /&gt;* Si A bekerja sebagai dosen, Si B bekerja sebagai guru dan Si C bekerja sebagai sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah diferensiasi sosial, berbagai hal di atas dilihat secara merata, tak ada jenjang yang membedakannya satu sama lain.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Stratifikasi Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berkebalikan dengan diferensiasi sosial, stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat secara vertikal. Istilah “vertikal” yang dimaksudkan di sini adalah “berjenjang”, “hierarkis” atau “bersusun atas-bawah”. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan “status” dan “peran” yang ada pada tiap-tiap individu dalam masyarakat. Status adalah “sesuatu yang melekat pada diri individu”, secara sederhana kerap diistilahkan dengan “jabatan” atau “kedudukan”. Sedang, peran dapat didefinisikan sebagai “sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh individu sebagai konsekuensi atas status yang melekat padanya”, secara sederhana, peran dapat dikatakan sebagai “fungsi” dari individu dengan melihat status sosial yang dimilikinya. Stratifikasi sosial sebagai pembedaan masyarakat secara berjenjang dapat dicontohkan melalui beberapa ilustrasi berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ditemuinya jabatan Ketua RT dan RW dalam masyarakat. &lt;br /&gt;* Konsep penggolongan jabatan dalam Pegawai Negeri Sipil (PNS).&lt;br /&gt;* Sistem kepangkatan dalam militer yang membedakan antara kopral, sersan dengan jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatlah dilihat bahwa berbagai contoh stratifikasi sosial di atas tersusun berdasarkan jenjang-jenjang hierarkis tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Menarik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Emile Durkheim mengatakan bahwa status dan peran yang melekat pada individu bersifat ajeg, ketat dan mengikat (baca: saklek). Pada perkembangannya kemudian, pemikiran tersebut direvisi oleh Peter M. Blau di mana menurutnya status yang melekat pada individu tidaklah saklek, melainkan “fleksibel”, artinya berubah-ubah menyesuaikan dimana individu tersebut berada. Sebagai misal, orang kepercayaan Adolf Hitler bernama Himmler, bagi orang Yahudi, Himmler adalah sosok yang bengis dan kejam, namun bagi keluarga dan anak-anaknya, Himmler adalah sosok yang pengasih dan penyayang. Hal tersebut membuktikan bagaimana status dan peran individu berubah-ubah menyesuaikan situasi dan kondisi dimana ia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Terbentuknya Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Baik diferensiasi maupun stratifikasi sosial terbentuk oleh dua faktor, yakni faktor yang disengaja maupun tak disengaja. Faktor disengaja terkait erat dengan kondisi atau konsep pembangunan berikut bentuk pemerintahan yang dipilih oleh penguasa, dengan demikian hal tersebut berupa konstruksi atau bentukan pemerintah itu sendiri. Di satu sisi, faktor yang disengaja diakibatkan pula oleh individu terkait, semisal motivasi untuk maju, need of achievement (kebutuhan akan penghargaan), semangat berprestasi dan lain sebagainya. Sedang, faktor tak disengaja lebih diakibatkan oleh kodrat atau ketentuan sebagaimana adanya. Berbagai hal di atas akan dijabarkan lebih lanjut berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Faktor Disengaja&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diferensiasi sosial akibat faktor yang disengaja dapat dicontohkan dengan suatu negara yang lebih memilih konsep pembangunan negara-negara maju sehingga sebagian besar penduduknya bekerja di sektor perindustrian dan hanya sebagian kecil saja yang bekerja di sektor agraris. Hal tersebut akan berbeda halnya apabila negara terkait lebih memilih konsep pembangunan agraris di mana nantinya sebagian besar penduduk bermata pencaharian pada sektor pertanian, sedangkan sebagian kecil lainnya bekerja di sektor perindustrian. Dalam hal ini, perbedaan mata pencaharian yang terjadi pada masing-masing masyarakat tersebut merupakan diferensiasi sosial. Namun demikian, diferensiasi sosial dapat pula diakibatkan oleh individu terkait. Hal tersebut dapat dicontohkan dengan Si A yang lebih memilih menjadi seorang wirausahawan ketimbang menjadi pegawai di sebuah perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ranah yang berlainan, stratifikasi sosial akibat faktor yang disengaja dapat dimisalkan dengan pilihan bentuk pemerintahan suatu negara. Sebagai misal, dalam bentuk pemerintahan agamis para pemuka agamalah yang memiliki kekuasaan tertinggi. Bentuk pemerintahan tersebut dapat ditemui di Iran serta negara-negara Eropa pada abad pertengahan. Hal tersebut akan berbeda halnya jika pemerintahan suatu negara berbentuk diktatorial, maka militer menduduki kekuasaan tertinggi di dalamnya. Berbagai bentuk pemerintahan tersebut memiliki pengaruh signifikan dalam masyarakat di mana tingkat penghargaan dan penghormatan yang diberikan tertuju pada bentuk-bentuk stratifikasi sosial tertentu, sebagai misal di atas, penghormatan pada pemuka agama ataukah militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, stratifikasi sosial dapat pula disebabkan oleh individu itu sendiri seperti kuatnya motivasi untuk berprestasi sehingga berimplikasi pada status sosialnya dalam masyarakat. Dalam hal ini, dibedakan adanya dua bentuk status sosial antara lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;i&gt;Achieved Status&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Status sosial yang diperoleh akibat usaha keras dan pencapaian individu. Contoh: seorang mahasiswa yang belajar giat dan akhirnya memperoleh  gelar sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;i&gt;Assigned Status&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Status sosial yang diperoleh melalui pelabelan masyarakat akibat aktivitas keseharian yang dilakukannya sehingga menjadi identitas yang melekat pada dirinya kemudian. Contoh: ulama, juru kunci, dukun, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Faktor Tak Disengaja&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Faktor tak disengaja dari diferensiasi sosial lebih bersifat kodrati atau “demikian adanya”. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan berbagai ras dan suku bangsa yang terdapat dalam masyarakat. Seseorang yang terlahir sebagai kulit hitam akan tetap menjadi kulit hitam hingga akhir hayatnya, begitu pula sebaliknya dengan seorang kulit putih. Dengan demikian, hal tersebut lebih bersifat given ‘pemberian’ Tuhan. Terkait hal tersebut, Peter Berger menyebut manusia sebagai makhluk sui generic atau taken for granted yang berarti, “manusia sebagai makhluk apa adanya”, seseorang tak meminta terlahir sebagai kulit hitam atau kulit putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, stratifikasi sosial akibat faktor yang tak disengaja dapat dimisalkan dengan gelar kebangsawanan yang tersematkan pada seseorang. Seorang anak raja secara otomatis akan memiliki gelar bangsawan sebagaimana orang tuanya (Raden, Raden Ayu, dsb). Status sosial tersebut diistilahkan dengan ascribed status, yakni status yang diperoleh tanpa usaha, upaya dan kerja keras, diperoleh begitu saja secara apa adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Transformasi Diferensiasi Sosial kepada Stratifikasi Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam masyarakat tak selamanya ajeg dan berdiri sendiri satu sama lain. Ada kalanya, dengan sebab-sebab tertentu diferensiasi sosial dapat bertransformasi (berubah) menjadi stratifikasi sosial. Umumnya, hal tersebut disebabkan oleh ditemuinya beberapa kelompok ras dalam suatu masyarakat atau negara di mana salah satu ras minoritas lebih dominan secara ekonomi ketimbang ras lainnya. Hal tersebut dapat menjadi alasan kuat mencuatnya rasialisme (sentimen antiras) dalam masyarakat. Dalam hal ini, dapatlah dilihat bagaimana karakteristik diferensiasi sosial berupa ras yang harusnya bersifat horizontal berubah ke dalam jenjang-jenjang yang bersifat vertikal. Berikut beberapa contohnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pada masa pemerintahan Nazi-Hitler di Jerman, orang-orang Yahudi mendapat perlakuan yang begitu diskriminatif karena dianggap menghancurkan kehidupan ekonomi penduduk pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Idi Amin di Uganda mengeluarkan kebijakan deportasi bagi etnis China karena mendominasi perekonomian di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, munculnya berbagai hal di atas dapat pula disebabkan oleh ideologi yang dianut oleh suatu kelompok ras yang dominan secara kuantitas (jumlah) dalam masyarakat. Sebagai misal, diskriminasi yang dilakukan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika Serikat pada dekade 60-an. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Pokok&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; * Struktur sosial dibentuk oleh diferensiasi dan stratifikasi sosial.&lt;br /&gt;* Diferensiasi sosial adalah bentuk pengelompokan masyarakat secara horizontal atau merata.&lt;br /&gt;* Stratifikasi sosial adalah bentuk pengelompokan masyarakat secara vertikal atau berjenjang.&lt;br /&gt;* Diferensiasi dan stratifikasi sosial terbentuk melalui faktor yang disengaja maupun yang tak disengaja.&lt;br /&gt;* Pada kondisi-kondisi tertentu diferensiasi sosial dapat berubah bentuk menjadi stratifikasi sosial. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1573191138966491316?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1573191138966491316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/04/pengantar-sosiologi-iv.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1573191138966491316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1573191138966491316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/04/pengantar-sosiologi-iv.html' title='Pengantar Sosiologi IV'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tMZEbMRMs7M/TZsZxtPLotI/AAAAAAAAAP8/41iquiqiz3E/s72-c/035535b2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-8915703407644458117</id><published>2011-04-01T10:30:00.001+07:00</published><updated>2011-04-01T10:40:45.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Sosiologi'/><title type='text'>Pengantar Sosiologi III</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Bab III&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Perubahan Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-J3a_JJrVD6I/TZVFrcNWSQI/AAAAAAAAAPs/JNZYjguardY/s1600/10795.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-J3a_JJrVD6I/TZVFrcNWSQI/AAAAAAAAAPs/JNZYjguardY/s320/10795.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pengertian Perubahan Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perubahan sosial adalah perubahan dalam segi struktur sosial masyarakat yang mana menyangkut hubungan-hubungan sosial yang terjadi di dalamnya. Struktur sosial sendiri merupakan “tatanan” atau “jalinan” pokok yang membentuk suatu masyarakat. Perubahan sosial berbeda dengan perubahan kebudayaan mengingat dalam perubahan kebudayaan, nilai, norma dan terknologilah yang mengalami transformasi, bukannya struktur sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Perubahan sosial dapat dicontohkan dengan tumbangnya suatu rezim dan segera digantikannya dengan rezim baru yang mana merombak seluruh struktur kemasyarakatan. Sebagai misal,&lt;br /&gt;- Dahulu orang-orang Belanda menduduki tempat tertinggi dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, namun setelah kemerdekaan berhasil diraih, hal tersebut tak berlaku lagi setelahnya.&lt;br /&gt;- Di era abad pertengahan, institusi gereja memiliki otoritas tertinggi di Eropa, namun setelah peristiwa renaissance ‘pencerahan’ abad 15-18 terjadi, institusi tersebut memiliki kekuasaan yang sangat terbatas.&lt;br /&gt;- Sebelumnya, kaum borjuis menempati posisi tertinggi dalam struktur sosial kemasyarakatan Rusia, namun segera tergantikan oleh kaum proletar setelah terjadinya Revolusi Komunis tahun 1917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berbagai misal di atas, perubahan sosial dapat pula berbentuk perubahan demografi yakni menyangkut pertumbuhan maupun penyusutan angka kelahiran serta kematian penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebab-sebab Terjadinya Perubahan Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya perubahan sosial disebabkan oleh berbagai faktor, apabila hendak disederhanakan, maka setidaknya terdapat dua faktor yang mengakibatkan terjadinya perubahan sosial yakni faktor yang “disengaja” (direncanakan) maupun “tak disengaja” (tak direncanakan). Berbagai faktor yang disengaja seperti masuknya ide-ide baru serta kesadaran akan perlunya perubahan pada kondisi yang lebih baik. Di satu sisi, perubahan sosial yang disebabkan oleh faktor yang tak disengaja seperti terjadinya bencana alam, pandemi yang meluas dan lain sebagainya. Berikut diuraikan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Faktor yang Disengaja (Direncanakan)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Masuknya ide-ide baru dalam suatu masyarakat hingga mendorong terjadinya perubahan struktur sosial kemasyarakatan merupakan perubahan sosial yang disengaja atau direncanakan. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan bagaimana ide-ide mengenai kesetaraan derajat antarmanusia yang dibawa Islam melalui Muhammad mampu merombak struktur sosial masyarakat Mekkah yang jahilliyah. Begitu pula yang terjadi dalam gerakan antirasialisme kulit hitam Amerika Serikat pada dekade 1960-an yang digawangi oleh Martin Luther King.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, kesadaran akan perlunya perubahan pada kondisi yang lebih baik juga terklasifikasi ke dalam faktor yang direncanakan dalam perubahan sosial. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan terjadinya Revolusi Perancis tahun 1789 yang timbul akibat penindasan berlarut-larut kaum bangsawan terhadap rakyat jelata. Begitu pula dengan Revolusi Komunis Soviet tahun 1917, atau terjadinya gerakan Reformasi tahun 1998 di Indonesia akibat kesulitan ekonomi berkepanjangan yang melanda rakyat secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, satu hal yang perlu dicatat adalah, baik perubahan sosial akibat munculnya ide-ide baru atau kesadaran akan perlunya perubahan pada kondisi yang lebih baik pada umumnya tak terjadi secara bersamaan. Umumnya, salah satu mendahului yang lain, atau terjadi secara langsung dan searah begitu saja seperti munculnya ide-ide baru yang seketika menginspirasi terjadinya perubahan sosial. Berikut dua bentuk skema perubahan sosial yang direncanakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Situasi ketertindasan → Ide-ide baru → Perubahan sosial&lt;br /&gt;- Ide-ide baru → Perubahan sosial&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;Faktor yang Tak Disengaja (Tak Direncanakan)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Faktor perubahan sosial akibat perihal yang tak disengaja atau tak direncanakan dapat dimisalkan dengan terjadinya bencana alam atau pandemi virus yang meluas sehingga mempengaruhi angka kelahiran dan kematian penduduk (pertumbuhan penduduk/demografi) suatu masyarakat. Terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dapat menjadi contoh konkret perubahan sosial yang tak disengaja, begitu pula dengan menyebarnya virus flu babi yang telah menelan banyak korban jiwa di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Menarik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tahukah Anda bahwa ide Revolusi Perancis 1789 dilatarbelakangi oleh tiga kata saja, “Kebebasan, persamaan dan persaudaraan”. Di sisi lain, Revolusi Rusia 1917 sekedar diinspirasi oleh seuntai kalimat, “Beri kami tanah dan roti!”.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Teori-teori Perubahan Sosial&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Terdapat berbagai teori mengenai perubahan sosial dalam sosiologi, antara lain teori evolusi sosial, teori struktural fungsional dan teori konflik. Berbagai teori tersebut tak hanya berupaya menjelaskan dan mendeskripsikan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat, tetapi juga berupaya memprediksi bentuk perubahan sosial masyarakat di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Evolusi Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teori evolusi sosial meyakini bahwa masyarakat bergerak dari kondisi sederhana menuju pada kondisi yang lebih kompleks. Ide lain yang dibawa pemahaman ini adalah, masyarakat selalu bergerak menuju pada kondisi yang lebih baik. Perubahan yang terjadi guna menuju pada kondisi yang lebih baik tersebut terjadi secara perlahan-lahan, tidak tiba-tiba dan mendasar layaknya revolusi. Berikut berbagai tokoh beserta pemikirannya yang berada di balik pemahaman teori evolusi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Auguste Comte&lt;br /&gt;Masyarakat primitif → Masyarakat metafisika → Masyarakat positif&lt;br /&gt;(Supranatural) → (Supranatural &amp;amp; Ilmiah) → (Ilmiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Emile Durkheim&lt;br /&gt;Masyarakat primitif (tradisional) → Masyarakat modern (kapitalis)&lt;br /&gt;(Solidaritas mekanik) → (Solidaritas organik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Herbert Spencer&lt;br /&gt;Survival of the fittest: manusia-manusia lemah, miskin dan tak berdaya dalam masyarakat akan mengalami “seleksi alam” dan tergantikan oleh mereka yang kuat, kaya dan berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Karl Marx&lt;br /&gt;Masyarakat primitif → Masyarakat feodal → Masyarakat kapitalis → Masyarakat Sosialis (Masyarakat komunis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* W.W Rostow&lt;br /&gt;Masyarakat tradisional → Masyarakat pra-Lepas landas → Masyarakat lepas landas → Masyarakat pematangan → Masyarakat konsumsi berlebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Struktural Fungsional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teori struktural fungsional meyakini bahwa perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat merupakan upaya masyarakat guna mencapai keseimbangan atau kestabilan baru. Layaknya Durkheim, teori ini memandang masyarakat sebagai suatu organisme yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam berbagai kondisi, masyarakat berupaya beradaptasi dan menyusun kembali dirinya hingga menemukan keseimbangan baru yang lebih mantap (lihat kembali teori AGIL). Beberapa sosiolog yang mengusung pemahaman ini antara lain Talcott Parson, Robert K. Merton, Kingsley Davis dan Marion J. Levy. Konsep perubahan sosial dalam teori struktural fungsional dapat diilustrasikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;* Perang Dunia I → (Stabil) → Perang Dunia II → (Stabil)&lt;br /&gt;* Krisis ekonomi 1930-an → (Stabil) → Krisis ekonomi 1950-an → (Stabil) → Krisis ekonomi 1970-an → (Stabil) → Krisis ekonomi 1990-an→ (Stabil) → dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, konsep perubahan sosial dalam teori struktural fungsional dapat diibaratkan dengan seorang anak kecil yang tengah bermain mandi bola, dan ketika ia selesai bermain, maka bola-bola tersebut kembali rapi seperti sedia kala. Begitu pula, dapat dicontohkan dengan gelas berisi air yang dimasukkan kerikil ke dalamnya, seketika air dalam gelas tersebut akan beriak, namun kemudian kembali tenang seperti sebelumnya. Jarak antara bola yang sedang kacau dengan bola yang kembali rapi atau air yang tengah beriak dan kembali tenang adalah “perubahan”, pada akhirnya, dengan serta-merta kesemuanya kembali pada titik tenang atau stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Konflik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teori konflik menganggap bahwa masyarakat merupakan suatu wadah di mana pertentangan dan persaingan guna memperebutkan kekuasaan terjadi. Perubahan sosial merupakan proses saling “jegal” dan menjatuhkan yang berlangsung tanpa henti di dalamnya. Teori ini terinspirasi oleh argumentasi Marx mengenai konflik kelas sosial dan sejarah umat manusia sebagai sejarah pertumpahan darah. Dengan demikian, teori ini memandang masyarakat dalam kaca mata konflik, tidak dalam persepsi harmonis sebagaimana dikemukakan teori struktural fungsional. Beberapa tokoh terkemuka dalam teori konflik antara lain Ralf Dahrendorf, C. Wright Mills dan Lewis Coser. Berikut beberapa ilustrasi mengenai teori konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Persaingan memperebutkan kursi kepala desa di suatu daerah.&lt;br /&gt;* Pertentangan antara buruh pabrik dengan pemilik pabrik terkait upah kerja.&lt;br /&gt;* Persaingan berbagai partai politik yang ada untuk memperoleh kekuasaan dalam pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Kehidupan Tokoh: C. Wright Mills&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YVqqiZIRcxs/TZVGdHJuNFI/AAAAAAAAAP0/lHfa8nmS1Vk/s1600/C%2BWright%2BMills.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="177" src="http://2.bp.blogspot.com/-YVqqiZIRcxs/TZVGdHJuNFI/AAAAAAAAAP0/lHfa8nmS1Vk/s320/C%2BWright%2BMills.jpg" width="164" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;C. Wright Mills merupakan sosiolog asal Universitas Kolombia, Amerika Serikat. Di samping terkenal sebagai tokoh teori konflik, ternyata hidupnya dipenuhi pula oleh konflik. Ia berkonflik dengan siapa saja yang ditemuinya. Hal tersebut menyebabkannya terasing dan terkucil dari pergaulan teman-teman akademisinya yang lain. Namun demikian, hal tersebut tak begitu mengganggunya, ia tetap produktif menghasilkan karya-karya ilmiah serta konsisten pada sikapnya hingga akhir hayat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Pokok&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; * Perubahan sosial adalah perubahan dalam segi struktur sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;* Perubahan sosial berbeda dengan perubahan kebudayaan.&lt;br /&gt;* Perubahan sosial disebabkan oleh faktor yang direncanakan maupun tidak direncanakan.&lt;br /&gt;* Berbagai teori sosiologi yang menjelaskan terjadinya perubahan sosial antara lain teori evolusi sosial, teori struktural fungsional dan teori konflik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-8915703407644458117?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/8915703407644458117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/04/pengantar-sosiologi-iii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8915703407644458117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8915703407644458117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/04/pengantar-sosiologi-iii.html' title='Pengantar Sosiologi III'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-J3a_JJrVD6I/TZVFrcNWSQI/AAAAAAAAAPs/JNZYjguardY/s72-c/10795.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-410823606180293726</id><published>2011-03-31T19:22:00.002+07:00</published><updated>2011-03-31T19:33:49.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Sosiologi'/><title type='text'>Pengantar Sosiologi II</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Bab II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Nilai dan Norma Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-TMoW0uKGo5A/TZRzNk9HRyI/AAAAAAAAAPk/Yw9S7xfnK84/s1600/sociology.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="http://4.bp.blogspot.com/-TMoW0uKGo5A/TZRzNk9HRyI/AAAAAAAAAPk/Yw9S7xfnK84/s320/sociology.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Nilai Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, benar, dihormati, dihargai, diharapkan serta dicita-citakan keberadaannya. Dengan demikian, “nilai sosial” dapat diartikan dengan sesuatu yang dianggap baik, benar dan dicita-citakan oleh masyarakat. Setiap masyarakat memiliki nilai karena setiap masyarakat memiliki cita-cita dan tujuan. Lebih jauh, Talcott Parsons menegaskan bahwa nilai merupakan “pengikat” masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat bersatu dan besekutu dikarenakan adanya kesamaan cita-cita dan tujuan. Bilamana nilai tak ditemui, maka masyarakat pun tidak akan terbentuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Setiap masyarakat memiliki nilai yang berbeda-beda, sebagai misal, masyarakat Barat yang lebih kental dengan hal-hal berbau keduniawian (hedonisme) menempatkan “kebebasan” atau “liberalisme” sebagai hal yang dijunjung setinggi-tingginya, dengan demikian, kebebasan atau liberalisme tersebut merupakan nilai dari masyarakat Barat. Dengan kata lain, masyarakat Barat menganggap bahwa kebebasan atau liberalisme sebagai sesuatu yang dianggap baik dan benar serta berupaya diwujudkan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, berbeda halnya dengan masyarakat Barat, masyarakat Timur begitu kental dengan hal-hal berbau ketuhanan, maka hal-hal berbau ketuhanan tersebutlah yang merupakan nilai dari masyarakat Timur. Hal tersebut tampak dengan tatanan sosial masyarakat Timur yang melarang budaya freesex, alkoholik, judi dan lain-lain sebagaimana ditemui dalam tatanan sosial masyarakat Barat. Tegas dan jelasnya, setiap masyarakat memiliki ultimate value (nilai tertinggi) yang dijunjungnya masing-masing sebagaimana diutarakan Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Thomas Aquinas mengatakan bahwa meskipun setiap masyarakat di dunia memiliki nilai yang berbeda-beda, tetap ditemui beberapa nilai universal yang dapat menyatukan setiap masyarakat di dunia. Beberapa nilai universal tersebut seperti larangan membunuh (menghilangkan nyawa) dengan sengaja dalam masyarakat manapun, larangan mencuri serta larangan memperkosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Norma Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Norma adalah seperangkat aturan, kaidah dan hukum yang wajib ditaati. Dengan demikian, “norma sosial” dapat diartikan dengan seperangkat aturan, kaidah dan hukum yang wajib ditaati oleh suatu masyarakat. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa setiap masyarakat memiliki nilai, yakni perihal yang dianggap baik, benar serta diharapkan atau dicita-citakan keberadaannya, maka norma tersebut merupakan cara atau jalan guna mewujudkan berbagai hal tersebut (nilai-nilai masyarakat). Dengan kata lain, seperangkat aturan, kaidah atau hukum dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan masyarakat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa antara nilai dan norma sosial sesungguhnya tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu diingat kiranya, karena setiap masyarakat memiliki nilai yang berbeda, maka norma yang muncul guna mewujudkannya pun berbeda antara masyarakat satu dengan yang lainnya. Sebagai misal, dalam masyarakat Barat tak ditemui berbagai norma yang melarang tindakan freesex, alkoholik atau perjudian, sebaliknya dengan masyarakat Timur yang masih menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang “tabu” dan melarang berbagai tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan antara nilai dan norma sosial dalam masyarakat merupakan perihal yang unik, hal tersebut mengingat ditemui keduanya dalam tataran masyarakat tingkat negara maupun berbagai suku bangsa yang ada di dalamnya dengan berbagai bentuk yang berbeda dan khas. Dengan demikian, nilai dan norma sosial ditemui dalam tataran makro-Sosial hingga mikro-Sosial, sebagai misal, nilai dan norma yang spesifik layaknya konsep “matriarki” di Minangkabau di mana wanitalah yang menjadi kepala keluarga dan bukannya laki-laki.&lt;br /&gt;Proses Pembentukan dan Pewarisan Nilai serta Norma Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emile Durkheim mencetuskan sebuah teori yang disebut dengan “teori nilai universal”, teori tersebut mengatakan bahwa telah menjadi perihal yang “lumrah” dan “alamiah” dimana pun juga apabila yang muda menghormati mereka yang lebih tua. Hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan perihal yang dianggap baik dan benar serta diharapkan oleh golongan tua, dianggap baik dan benar serta diharapkan pula oleh yang muda dan demikian seterusnya pada generasi-generasi setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan selanjutnya, argumen Durkheim di atas dikembangkan oleh Talcott Parson melalui teori latensi-nya di mana institusi-institusi di era modern seperti lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan berbagai institusi lainnya berperan besar bagi pewarisan nilai berikut pengikat masyarakat. Jelas dan tegasnya, Parson menekankan bahwa pertama-tama masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya (Adaptation), kemudian menciptakan tujuan bersama (Goal Attaintment), guna mencapai tujuan tersebut maka masyarakat harus selalu menjadi satu kesatuan yang kokoh (Integration), apabila tujuan masyarakat tersebut “belum” atau “telah” tercapai maka mereka membutuhkan mekanisme untuk mempertahankannya (Latency). Teori yang dietuskan Parson tersebut dikenal dengan sebutan A-G-I-L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Peter Berger, eksternalisasi, internalisasi maupun objektivasi berperan penting dalam pewarisan nilai berikut norma sosial, berikut penjabarannya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;Eksternalisasi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut Berger, eksternalisasi merupakan kondisi di mana individu lebih berpengaruh dan dominan ketimbang masyarakat. Dalam kondisi ini, individu aktif memasukkan nilai-nilainya pada masyarakat. Dalam eksternalisasi, mengingat kondisi masyarakat lebih lemah ketimbang individu, maka masyarakat pun segera mengadopsi dan mengendapkan nilai-nilai yang diberikan individu kepadanya.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;- Pada masa kolonialisme dan imperialisme, sosok Soekarno begitu menonjol dalam memotivasi rakyat Indonesia untuk terus memperjuangkan kemerdekaan.&lt;br /&gt;- Di masa kehancuran Jerman akibat Perang Dunia I, Adolf Hitler tampil sebagai pembangkit semangat rakyat Jerman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Internalisasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sebaliknya dengan eksternalisasi, internalisasi adalah posisi di mana masyarakat lebih berpengaruh atau dominan ketimbang individu. Dalam kondisi ini individu aktif mengadopsi nilai dan norma dalam masyarakat (menginternalisasi).&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;- Individu mengikuti berbagai kesepakatan dalam masyarakat seperti gotong-royong, kerja bakti dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;- Individu tidak melanggar berbagai nilai dan norma dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Objektivasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam penjelasan Berger, objektivasi adalah kondisi di mana sesungguhnya antara individu maupun masyarakat dapat dipisahkan satu sama lain, hal tersebut dikarenakan pemikirannya sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;i&gt;Sebelum individu ada, masyarakat telah ada,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ketika individu ada, masyarakat ada,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ketika individu tiada, masyarakat tidak serta-merta tiada,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sehingga antara individu dan masyarakat dapat dipisahkan satu sama lain.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana ditekankan Berger, argumen di atas menunjukkan bahwa kondisi eksternalisasi maupun internalisasi silih berganti, ada kalanya individu mempengaruhi masyarakat dan ada kalanya sebaliknya, masyarkatlah yang mempengaruhi individu. Dengan demikian, tak mengeherankan, ada kalanya individu mematuhi nilai dan norma masyarakat namun ada kalanya pula melanggarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt; Kehidupan Tokoh: Talcott Parson&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6wDd8psaqvs/TZRxx52PLRI/AAAAAAAAAPc/sQJ9L9GNItM/s1600/talcott-parsons.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-6wDd8psaqvs/TZRxx52PLRI/AAAAAAAAAPc/sQJ9L9GNItM/s320/talcott-parsons.jpg" width="238" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semasa menjadi sosiolog di Harvard, Amerika Serikat, kepopuleran Parson “tersaingi” oleh kedatangan sosiolog asal Rusia bernama Pitirim Sorokin yang mengajar di universitas tersebut. Itulah mengapa, banyak pihak menganggap teori AGIL yang pada dasarnya begitu “canggih”, rumit dan sulit dimengerti cetusannya merupakan upaya Parson guna mengembalikan kepopulerannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Pemikiran-pemikiran Anti-Nilai dan Norma Sosial&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Meskipun nilai dan norma sosial dijunjung dan ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral dalam masyarakat, namun ternyata terdapat pula beberapa pemikir yang mempertanyakan dan menolak keberadaannya. Filsuf asal Amerika Serikat bernama James William More melakukan penyelidikan terhadap nilai (sesuatu yang dianggap baik dan benar serta dicita-citakan) dalam masyarakat. Sepanjang hidupnya, More berupaya mencari definisi atau arti dari kata “baik”, dan hingga akhir hayatnya, ia tak menemui dan tak dapat mendefinisikan apa itu arti kata “baik”. Ia menguraikan bahwa, “baik” menurut kaum darwinis adalah ketika “yang kuat, yang menang”, “baik” menurut kaum komunis adalah ketika sistem ekonomi “sama rasa-sama rata” diterapkan, sedangkan “baik” bagi kaum agamis adalah ketika hukum Tuhan diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui uraiannya di atas, More berupaya menunjukkan bahwa kata “baik” dan “benar” tidaklah dapat didefinisikan, dengan demikian nilai dan norma sosial merupakan perihal yang mustahil (tidak mungkin) keberadaannya. Pemikiran More ini kemudian dikenal dengan istilah “pragmatisme”, artinya “baik” dan “benar” tergantung pada masing-masing individu atau masyarakat yang memang menganggapnya demikian. Pemikiran James William More tersebut pada dasarnya melanjutkan pemikiran filsuf asal Jerman sebelumnya, Nietzsche, yang mengatakan, “Kebenaran adalah relatif, kebenaran tak terjangkau, bahkan kebenaran adalah mitos”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping More, terdapat pula Jean Paul Sartre, filsuf asal Perancis tersebut mengatakan bahwa keberadaan manusia di dunia adalah “tanpa alasan”. Dengan demikian, ia tak wajib mengikuti nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Apa yang harus dilakukan menurutnya adalah menciptakan nilai dan norma hidup sendiri. Pemikiran Sartre tersebut dikenal dengan nama eksistensialisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Menarik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Salah seorang psikolog terkenal asal Austria, Sigmund Freud, melakukan kajian mengenai asal-mula lahirnya nilai patriarki (ayah sebagai kepala keluarga yang wajib dihormati dan ditaati). Ia menjelaskan bahwa dahulu kala di era masyarakat primitif terdapat seorang “papa besar” yang memiliki banyak istri, karena banyaknya istri yang dimilikinya, tak tersisa wanita bagi anak-anak lelakinya. Kemudian, anak-anak lelaki tersebut merasa cemburu dan membunuh sang papa besar. Namun, setelahnya timbul perasaan bersalah dan gundah pada diri anak-anak lelaki tersebut, mereka kemudian menganggap bahwa papa besar wajib dihormati dan ditaati, bahkan dipuja setelah sepeninggalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Pokok&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; * Nilai sosial adalah sesuatu yang dianggap baik, benar, diharapkan dan dicita-citakan keberadaannya dalam masyarakat.&lt;br /&gt;* Norma sosial adalah seperangkat aturan, kaidah dan hukum yang wajib ditaati untuk mewujudkan nilai sosial.&lt;br /&gt;* Proses pembentukan dan pewarisan nilai serta norma sosial melibatkan eksternalisasi, internalisasi dan objektivasi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-410823606180293726?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/410823606180293726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/pengantar-sosiologi-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/410823606180293726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/410823606180293726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/pengantar-sosiologi-ii.html' title='Pengantar Sosiologi II'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-TMoW0uKGo5A/TZRzNk9HRyI/AAAAAAAAAPk/Yw9S7xfnK84/s72-c/sociology.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-2596399067408871996</id><published>2011-03-31T18:41:00.006+07:00</published><updated>2011-03-31T19:04:25.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Sosiologi'/><title type='text'>Pengantar Sosiologi I</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Bab I&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Sejarah dan Perkembangan Sosiologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ur9MQXozNpo/TZRmnaOSKCI/AAAAAAAAAO0/Lt99-jGT_GI/s1600/fs.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="279" src="http://2.bp.blogspot.com/-ur9MQXozNpo/TZRmnaOSKCI/AAAAAAAAAO0/Lt99-jGT_GI/s320/fs.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sekilas Sejarah Sosiologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disiplin sosiologi untuk pertama kali dicetuskan oleh seorang pemikir asal Perancis bernama Auguste Comte padab abad 19, tepatnya pada tahun 1839. Sebelumnya, Comte tidak menggunakan istilah sosiologi bagi ilmu yang baru digagasnya  tersebut, namun ia menggunakan istilah “fisika sosial”. Berbagai pemikiran dan seluk-beluk mengenai fisika sosial  tertuang dalam bukunya yang berjudul Cours de Philosophie Positive (Filsafat Positif).&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui fisika sosial, Comte berupaya menyusun sebuah ilmu mengenai masyarakat yang dapat diterapkan layaknya ilmu-ilmu eksakta (ilmu-ilmu alam). Artinya, ia mencita-citakan sebuah ilmu mengenai masyarakat yang dapat diterapkan secara “pasti”, mampu memprediksi atau meramalkan pergerakan berikut perkembangan masyarakat dari masa ke masa. Dengan kata lain, melalui fisika sosial, ia berupaya menciptakan hukum-hukum mengenai masyarakat. Buah pemikiran Comte mengenai hukum masyarakat yang begitu terkenal dalam Filsafat Positif adalah hukum atau teorinya mengenai perkembangan masyarakat yang dikenal dengan sebutan The Law of Human Progress (Hukum Perkembangan Manusia) atau The Law of Three Stages (Hukum Tiga Pentahapan). Menurutnya, masyarakat bergerak atau berkembang melalui serangkaian tahapan-tahapan berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahapan Teologis&lt;br /&gt;2. Tahapan Metafisika&lt;br /&gt;3. Tahapan Positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tahapan Teologis&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Tahapan teologis ditandai dengan kepercayaan masyarakat bahwa seluruh fenomena alam yang terjadi pada dasarnya berasal dari kekuatan supranatural layaknya ruh, dewa atau tuhan. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan terjadinya hujan. Berpijak melalui pemikiran Comte, masyarakat primitif akan menganggap bahwa fenomena hujan sepenuhnya disebabkan oleh ruh leluhur, dewa atau tuhan. Kepercayaan masyarakat tersebut, sebagaimana dijelaskan Comte lebih lanjut, tanpa disertai bukti serta penjelasan-penjelasan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tahapan Metafisika.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;Pada tahapan metafisika, Comte menjelaskan terjadinya pembauran, percampuran atau penyatuan antara kepercayaan supranatural dengan penjelasan ilmiah dalam masyarakat. Pada masyarakat dalam tahapan metafisika, fenomena hujan dapat dijelaskan secara ilmiah (hujan berasal dari air di seluruh permukaan bumi yang menguap dan seterusnya), namun tetap terbesit keyakinan bahwa serangkaian kejadian tersebut disebabkan pula oleh tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tahapan Positif&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Tahapan terakhir dalam perkembangan masyarakat menurut Comte adalah tahapan positif. Menurutnya, masyarakat dalam tahapan tersebut ditandai dengan pola pikir masyarakat yang sepenuhnya ilmiah di mana kepercayaan terhadap kekuatan supranatural seperti ruh leluhur, dewa-dewa dan tuhan telah ditinggalkan jauh-jauh. Dengan demikian, terkait terjadinya fenomena hujan, masyarakat dalam tahapan positif akan menganggapnya sebagai fenomena yang bersifat ilmiah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu dicatat kiranya, bahwa pengertian “filsafat positif” sebagaimana diutarakan Comte tidak serta-merta dapat diartikan sebagai “filsafat yang baik”. Filsafat positif yang dimaksudkan Comte menunjuk pada teori dengan tujuan menyusun fakta-fakta yang teramati, atau “berdasarkan fakta-fakta”. Dengan demikian, istilah positif dapat disamakan dengan istilah “fakta” atau “faktual” dalam filsafat positif Comte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan istilah fisika sosial pada “sosiologi” pada tahun 1839 dilakukan Comte mengingat ditemuinya salah seorang pakar fisika yang telah menggunakan istilah tersebut kala itu. Peran berikut kedudukan Comte sebagai pencetus disiplin sosiologi dan filsafat positif menyebabkannya mendapat gelar sebagai “bapak sosiologi” serta “bapak positivisme” di kemudian hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebab Utama Kelahiran Sosiologi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai ide awal yang membentuk disiplin sosiologi di atas, kelahiran sosiologi terutama dilatarbelakangi oleh Revolusi Industri pada abad 19 yang membawa berbagai dampak negatif terhadap masyarakat. Sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt, dimulailah periode industrialisasi di Eropa. Penggunaan mesin-mesin pada berbagai pabrik yang ada di Eropa menyebabkan kian tingginya angka pengangguran yang kemudian berdampak pula pada kian banyaknya pemukiman kumuh serta meningkatnya angka kriminalitas. Sebab-sebab tersebutlah yang kemudian menjadi latar belakang utama kelahiran sosiologi. Suatu disiplin atau studi mengenai masyarakat yang bertujuan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang berasal dari masyarakat itu sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Kehidupan Tokoh: Auguste Comte&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-04m9uje6GuQ/TZRnFy9chZI/AAAAAAAAAO8/BrEfVoLFc9g/s1600/Comte.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-04m9uje6GuQ/TZRnFy9chZI/AAAAAAAAAO8/BrEfVoLFc9g/s320/Comte.jpg" width="249" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Meskipun di kemudian hari mendapat gelar sebagai bapak sosiologi dan bapak positivisme, Comte hidup sangat miskin, ia sempat pula mengalami gangguan jiwa (sakit jiwa) akibat begitu takutnya ia akan orang lain yang mencuri idenya mengenai studi masyarakat (fisika sosial/sosiologi). Setelah sembuh dari sakit jiwa yang dideritanya, Comte menikah dengan seorang pelacur dan menghabiskan sisa hidup bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Studi Mengenai Masyarakat Sebelum Auguste Comte&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa Auguste Comte disebut sebagai perintis disiplin sosiologi atau studi mengenai masyarakat, namun demikian, apabila penelusuran sejarah mengenai studi masyarakat dilakukan, maka ditemui pula bahwa telah jauh-jauh hari hal tersebut dilakukan oleh beberapa pemikir sebelum Comte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buah karya yang berjudul Muqaddimah, Ibnu Khaldun melakukan kajian atas masyarakat Timur Tengah yang tersegregasi (terbagi) ke dalam berbagai suku bangsa dan kelompok. Kajian tersebut menyangkut ikatan kesukuan atau kelompok yang kerap diistilahkan dengan ashabiyyah, interaksi antar sesama anggota suku bangsa maupun antarsuku bangsa lainnya, berbagai bentuk kebudayaan, konsumsi sehari-hari dan berbagai dimensi sosial lainnya. Melalui berbagai kajian yang dilakukannya, belakangan Guru Besar Sosiologi Universitas Maryland Amerika Serikat, George Ritzer, mengakui Ibnu Khaldun sebagai sosiolog pertama di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Khaldun, seorang pastur (profesor moral) asal Skotlandia yang kemudian lebih dikenal sebagai seorang ekonom, Adam Smith, menulis sebuah buku berjudul Theory of Moral Sentiments di mana di dalamnya ia mengupas dua jenis sentimen (keinginan/kemauan) dalam diri manusia yakni sentiment of ego (keinginan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri) serta sentiment of fellow (keinginan untuk bergabung dengan masyarakat). Melalui kajiannya tersebut, banyak pula pihak yang menempatkannya sebagai perintis studi mengenai masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Ide-ide Menarik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Melalui kajiannya atas berbagai suku bangsa dalam keterkaitannya dengan kondisi geografis yang melingkupinya, Khaldun membuat beberapa kesimpulan yang menarik. Ia mengatakan bahwa suku-suku yang tinggal di gurun-gurun yang panas lebih pandai dan cerdas ketimbang mereka yang tinggal di pegunungan dingin dan sejuk. Hal tersebut dikarenakan hawa panas berikut konsumsi daging berbagai suku gurun yang mendorong mereka untuk terus berpikir dan bertindak. Di sisi lain, konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung cairan membuat suku-suku pegunungan malas untuk berpikir serta bertindak. Bagaimana dengan Anda? Bagaimanakah kondisi geografis tempat Anda tinggal dan dibesarkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengertian Sosiologi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis (asal kata bahasa), sosiologi berasal dari dua kata, socius yang berasal dari bahasa Yunani dan berarti “perkawanan” serta logos yang berasal dari bahasa Latin dan berarti “berbicara mengenai”. Dengan demikian, secara “telanjang” sosiologi dapat diartikan dengan “berbicara mengenai perkawanan/pertemanan” yang kemudian secara umum diartikan sebagai studi atau kajian mengenai masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam ranah akademik, ditemui begitu banyak definisi mengenai sosiologi yang dicetuskan oleh berbagai sosiolog dunia. Namun, satu di antara begitu banyak definisi sosiologi yang kerap diacu hadir melalui Walter and Crooks. Menurutnya, “Sociology is the systematic analysis of the structure of social behavior” (“Sosiologi adalah analisis sistematis terhadap struktur perilaku sosial”).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Apabila penelaahan lebih dalam kita lakukan terhadap definisi sosiologi di atas, maka ditemui bahwa sosiologi memiliki empat sendi, antara lain,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 1. &lt;i&gt;Systematic&lt;/i&gt; (Sistematis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Artinya sosiologi disusun berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 2. &lt;i&gt;Analysis&lt;/i&gt; (Analisis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kajian sosiologi bersifat ilmiah, memenuhi hukum kausalitas (sebab-akibat) dengan keyakinan fenomena atau gejala sosial tak terjadi secara sui generic (tiba-tiba/begitu saja), melainkan selalui ditemui proses di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 3. &lt;i&gt;Structure&lt;/i&gt; (Struktur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sosiologi melakukan kajian pada sesuatu yang terjadi berulang-ulang, tidak pada suatu fenomena atau gejala sosial yang terjadi sekali saja karena bisa jadi hal tersebut sekedar “kesengajaan” semata. Kajian sosiologi haruslah fenomena yang terstruktur (berulang-ulang/terjadi lebih dari sekali).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 4. &lt;i&gt;Social Behavior &lt;/i&gt;(Perilaku Sosial)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Studi sosiologi tertuju pada perilaku sosial dan bukannya perilaku individu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Melalui definisi yang dikemukakan Walter dan Crooks di atas, kiranya seluk-beluk berikut karakter dari disiplin sosiologi telah terdeskripsikan secara ringkas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Perkembangan Sosiologi Pasca-Auguste Comte&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sepeninggal Auguste Comte, sosiologi kian berkembang pesat, ditemui berbagai tokoh kajian mengenai masyarakat (sosiologi) layaknya Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkheim. Ketiga tokoh inilah yang kemudian “dibaptis” sebagai peletak awal teori-teori sosiologi. Jelas dan tegasnya, ketiga tokoh tersebut diakui sebagai para pemikir sosiologi dalam tataran “klasik”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Karl Marx&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-MAVcW3kVcfg/TZRnf89mJtI/AAAAAAAAAPE/nN3b2hEOAcM/s1600/11-karl-marx-1818-18831.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="http://4.bp.blogspot.com/-MAVcW3kVcfg/TZRnf89mJtI/AAAAAAAAAPE/nN3b2hEOAcM/s320/11-karl-marx-1818-18831.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Karl Marx lahir di Jerman pada tahun 1813, semasa muda ia melakukan studi pada banyak disiplin ilmu, dari sejarah, hukum, ekonomi hingga filsafat. Karya-karya yang dihasilkannya kemudian pun mencakup berbagai ranah disiplin ilmu. Hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan Marx tak dapat sekedar dicap sebagai seorang sosiolog, ekonom atau sejarawan, melainkan “filsuf” lebih tepatnya. Marx merupakan seorang aktivis kenamaan kaum buruh, bahkan ia didaulat sebagai “nabi kaum buruh”. Melalui buah karyanya yang berjudul Das Kapital dan Manifesto Komunis, Marx memberikan landasan pergerakan bagi kaum buruh guna menentang kesewenang-wenangan kaum borjuis (majikan/pemilik modal/pemilik pabrik). Dalam hal ini, Marx memang meletakkan “ekonomi” sebagai perihal terpenting dalam kajiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Salah satu sumbangan penting Marx dalam sosiologi adalah teori kelas yang dicetuskannya. Menurut Marx, masyarakat selalu terpecah (tersekat) dalam kelas-kelas yang bertautan erat dengan status ekonomi, yakni kelas borjuis (ekonomi atas/majikan/pemilik modal) dengan kelas proletar (ekonomi bawah/buruh/tak bermodal). Dalam Das Kapital, nabi kaum buruh tersebut menegaskan bahwa kelas borjuis selalu berusaha melanggengkan kekuasaan dengan jalan apapun, bahkan dengan menggunakan legitimasi agama (gereja). Ajaran agama yang mengatakan bahwa kehidupan miskin di dunia merupakan takdir yang tak dapat diubah dan bakal menghasilkan surga di akherat kelak, dilihat Marx sebagai siasat kaum borjuis agar kaum buruh tidak melakukan perlawanan dan pemberontakan yang nantinya bakal mengancam kekuasaan. Oleh karenanya, Marx mengatakan bahwa “agama adalah candu”, artinya agama ibarat opium yang memberikan ketenangan serta kedamaian “palsu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Marx melihat masyarakat dalam kaca mata konflik, masyarakat bukanlah suatu kumpulan individu yang harmonis, melainkan penuh dengan pergolakan dan intrik guna memperebutkan kekuasaan di dalamnya. Lebih jauh, dalam Das Kapital ia menegaskan bahwa sejarah umat manusia merupakan sejarah pertumpahan darah; konflik, kudeta, perang dan lain sejenisnya. Terkait ranah disiplin sosiologi, pemikiran Marx mengenai kelas sosial di atas pada gilirannya terangkum dalam sebentuk kajian mengenai stratifikasi sosial berikut melatarbelakangi munculnya teori konflik dalam sosiologi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Kehidupan Tokoh: Karl Marx&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Marx dikenal sebagai salah seorang pemikir besar Eropa, ia memiliki metode belajar yang unik semasa hidupnya. Kerap, ia menjadi “orang tak berguna” selama dua hari; mabuk-mabukan, malas-malasan dan melakukan berbagai kegiatan tak berguna lainnya, namun untuk lima hari ke depan ia dapat belajar seperti orang “kesetanan”; terus membaca buku, menulis, bangun pukul delapan pagi dan baru tidur pukul dua pagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Meskipun kala muda Marx hidup mewah karena keluarganya yang kaya, ketika tua ia hidup sangat miskin karena pola hidupnya yang boros dan gemar foya-foya. Sering, sepulangnya dari British Library Museum untuk membaca berbagai buku, ia marah-marah mendapati buku-bukunya yang hilang di rumah. Dengan enteng, Jenny, istrinya pun berkata,”Kuloakkan untuk makan beberapa hari ke depan...”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Menarik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Percayakah Anda bahwa roti yang terpajang di sebuah etalase supermarket akan berada di situ seterusnya, tergeletak hingga basi dan tak dapat dimakan serta menjadi barang yang tak berguna kemudian. Sebelum dapat diberikan dan dimakan, roti tersebut harus membuktikan kemampuan tukarnya (dapat menghasilkan uang), tak peduli di luar sana banyak orang kelaparan dan membutuhkan roti tersebut sebelum membusuk. Inilah yang dinamakan Marx sebagai alienasi nilai guna! (keterasingan kegunaan suatu barang). Para borjuis lebih memilih mencari profit (keuntungan) ketimbang memberi pada sesamanya yang kelaparan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Max Weber&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zzqtCeovGUQ/TZRnxUoO2bI/AAAAAAAAAPM/1INO1h-hCZQ/s1600/max_weber.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-zzqtCeovGUQ/TZRnxUoO2bI/AAAAAAAAAPM/1INO1h-hCZQ/s320/max_weber.jpg" width="230" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Max Weber lahir di Jerman pada tahun 1864, ia tumbuh besar di keluarga serba berkecukupan di mana ayahnya menempati posisi prestisius dalam pemerintahan Jerman kala itu. Layaknya Marx, semasa muda Weber menggeluti berbagai disiplin ilmu, ia mempelajari hukum, ekonomi, sejarah, agama, sosiologi hingga filsafat. Karya-karyanya yang merambah berbagai disiplin ilmu di kemudian hari menyebabkannya dianugerahi gelar sebagai “genius universal”, suatu gelar terhormat yang sebelumnya dipegang oleh Aristoteles. Gelar tersebut disematkan pada mereka yang telah berhasil menyerap berbagai ilmu yang ada di zamannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sumbangan Weber dalam disiplin sosiologi cukup besar, ia melakukan kajian terhadap organisasi, birokrasi, kelas sosial, pola pikir manusia modern berupa rasionalitas hingga kajian mengenai agama-agama dunia berikut pengaruhnya bagi para pemeluknya. Terdapat satu hal menarik dari Weber, meskipun ia dikenal sebagai seorang sosiolog, namun ia tak mengakui keberadaan masyarakat, “There is no thing such social”, tegasnya. Menurutnya, masyarakat tidaklah ada, yang ada hanyalah “kumpulan individu dengan kepentingannya masing-masing”. Dengan demikian, tegas Weber, objek studi sosiologi bukanlah masyarakat, melainkan lebih kepada person atau individu yang kemudian membentuk masyarakat. “Setiap individu memiliki karakter dan sifat yang begitu khas serta unik satu sama lain, dengan demikian ianya terlalu mustahil dileburkan ke dalam satu kesatuan yang dinamakan masyarakat”, pungkasnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Salah satu kajian penting dan juga merupakan sumbangan besar Weber dalam sosiologi adalah studinya mengenai berbagai bentuk pola pikir rasional (rasionalitas) pada individu maupun masyarakat yang kemudian mempengaruhi berbagai bentuk tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, rasionalitas dapat diklasifikasikan ke dalam lima bentuk sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Rasionalitas Formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pola pikir yang berbicara mengenai untung-rugi atas berbagai tindakan yang diambil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: seorang pedagang yang menentukan harga barang-barang yang dijualnya guna mendapat keuntungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Rasionalitas Instrumental&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pola pikir yang menunjuk pada efisiensi serta efektivitas dalam mencapai tujuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: agar cepat sampai ke sekolah lebih memilih mengendari motor ketimbang sepeda kayuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Rasionalitas Nilai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pola pikir yang begitu dipengaruhi oleh perihal yang dianggap baik, sakral dan dicita-citakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: tidak berbohong dan mencuri karena merupakan perbuatan dosa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 4. Rasionalitas Tradisional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pola pikir yang menuntut terjaganya pewarisan tindakan dari generasi ke generasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: tradisi labuhan, upacara ngaben, dsb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 5. Rasionalitas  Afektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pola pikir berikut tindakan yang begitu dipengaruhi oleh aspek afeksi atau perasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: seorang gadis yang berjingkrak-jingkrak kegirangan karena mendapatkan bunga dari teman prianya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Emile Durkheim&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xJB4eFGda_0/TZRoGFpziNI/AAAAAAAAAPU/_guT99SQkgY/s1600/Durkheim.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-xJB4eFGda_0/TZRoGFpziNI/AAAAAAAAAPU/_guT99SQkgY/s320/Durkheim.gif" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Emile Durkheim lahir di Perancis pada tahun 1858. Berseberangan dengan Karl Marx, Durkheim melihat masyarakat dalam kaca mata penuh harmonis, ia mengandaikan masyarakat sebagai sebuah organ yang saling membutuhkan satu sama lain. Ketika satu organ sehat, maka keseluruhannya pun sehat, sebaliknya, ketika salah satu organ saja terganggu, maka keseluruhan organ pun bakal terganggu dan tak berjalan semestinya. Di satu sisi, pemikirannya pun bertentangan dengan Weber, jika Weber menganggap individu sebagai objek kajian sosiologi, maka Durkheim menganggap masyarakatlah objek kajian sosiologi yang sesungguhnya. Pemikiran Durkheim tersebut kerap diistilahkan dengan realisme sosial (masyarakat sebagai suatu hal yang nyata/fakta). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sumbangan besar Durkheim dalam sosiologi adalah kajiannya mengenai perbedaan mendasar antara masyarakat primitif dengan masyarakat modern ditinjau melalui perspektif (sudut pandang) solidaritas di dalamnya. Menurutnya, terdapat dua bentuk solidaritas masyarakat, antara lain :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Solidaritas mekanik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Solidaritas atau persatuan masyarakat yang disebabkan oleh kesamaan hal di dalamnya. Bentuk solidaritas ini dapat ditemui dalam masyarakat primitif atau tradisional (pedesaan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: masyarakat pedesaan yang disatukan oleh mata pencaharian yang sama yakni bertani; bersama-sama menanam dan memanen padi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Solidaritas organik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Solidaritas atau persatuan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai hal berbeda di dalamnya. Solidaritas organik ditemui pada tatanan masyarakat modern (perkotaan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Contoh: seorang dokter membutuhkan keahlian seorang montir untuk memperbaiki kendaraannya dan begitu pula sebaliknya, seorang montir membutuhkan dokter ketika tengah sakit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Di samping kajiannya mengenai bentuk-bentuk solidaritas sosial, Durkheim melakukan studi pula atas fenomena bunuh diri dalam masyarakat berikut asal-mula kemunculan agama ditinjau melalui sudut pandang kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Berbagai Aliran Pemikiran dalam Sosiologi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagaimana telah dijabarkan dan diuraikan secara singkat sebelumnya, ternyata ditemui perbedaan pemikiran antara satu tokoh sosiologi dengan tokoh lainnya, dalam hal ini antara Emile Durkheim dengan Max Weber. Apabila Durkheim mengakui bahwa masyarakat adalah suatu kenyataan, fakta atau realitas serta menjadi objek kajian dalam sosiologi, maka tak demikian halnya dengan Weber, ia menganggap bahwa individulah yang nyata serta menjadi objek studi sosiologi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dapatlah dipertegas kiranya, perdebatan di atas menunjuk pada permasalahan objek kajian dalam sosiologi: masyarakat ataukah individu. Perdebatan atau perbedaan objek kajian tersebutlah yang kemudian menyebabkan sosiolog asal Amerika Serikat, George Ritzer merumuskan berbagai aliran yang terdapat dalam sosiologi melalui bukunya The Multiple Paradigm of Sociology (Sosiologi Ilmu dengan Multi-Paradigma). Menurutnya, terdapat tiga aliran atau paradigma dalam sosiologi antara lain aliran fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial, berikut penjelasannya lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Aliran Fakta Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tokoh  : Emile Durkheim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Objek Studi : Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Buku Acuan : Suicide, The Rule of Sociology Methods&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Teori  : Struktural Fungsionalisme (masyarakat sebagai organisme), konflik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Metode  : Kuantitatif (survey)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Aliran Definisi Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tokoh  : Max Weber&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Objek Studi : Individu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Buku Acuan : The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Teori  : Tindakan sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Metode  : Kualitatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Aliran Perilaku Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tokoh  : B.F Skinner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Objek Studi : Konsumsi individu (apa yang dimakan dan dipakai dalam keseharian)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Buku Acuan : Beyond Freedom and Dignify&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Teori  : Behavioralisme (perilaku)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Metode  : Eksperimen&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Berbagai aliran yang terdapat dalam disiplin sosiologi di atas tidaklah bijak jika dipandang sebagai ketidakmumpunan atau ketidakmatangan sosiologi sebagai suatu disiplin ilmu. Hal tersebut justru membuktikan sosiologi sebagai disiplin ilmu yang komprehensif (lengkap) di mana berbagai sudut pandang serta pemikiran tercakup di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Manfaat Sosiologi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Teori adalah “ruh” ilmu sosial, namun amat disayangkan memang, banyak pihak menaruh streotipe pada teori dengan mendikotomikan atau memisahkannya dengan praktek (teori dengan praktek terpisah). Hal tersebut pada dasarnya tak dapat dibenarkan mengingat kemunculan suatu teori yang tidak terlepas dari praktek lapangan. Dengan kata lain, teori dihasilkan melalui praktek, apabila teori tak ada, maka praktek lapangan pun tak ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sosiologi, sebagai suatu disiplin ilmu yang lahir guna merespon terjadinya Revolusi Industri abad 19 diharapkan mampu menjelaskan berbagai sebab maupun akibat yang dibawa peristiwa tersebut. Jelas dan tegasnya, secara luas sosiologi berupaya merumuskan hukum-hukum atau teori-teori yang terjadi dalam masyarakat, sebagai misal, apa yang terjadi jika masyarakat dalam kondisi “A”, “B” atau “C” dan seterusnya. Setelah hal tersebut diketahui, maka langkah selanjutnya adalah menyusun sebuah proposisi semisal, “Jika masyarakat berada dalam kondisi A, maka akan terjadi ... akan berdampak...”. Hal tersebut kiranya dapat lebih dijelaskan melalui beberapa contoh berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Bidang Pendidikan: “Siswa yang Benar-benar Menjadi Bodoh”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; (Teori Pelabelan)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pernahkah suatu kali anda melihat seorang siswa yang dikatakan bodoh oleh gurunya akan benar-benar menjadi siswa yang bodoh setelahnya. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Sosiologi dapat menjelaskannya melalui teori pelabelan (labelling theory). Peristiwa di atas dapat menjadi objek kajian sosiologi mengingat terjadi interaksi sosial antara dua individu yakni antara guru dengan siswanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Seorang siswa justru akan menjadi benar-benar bodoh jika dikatakan demikian oleh gurunya dikarenakan sang siswa tersebut telah “dilabelkan” oleh gurunya. Sang siswa tidak memiliki kuasa atau daya untuk melepaskan label yang dilekatkan pada dirinya karena beberapa alasan; usia guru yang jauh lebih tua ketimbang siswa, anggapan umum bahwa guru lebih mengetahui ketimbang siswanya, keharusan umum bahwa guru wajib dihormati dan ditaati. Dengan demikian, apa yang terjadi pada siswa tersebut dapat dilukiskan dengan pribahasa “tanggung kepalang basah”, “karena saya telah dilabelkan bodoh, maka saya akan menjadi siswa yang sepenuhnya bodoh saja”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Fenomena Sosial: “Yang Miskin Semakin Miskin, Sebaliknya yang Kaya”&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;(Teori Sirkuit Modal)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kita sering mendengar atau membaca untaian kalimat “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, entah dalam media elektronik maupun cetak, atau melalui celotehan umum masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi tugas sosiologi untuk menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Salah seorang tokoh sosiologi sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Karl Marx, mencetuskan sebuah teori yang dikenal dengan sebutan teori sirkuit modal guna menjelaskan konsep ekonomi yang diterapkan kaum miskin dan kaum kaya sehingga fenomena “miskin semakin miskin dan sebaliknya” dapat terjadi. Berikut penjabarannya,&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Konsep/pola kehidupan ekonomi kaum miskin/proletar: K-U-K&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Konsep/pola kehidupan ekonomi kaum kaya/borjuis: U-K-U-U1-U2-U3-....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Keterangan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;K= Komoditas&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;U= Uang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut Marx, kaum miskin memiliki pola kehidupan ekonomi K-U-K di mana “K” adalah “komoditas” yakni segala sesuatu yang dibuat atau diproduksi untuk diperjual-belikan, sedangkan “U” adalah “uang”. Sebagai misal, seorang penjahit yang membuat pakaian untuk dijual berarti menciptakan suatu komoditas (K), kemudian ia menjual pakaian tersebut dan mendapatkan uang (U), setelahnya, dengan uang tersebut ia membeli berbagai barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan, sabun, pasta gigi dan lain-lain, maka dengan sendirinya ia kembali pada komoditas (K). Menurut Marx, manusia dengan pola kehidupan ekonomi yang demikian sulit maju dan kaya, sebab uang yang tersisa untuk menabung begitu minim dan kecil. Dalam pandangan Robert T. Kiyosaki, orang-orang dengan kehidupan ekonomi layaknya di atas tengah mengikuti rat race ‘perlombaan tikus’, mereka menjalani siklus perputaran hidup yang tak membuat kehidupan mereka maju dan berkembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sebaliknya dengan kaum miskin, kaum kaya memiliki pola kehidupan ekonomi U-K-U-U1-U2-U3-dan seterusnya. Sebagai misal, saya seorang borjuis dan memiliki banyak uang (U), saya gunakan uang tersebut untuk membeli sebuah villa (K), setelahnya saya menyewakan villa tersebut di mana saya mendapatkan uang darinya kemudian (U). Apabila uang yang saya dapatkan dari persewaan villa tersebut pada nantinya terkumpul lebih besar dari modal awal (uang awal) untuk membeli villa tersebut, maka “U” yang sebelumnya akan berubah pada “U1”. Apabila lama-kelamaan uang yang terkumpul kemudian jauh lebih besar dari “U1”, maka dengan sendirinya ia akan berubah menjadi “U2” dan seterusnya, “U3”, “U4”, ... Hal inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya fenomena, “yang miskin semakin miskin dan sebaliknya, yang kaya semakin kaya”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Fenomena Perselingkuhan (Teori Dyad dan Triad)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sosiologi tidak hanya berfungsi menjelaskan suatu persoalan yang bersifat besar atau dalam skala luas layaknya yang terjadi pada ranah sosial (kemasyarakatan), melainkan pula pada ranah yang begitu sempit dan kecil seperti hubungan intim (dekat) antara dua individu. George Simmel, seorang sosiolog asal Jerman melakukan penelitian hubungan interaksi antara dua individu dan dampaknya apabila individu ketiga memasuki hubungan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Simmel mengistilahkan hubungan dekat yang terjadi antara dua individu sebagai “dyad” sedangkan apabila hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan antara tiga individu, maka ia menyebutnya dengan istilah “triad”. Menurut Simmel, hubungan dekat antara dua individu masih dimungkinkan, tetapi tidak demikian halnya dengan hubungan dekat antara tiga individu. Hal tersebut mengingat setiap individu yang memiliki karakter, sifat atau kepribadian yang berbeda dan unik satu sama lain, upaya untuk menyatukan dua kepribadian individu yang berbeda masih mungkin dilakukan, namun tidak demikian halnya dengan upaya penyatuan kepribadian tiga individu yang berbeda satu sama lain. Lebih jauh, apabila hal tersebut terjadi maka akan menyebabkan kerenggangan terhadap hubungan antara dua individu yang telah terjalin sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Hal di atas dapat dimisalkan dengan renggangnya hubungan persahabatan, hubungan dekat antara dua lawan jenis bahkan pernikahan akibat hadirnya pihak ketiga dalam hubungan tersebut. Lebih jelasnya, hal tersebut&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Sebelumnya, “A” telah menjalin hubungan dekat dengan “B”,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian, “A” menemukan beberapa kemiripan atau kecocokan dengan “C”,&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Beberapa kemiripan atau kecocokan “A” terhadap “C” belum tentu sama halnya dialami “B” terhadap “C”,&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Karena sifat alami manusia selalu ingin tahu dan tertarik bereksperimen dengan hal-hal baru, maka dari ke hari hubungan “A” dengan “C” pun kian dekat,&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Hal tersebut pun berdampak pada kian renggangnya hubungan antara “A” dengan “B” sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Fenomena Konsumerisme Masyarakat (Teori “&lt;i&gt;One Dimensional Society&lt;/i&gt;”)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pernahkah Anda berpikir, suatu perusahaan handphone (hp) terkemuka di dunia mengeluarkan satu seri (produk) baru hp, kemudian tiba-tiba seluruh dunia mengamini dan menganggap produk tersebut bagus serta wajib dimiliki? Satu perusahaan, satu seri baru hp dan seluruh orang di dunia terpengaruh, bayangkan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Hal tersebut dikarenakan perusahaan hp tersebut menciptakan konstruksi (iklan) di tengah masyarakat bahwa, “Anda yang tak memakai hp ini, ketinggalan jaman. Anda yang tak memakai hp ini, kuno”. Mereka yang “termakan” dan dengan segera membeli produk tersebut diistilahkan Herbert Marcuse, ilmuwan sosial asal Jerman, dengan one dimensional society atau masyarakat dengan kesadaran tunggal (kesadaran satu dimensi) di mana kesadaran yang mereka miliki berasal (diciptakan) oleh perusahaan-perusahaan besar dunia. Masyarakat dengan kesadaran satu dimensi adalah mereka yang membeli produk bukan berdasarkan “kebutuhan hidup”, melainkan “gaya hidup”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Di sisi lain, terdapat pula seorang sosiolog bernama Denzin yang melakukan kajian terhadap peran media elektronik mapun cetak dalam upaya menyuntikkan jiwa konsumerisme. Ia mengatakan bahwa berbagai perusahaan besar dunia telah “bersumpah” bakal memasarkan berbagai produknya bahkan dengan cara-cara yang tak diduga masyarakat. Menurut Denzin, hal tersebut dapat dicontohkan melalui film James Bond berjudul Die Another Day (Mati Di Lain Hari) yang diplesetkannya menjadi Buy Another Day (Membeli Di Lain Hari). Apabila Anda mencermati dengan seksama, maka Anda akan menemukan bahwa semua barang yang digunakan James Bond merupakan barang-barang bermerek, dari jam tangan bermerek Tissot, jas bermerek Armani hingga mobil yang bermerek BMW. Disadari atau tidak, hal tersebut merupakan upaya korporasi (perusahaan-perusahaan besar borjuis) menyuntikkan jiwa konsumerisme dengan cara yang tak disadari masyarakat di mana kemudian bakal berdampak pada munculnya one dimensional society sebagaimana diistilahkan Marcuse.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Berbagai uraian berikut penjabaran singkat di atas merupakan “segelintir” contoh saja manfaat disiplin sosiologi dalam menjelaskan berbagai fenomena atau gejala sosial yang melanda atau dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak berbagai contoh lain yang begitu menarik dan menggelitik pemikiran kritis kita. Dengan demikian, dapatlah dilihat bahwa sosiologi bukanlah suatu disiplin yang “mengawang-awang”, yang dengan demikian terpisah begitu saja dalam kehidupan sehari-hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide-ide Menarik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sadarkah anda bahwa iklan shampo antiketombe memiliki implikasi yang luas bagi masyarakat? Mereka yang berketombe dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Sosiologi Sebagai Sarana “Pembebasan” Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada perkembangannya, muncul insiatif dari berbagai sosiolog dunia untuk menempatkan sosiologi tak hanya sebagai sarana menjelaskan berikut mendeskripsikan berbagai persoalan sosial, melainkan pula terjun langsung dan melakukan perubahan-perubahan dalam masyarakat guna menciptakan situasi dan kondisi sosial yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada awalnya, argumen di atas disampaikan oleh Karl Marx yang begitu prihatin akan kehidupan kaum buruh dan berupaya keras membebaskan mereka dari kesewenang-wenangan eksploitasi yang dilakukan kaum borjuis. Nantinya, buah pemikiran Marx tersebut mengalami perkembangan pesat di tangan para intelektual sosial seperti Herbert Marcuse, Theodor Adorno dan Max Hokheimer yang tergabung dalam Mahzab/Aliran Frankfurt.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dengan demikian, dapatlah dilihat bahwa dalam perkembangannya kemudian sosiologi tak menjadi ilmu yang sekedar menjelaskan permasalahan masyarakat, melainkan pula menjadi suatu disiplin ilmu yang dapat dijadikan “alat” atau “media” guna membebaskan berikut memperjuangkan masyarakat agar keluar dari permasalahan yang dihadapinya dan menuju pada situasi serta kondisi hidup yang lebih baik. Itulah mengapa para aktivis sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan lain sebagainya menggemari disiplin ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Metode Penelitian dalam Sosiologi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam sosiologi, metode penelitian merupakan “cara” atau “langkah” untuk mengungkap, memperdalam atau menemukan suatu fenomena sosial atau permasalahan sosial. Metode penelitian merupakan perihal penting bagi setiap sosiolog, karena melalui hal tersebutlah berbagai permasalahan sosial dapat dijelaskan dan dicarikan solusinya kemudian. Subab ini akan membahas lebih lanjut berbagai metode penelitian yang terdapat dalam sosiologi, antara lain metode kuantitatif dan kualitatif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Metode Kuantitatif&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam sosiologi, metode kuantitatif kerap diidentikan dengan metode survey, hal tersebut tak menjadi soal. Istilah “kuantitatif” yang berasal dari kata “kuantitas” secara sederhana dapat diartikan sebagai “hitungan” atau “angka”. Metode ini berupaya menyederhanakan berbagai persoalan masyarakat ke dalam angka-angka dengan media berupa questioner (lembar pertanyaan). Adapun upaya memperoleh informasi masyarakat (responden/pihak yang diteliti) melalui questioner dapat dilakukan dengan dua cara, peneliti menyerahkannya langsung pada responden atau peneliti mendiktekan questioner tersebut kepada responden. Satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengisian questioner adalah keharusan responden menjawab seluruh pertanyaan dalam questioner, apabila satu saja pertanyaan terlewati atau “lowong”, maka hasil penelitian kuantitatif/survey dapat dikatakan tidak valid atau tidak memenuhi persyaratan. Metode ini biasa digunakan bagi penelitian dengan cakupan permasalahan yang begitu luas dan melibatkan banyak pihak yang diteliti, semisal penelitian mengenai pertumbuhan penduduk, pendapatan perkapita masyarakat, banyaknya pengangguran, angka kematian ibu melahirkan di suatu daerah dan lain sebagainya. Hasil akhir dari penelitian kuantitaif adalah bagan, statistik berikut grafik di mana “angka-angka” bermain di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Metode Kualitatif&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Berbeda halnya dengan metode kuantitatif, metode kualitatif lebih menekankan “kualitas” ketimbang hitungan dan angka-angka. Apa yang dimaksud dengan kualitas di sini adalah sesuatu yang “abstrak”, “tak kasat mata” dan tak dapat sekedar disederhanakan atau diukur ke dalam angka-angka, umumnya terkait motivasi atau latar belakang seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Cara memperoleh informasi dalam metode ini dilakukan melalui wawancara atau interview. Dalam proses wawancara, peneliti wajib berempati atau menempatkan diri sebagaimana situasi dan kondisi yang dialami responden. Penelitian ini umumnya digunakan dalam studi kasus, dalam ranah yang spesifik (tak luas) dan sekedar melibatkan sedikit responden, ditujukan bagi berbagai fenomena “langka” dan “tak umum” yang terjadi di masyarakat seperti penelitian mengenai seseorang yang melakukan pembunuhan berantai atau seseorang yang gemar melakukan pelecehan seksual. Satu hal yang patut diperhatikan dalam penelitian ini adalah, peneliti wajib menuliskan berbagai pernyataan responden tanpa merubah atau merombaknya sedikitpun. Hasil akhir dari penelitian ini berupa deskripsi atau ekplanasi terhadap suatu persoalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Ide Pokok Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Auguste Comte merupakan pencetus disiplin sosiologi.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Sosiologi lahir sebagai respon atas Revolusi Industri abad 19 yang membawa berbagai dampak negatif bagi masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Beberapa tokoh yang berperan penting dalam perkembangan sosiologi pasca-Auguste Comte adalah Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkheim.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Sosiologi terbagi ke dalam tiga aliran pemikiran, antara lain fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Sosiologi berfungsi untuk menjelaskan berikut memecahkan persoalan dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Metode penelitian yang digunakan dalam sosiologi adalah metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-2596399067408871996?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/2596399067408871996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/pengantar-sosiologi-i_9981.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2596399067408871996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2596399067408871996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/pengantar-sosiologi-i_9981.html' title='Pengantar Sosiologi I'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ur9MQXozNpo/TZRmnaOSKCI/AAAAAAAAAO0/Lt99-jGT_GI/s72-c/fs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-185156473236427709</id><published>2011-03-30T12:40:00.002+07:00</published><updated>2011-03-30T12:49:17.959+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sosiologi Modern'/><title type='text'>Struktural Fungsional: Akar Pemikiran, Sumbangsih Konseptual hingga Kritik atas Tokoh.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Akar Pemikiran&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Struktural fungsional atau fungsionalisme struktural merupakan salah satu cabang pengkajian makrososiologi yang berada pada tataran disiplin sosiologi “modern”[1]. Teori terkait merupakan perkembangan sosiologi klasik Durkheim yang menempatkan masyarakat sebagai organisme sosial, yakni suatu entitas (kesatuan) yang tersusun atas berbagai elemen dengan peran berikut fungsinya masing-masing. Menurutnya, kerusakan atau disfungsional pada salah satu elemen akan menganggu atau merusak keseluruhan elemen. Hal tersebut didasarkan pula pada konsep division of labour 'pembagian kerja' Durkheim. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan skema berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-i4nlDcWvAvA/TZLDTrDz_MI/AAAAAAAAANo/KdEJaF1PQAY/s1600/multiple_intelligences_9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-i4nlDcWvAvA/TZLDTrDz_MI/AAAAAAAAANo/KdEJaF1PQAY/s320/multiple_intelligences_9.jpg" width="282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Skema di atas menunjukkan keterkaitan antara satu elemen dengan elemen lainnya, kerusakan elemen satu akan mempengaruhi elemen dua, tiga dan empat. Begitu pula, kerusakan pada elemen tiga akan mempengaruhi berbagai elemen lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tokoh dan Asumsi Pemikiran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sosiolog yang berdiri di balik pemahaman struktural fungsional antara lain Talcott Parsons, Robert K. Merton, Kingsley Davis, Marion J. Levy dan FX. Sutton. Setidaknya, terdapat beberapa asumsi pemikiran yang mereka kembangkan mengenai struktural fungsional, antara lain:&lt;br /&gt;1.  Masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari berbagai subsistem dengan beragam peran berikut fungsinya masing-masing, kerusakan pada salah satu subsistem akan merusak seluruh keseimbangan sistem.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Beberapa tempo lalu, kebijakan seorang direktur yang menaikkan gaji jabatannya nyaris tiga kali lipat menuai protes banyak karyawan, bahkan mereka sempat mengancam bakal melakukan aksi mogok kerja Apabila hal tersebut benar-benar terjadi, maka produksi pun akan mengalami stagnasi atau kelumpuhan.&lt;br /&gt;2.  Segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat akan eksis dengan sendirinya, dan begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Kehidupan masyarakat modern yang begitu efisien mensyaratkan pula hadirnya    media hiburan yang bersifat instan. Kiranya, hal tersebut dapat menjelaskan   tergerusnya pagelaran wayang semalam suntuk yang segera tergantikan dengan masifnya kehadiran bioskop di kota-kota besar.&lt;br /&gt;3.  Perubahan sosial atau pergolakan dalam masyarakat ditempatkan sebagai upaya mencapai keseimbangan baru.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;·         Gelas berisi air yang dimasuki kerikil akan beriak untuk sementara waktu, kemudian kembali tenang. Selisih antara volum awal air dalam gelas dengan sesudahnya dapat diandaikan sebagai perubahan sosial.&lt;br /&gt;·         Ketika seorang anak tengah terjun dalam kolam bola (baca: mandi bola), bola yang terdapat di dalamnya berserakan tak karuan (chaos), namun setelah ia keluar dari kolam tersebut, maka bola akan kembali rapi dengan sendirinya.&lt;br /&gt;·         Periode-periode tenang di antara Perang Dunia I dan II, Perang Dunia II dan Perang Dingin, serta periode tenang antara Perang Dingin dengan perang melawan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Bagan Struktural Fungsional-Parsons&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;               Latency&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;                  Subsis. Kebudayaan                &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;               Integration&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Subsis. Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;               Goal Attaintment&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;         Subsis. Kepribadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;               Adaptation&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Subsis. Biologis           &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;                                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;       Bagan struktural fungsional susunan Parsons di atas menunjukkan bahwa adaptation 'adaptasi' merupakan fungsi subsistem biologis, sedang goal attaintment 'pencapaian tujuan' merupakan fungsi subsistem kepribadian, integration 'integrasi' fungsi dari subsistem sosial, serta latency 'latensi' fungsi dari subsistem kebudayaan. Lebih jauh, bagan terkait menunjukkan bahwa semakin ke atas maka membawa arus informasi dan menuju “sistem metafisika”, sedang semakin ke bawah membawa kalor berikut menuju “sistem fisika”. Rangkaian konsep struktural fungsional Parsons tersebut dapat dimisalkan dengan contoh konkret sebagai berikut.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;       Seseorang yang merasa haus kemudian menyahut begitu saja air minum milik orang lain dapat dikatakan lebih condong pada pemenuhan biologis (subsistem biologis) dan sistem fisika. Sebaliknya, seseorang yang menahan dahaganya dan tak begitu saja menyahut air minum milik orang lain, lebih pada kerangka pemikiran metafisika. Oleh karenanya, dijelaskan bahwa semakin ke atas (metafisika) membawa arus informasi, “informasi” sebagaimana dimaksudkan di sini adalah nilai serta norma sosial, kebudayaan atau agama, sedang semakin ke bawah (fisika) membawa kalor. Dalam hal ini, “kalor” bukanlah suatu energi akodrati atau transenden sebagaimana dimensi informasi yang mengarah pada metafisika, melainkan energi dalam bentuknya yang konkret, seberapa banyak seseorang melakukan pembakaran energi guna melakukan aktivitasnya—satuan kalor.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lebih jauh, fungsionalisme struktural Parsons tidaklah berdimensi praksis, melainkan sekedar ditempatkan guna menjelaskan fenomena sosial di mana salah satunya: terdapat masyarakat di suatu belahan dunia yang lebih condong pada sistem metafisika, sedang belahan lainnya lebih pada sistem fisika. Namun, kedua entitas masyarakat tersebut bukannya tak mungkin ber-kooperasi satu sama lain, sebagaimana asumsi dasar struktural fungsional—masyarakat sebagai organisme sosial—masyarakat fisika yang dapat diidentikkan dengan masyarakat Barat memberikan sumbangsih modernisme pada masyarakat Timur (metafisika), sedang masyarakat Timur memberikan akar-akar spiritualitas semisal yoga guna mengisi kehampaan spiritual masyarakat Barat.[2]&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumbangsih Konseptual Struktural Fungsionalisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, struktural fungsional berjasa bagi beberapa arus pemikiran yang lahir setelahnya, antara lain feminisme liberal dan strukturalisme. Asumsi dasar yang dibangun feminisme liberal adalah, pada hakekatnya pria dan wanita saling membutuhkan serta memiliki peran berikut fungsinya masing-masing, dengan demikian arogansi kaum Adam terhadap Hawa sesungguhnya sama sekali tak beralasan. Mereka (kaum feminisme liberal) berupaya menyebarkan berbagai idenya melalui jalur edukasi (pendidikan).&lt;br /&gt;Di sisi lain, sumbangsih struktural fungsional atas strukturalisme dapat ditilik melalui penjelasan Parsons mengenai determinisme budaya. Menurutnya, pola pikir dan perilaku individu tak dapat lepas dari nilai berikut norma sosial-budaya yang melingkupinya. Lebih jauh, hal tersebutlah yang menjadi pengikat antara satu sama lain sehingga suatu kesatuan masyarakat dapat terbentuk, yakni eksisnya hak dan kewajiban antar sesama individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kritik atas Struktural Fungsional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di samping tak dapat menjelaskan fenomena perubahan/pergolakan sosial karena sekedar menempatkannya sebagai upaya guna mencapai keseimbangan baru, struktural fungsional menuai kritikan keras pula karena dinilai pro status-quo dan melegitimasi kesewenang-wenangan pihak dominan atas dormant. Kritikan tersebut hadir melalui Pitrim Sorokin dengan menilik catatan sejarah penderitaan para buruh di bawah kekuasaan feodalisme Eropa. Pungkasnya, “Apakah para buruh membutuhkan eksploitasi kaum feodal?”.&lt;br /&gt;Begitu pula, apabila kita menilik sistem kasta dalam masyarakat India, kacamata struktural fungsionalis akan melihatnya sebagai perihal yang wajar dan dapat dimaklumi, bahkan menganggapnya sebagai kondisi masyarakat yang “harmonis”. Hal tersebut akan berkebalikan jauh bilamana kita menggunakan perspektif konflik Dahrendorf, Coser atau Mill. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;·         Ritzer, George-Goodman, Douglas J. 2006. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.&lt;br /&gt;·         Usman, Sunyoto. 2004. Sosiologi: Sejarah, Teori dan Metodologi. Yogyakarta: Cired.&lt;br /&gt;·         Zeitlin, Irving M. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∞&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]  Apabila sosiologi klasik dicirikan sebagai peletak dasar konstruksi disiplin sosiologi serta bersifat “historis”, maka sosiologi modern dicirikan dengan bentuknya yang rasional, universal dan ahistoris. &lt;br /&gt;[2]  Terkait semisal di atas, struktural fungsional tak pernah mendefinisikan terminus “masyarakat” secara konkret, apabila masyarakat diartikan sebagai entitas yang “mandiri” dan mampu me-reproduksi dirinya sendiri, maka masyarakat desa pun bergantung pada kota, sedang masyarakat kota bergantung pada negara, dan negara bergantung pada negara lain (masyarakat internasional). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-185156473236427709?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/185156473236427709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/struktural-fungsional-akar-pemikiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/185156473236427709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/185156473236427709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/struktural-fungsional-akar-pemikiran.html' title='Struktural Fungsional: Akar Pemikiran, Sumbangsih Konseptual hingga Kritik atas Tokoh.'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-i4nlDcWvAvA/TZLDTrDz_MI/AAAAAAAAANo/KdEJaF1PQAY/s72-c/multiple_intelligences_9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-2617629378453250815</id><published>2011-03-21T22:50:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T14:54:47.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi'/><title type='text'>Pembangunan Sosial di Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sebuah Perspektif Institusional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perspektif Institusional berpendapat bahwa institusi sosial yang berbeda termasuk negara, pasar dan masyarakat dapat dimobilisasi untuk mengangkat tujuan pembangunan sosial. Pemerintah seharusnya secara aktif mengarahkan proses pembangunan sosial dengan cara memaksimalkan partisipasi masyarakat, pasar, dan individu, selain menfasilitasi dan mengarahkan pembangunan sosial, pemerintah juga seharusnya memberiakn konstribusi langsung pada pembangunan sosial lewat bermacam kebijakan dan program sektor publik Perspektif institusional membutuhkan bentuk organisasi formal yang bertanggungjawab untuk mengatur usaha pembangunan sosial dan mengharmonisasikan implementasi dari berbagai pendekatan strategis yang berbeda. Organisasi seperti ini berada pada tingkat yang berbeda tetapi tetap harus dikoordinaasikan pada tingkat nasional. Mereka juga mempekerjakan tenaga spesialis yang terlatih dan terampil untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akar Ideologi Institusionalisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perspektif institusional pada pembangunan sosial memiliki akar pada usaha untuk mengangkat toleransi dan koeksistensi terhadap paham yang berbeda. Pada Eropa modern, ide ini dapat ditelusuri kembali pada zaman reinansance, ketika ilmuan seperti sir Thomas More dan Desiderius Erasmus yang pertama kali menyerukan toleransi beragama. Menurut D.J. Manning paham utopia More ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memegang dan mengekspresikan paham keberagaman mereka tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba dan mengubah keyakinan lain dengan damai, lembut, tenteram tanpa harus berkoar-koar dan memaksa satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dasar Teoritis Pendekatan Institusional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi paham ideologis pada pemikiran barat menfasilitasi formulasi teori ilmu sosial yang merupakan sebuah kompromi antara kapitalisme laissez-faire dan komunisme. Para ilmuan yang mengartikulasikan teori ini bergabung dengan kelompok politik pada pusat sebuah spektrum ideologis tetapi tulisan mereka lebih membahas jauh ideologi dan memberikan penjelasan teoritis yang lengkap yang kondusif untuk formulasi kebijakan dan program praktis. Istilah institusionalisme sangat terkait dengan tulisan seorang ahli ekonomi Amerika, Thorstein Veblen yang pertama kali menentang klaim pakar ekonomi neo-klasikal yang berpandangan bahwa pasar adalah satu-satunya mekanisme institusional untuk mencapai kemakmuran. Veblen menolak pandangan ini dan menunjuk motif sosial dan dorongan pada masyarakat yang lebih luas yang membentuk prilaku ekonomi. Ia berpendapat bahwa pencapaian kepentingan ekonomi adalah salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi motif manusia. Ia berpendapat bahwa masyarakat sebagai institusi yang lebih luas sama pentingnya dengan pasar dalam menentukan perilaku ekonomi. Penekanan Veblen pada institusi sosial yang lebih luas daripada pertimbangan ekonomi yang sempit yang akhirnya menggiring penggunaan istilah institusionalisme untuk menggambarkan ide-ide beliau.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Statisme/Campur Tangan Negara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penganut paham institusionalisme lebih dipengaruhi oleh ideologi kolektivitasme dan intervensionisme statisme daripada tradisi reformis liberal. Mereka termasuk R.H Tawney, Richard Titmuss dan Gunnar Myrdal dan banyak lainnya. Walaupun para penulis ini banyak dikaitkan sebagai penganut paham sosialis demokratis daripada paham dari Veblen. Baik Tawney dan Titmuss menekankan pada pentingnya nilai dan institusi yang lebih luas dalam kehidupan sosial dan keduanya mengkritik keras perilaku kompetitif seperti yang Tawney sebut sebagai acquisitive society atau masyarakat yang rakus atau Titmuse menyebutnya dengan the Irresponsible Society atau masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Tulisan mereka banyak diwarnai dengan penekanan pada nilai solidaritas, seperti Durkheim, Tawney berpendapat bahwa baik perekonomian maupun aktifitas sosial seharusnya direncanakan oleh pemerintah dengan tujuan yang diarahkan untuk meningkatkan solidaritas dan meminimalisir pembagian kelas dan pembagian lain yang merintangi ekspresi kemanusiaan rakyat. Tawney dan Titmuss dengan kuat mendorong akan keterlibatan negara, statisme atau keterlibatan negara bukan hanya sebuah mekanisme dalam mengatur perekonomian dan memberikan layanan sosial, tetapi menjadi jalan untuk mengangkat nilai sosial dan moral yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Korporatisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh lain dalam perspektif institusional pada pembangunan sosial adalah korporatisme. Korporatisme adalah teori yang representatif yang berdasarkan pada studi bagaimana pemerintah di banyak masyarakat industri telah berusaha untuk menciptakan kesatuan yang berlangsung lama antara mereka, perserikatan buruh dan bisnis dalam sebuah usaha mengurangi konflik. Merencanakan perekonomian dan mengangkat kesejahteraan sosial. Masyarkat korporasi berbeda dengan negara sosialis dan komunis yang pemerintahnya tidak memiliki atau mengontrol perekonomian. Mereka juga berbeda dengan masyarakat kapitalis yang lebih turun tangan dan berkomitmen untuk mengarahkan ekonomi dan kebijakan sosial dalam koalisi antara buruh dan industri. Dalam istilahnya yang klasik, Philippe Schmitter (1974) mengatakan bahwa korporatisme adalah sebuah sistem sosial dengan kepentingan kelompoknya yang teratur pada kategori yang terbatas yang tidak kompetitif secara fungis berbeda lewat badan aktif negara. Meraka menyetujui hak monopoli yang mewakili anggotanya dan mereka setuju untuk berpartisipasi dalam struktur korporasi dan terikat dengan persetujuan yang telah dibuat, oleh karena itu korporatisme sangat berdasar pada negoisasi dan prospek menjaga keuntungan oleh kelompok konstituen. Tetapi ia juga ditandai dengan keinginan mengurangi konflik dan mendukung kepentingan secara equilibrium. Korporatisme ini juga berdasarkan pada ide bahwa persetujuan yang telah dinegoisasikan antara pihak pemerintah, buruh dan bisnis akan mendukung kepentingan bersama dan kebaikan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penerapan Perspektif Institusional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan selanjutnya adalah bagaimana perspektif institusional pada pembangunan sosial dapat diimplementasikan dengan diawali dengan sebuah diskusi organisasional juga kesepakatan tenaga profesional yang dibutuhkan untuk mendukung pendekatan ini, juga mempertimbangkan peran pemerintah dalam mengkoordinasikan berbagai strategi untuk mencapai tujuan pembangunan sosial, perspektif ini mengkaji ulang keadaan sosiospatial dimana strategi pembangunan sosial dapat diperkenalkan dan ini juga mempertimbangkan mekanisme agar kebijakan pembangunan sosial dan ekonomi dapat di integrasikan. Dasar organisational untuk pembangunan sosial Penganut paham individuali dan komunitarian percaya bahwa pembangunan sosial dapat ditunjang pada tingkat lokal, lewat usaha yang dilakukan masyarakat sendiri bukan anggota parlemen yang dipilih oleh cara pemilu yang konvensional. Komunitarianisme juga mengenal konstribusi yang dilakukan organisasi non pemerintah dalam mengangkat pembangunan sosial. Mereka percaya bahwa organisasi-organisasi ini memberikan dasar organisatoris yang lebih efektif dalam pembangunan sosial dibanding dengan badan pemerintah yang terkadang mereka tuduh karena tidak efisien bahkan melakukan korupsi Pendukung strategi pembangunan sosial individualis setuju dengan kritik komunitarian tentang intervensi negara, mereka percaya bahwa kontrol negara pada pembangunan sosial mendorong ketergantungan dan merugikan bagi tanggungjawab individu dalam kesejahteraan. Tetapi pendukung paham ini tidak memiliki pandangan terartikulasikan dengan jelas tentang kerangka organisatoris yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan usaha pembangunan sosial. Tetapi mereka mengetahui bahwa implementasi yang efektif dalam strategi usaha membutuhkan sebuah dasar organisator, pengerahan tenaga kerja dan sebuah komitmen dan pihak pemimpin politik. Peranan Tenaga Profesional dan Profesionalisme dalam Pembangunan Sosial Sebagai sebuah profesi pekerjaan sosial dapat ditempatkan untuk memberikan pelatihan yang menyeluruh dalam pembangunan sosial. Keahlian mereka dalam bekerja dengan individu, masyarakat dan lingkungan administratif sangat kondusif untuk mengimplementasikan kebijakan dan program pembangunan ekonomi. Profesi ini belum mengambil langkah untuk memastikan bahwa pendidikan pekerjaan sosial cukup siap untuk memberikan pelatihan yang tepat bagi merak yang ingin terjun kelapangan. Tetapi muncul tanda bahwa hal ini telah banyak diketahui dengan hadirnya lebih banyak sekolah pekerjaan sosial baik di negara industri dan berkembang yang memperkenalkan kelas pembangunan sosial khusus (Midgley, 1994) Tenaga profesional pembangunan sosial harus secara jelas mengindentifikasikan peran dan tanggungjawabnya. Ini berbeda dan dibutuhkan riset pada kebutuhan dan masalah sosial, definisi tujuan pembangunan sosial yang spesifik, formulasi kebijakan dan program pembangunan sosial, memonitor hasil dan menghilangkan rintangan atau hambatan dalam kemajuan sosial. Seluruh tugas ini harus diambil sejalan dengan proses yang lebih luas dalam pembangunan ekonomi. Hal ini membutuhkan kerjasama erat dengan ahli ekonomi pada level yang berbeda dimana inisiatif pembangunan diformulasikan. Ini termasuk pada tingkat lokal, masyarakat, regional dan nasional, yang juga relevan adalah macam-maaacam intervensi. Aspek ekonomi dan sosial harus diintegrasikan dalam perencanaan nasional, sektoral dan proyek. Lokasi Usaha Pembangunan Usaha untuk mengangkat pembangunan sosial terjadi pada konteks sosio-spatial yang sudah didefinisikan. Pembangunan sosial, seperti pembangunan ekonomi, terfokus pada kondisi sosio-spatial, lokal, daerah dan masyarakat, kesemuanya memberikan kontribusinya tersendiri pada fokus makro pembangunan. Perspektif institusional pada pembangunan sosial membutuhkan strategi pembangunan sosial yang diimplementasikan pada ketiga level dan usaha ketiga level ini harus dapat dikoordinasikan. Level negara, merupakan satu unit bagi banyak aktivitas pembangunan. Negara merupakan sebuah produk diplomasi international dan usaha politik sepanjang dua abad ini. Hal ini merupakan hal yang relatif baru bahwa ide tentang kelompok etnis dan negara dapat ditempatkan dalam batasan politik yang telah ditentukan dan diatur oleh pemimpin politik dari latar belakang etnik dan bangsa yang sama semakin dikenal Level nasional, perspektif institusional membutuhkan kebijakan dan program pembangunan sosial yang diformulasikan dan implementasikan pada tingkat regional dan lokal juga usaha-usaha ini dapat diharmonisasikan ke dalam kerangka kebijakan pembangunan sosial yang lebih luas Strategi pembangunan sosial dapat diterapkan secara efektif dalam konteks pembangunan regional seperti dalam pembangunan nasional. Secara tipikal, pembangunan regional terfokus pada daerah yang tidak berkembang dan berusaha untuk mempromosikan perekonomian dan transformasi sosial mereka. Tingkat lokal, maksudnya tingkat kota kecil, kampung dan lingkungan pada daerah pedesaan atau komunitas dalam kota. Pembangunan sosial dimulai dengan usaha untuk mengangkat perkembangan masyarakat di desa. Agar tujuan pembangunan sosial ini dapat di capai, ini penting tidak hanya strategi pembangunan sosial dapat diintegrasikan dalam pembangunan ekonomi tetapi juga dikaitkan dengan konteks sosio-spatial lainnya. Pendekatan institusional berusaha untuk memastikan usaha pembangunan sosial dan ekonomi terjadi dan secara efektif diharmonisasikan pada level nasional, regional dan lokal. Pendekatan yang berbeda ini dapat menfasilitasi perbaikan dalam semua level dan mendukung kesejahteraan bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-2617629378453250815?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/2617629378453250815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/membangun-pembangunan-sosial-masyarakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2617629378453250815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2617629378453250815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2011/03/membangun-pembangunan-sosial-masyarakat.html' title='Pembangunan Sosial di Masyarakat'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1771079697988178836</id><published>2010-10-22T16:39:00.000+07:00</published><updated>2010-10-22T16:43:02.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi'/><title type='text'>Perkembangan Sosiologi setelah Perang Dunia ke II</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Perkembangan  sosiologi setelah Perang Dunia II banyak dipengaruhi perkembangan  sosiologi di dalam dunia kampus perguruan tinggi. Mata kuliah sosiologi  untuk pertama kali diajarkan dalam bahasa Indonesia oleh Soenario  Kolopaking pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta yang kini dilebur ke  dalam Universitas Gadjah Mada dan menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan  Politik. Selain itu dibukanya kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk  memperdalam ilmu sosiologi di luar negeri menjadi pendorong  berkembangnya sosiologi di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Selain  itu perkembangan sosiologi di Indonesia didukung oleh munculnya  buku-buku sosiologi karangan orang Indonesia dengan menggunakan Bahasa  Indonesia dan hadirnya buku-buku sosiologi dari luar negeri dalam bahasa  terjemahan. Djody Gondokusumo &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;(Sosiologi Indonesia) &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;merupakan  buku yang mulai diterbitkan setelah pecahnya revolusi fisik dan memuat  beberapa pengertian dasar dari sosiologi yang teoritis dan bersifat  sebagai filsafat. Hassan Shadily &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;(Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia) &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;merupakan  buku pelajaran pertama berbahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan  sosiologi yang modern dan dijadikan bahan ajar bagi para mahasiswa yang  mulai belajar sosiologi sebagai ilmu pembantu. Mayor Polak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;(Sosiologi Suatu Pengatar Ringkas&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;, dan buku yang berjudul &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum dan Politik).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Selo  Soemardjan juga menulis buku yang merupakan desartasinaya untuk  memperoleh gelar doctor di Cornell University, AS yang berjudul Social  Change in Yogyakarta. Selaian itu, Selo Soemardjan melalui bukunya yang  ditulis bersama Soelaiman Soemardi dengan judul Setangkai Bunga  Sosiologi dipakai sebagai bahan wajib pada beberapa perguruan tinggi  negeri dan swasta. Untuk selanjutnya, atas jasa-jasa Selo Soemardjan  dalam mengembangkan sosiologi di Indonesia, beliau sering dianggap  sebagai Bapak Sosiologi Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1771079697988178836?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1771079697988178836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/perkembangan-sosiologi-setelah-perang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1771079697988178836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1771079697988178836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/perkembangan-sosiologi-setelah-perang.html' title='Perkembangan Sosiologi setelah Perang Dunia ke II'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1339087189554659553</id><published>2010-10-22T16:37:00.001+07:00</published><updated>2010-10-22T16:41:28.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi'/><title type='text'>Sifat Hakekat Sosiologi</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Selo  Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam (Soekanto, 1982:20-23)  mengungkapkan mengenai beberapa sifat hakikat sosiologi sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi  adalah suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam  ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   bukan merupakan disiplin yang normative, akan tetapi merupakan   disiplin yang kategoris. Artinya sosiologi membatasi pada apa yang   terjadi dewasa ini, bukan mengenai apa yang terjadi dan seharusnya   terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi  merupakan ilmu pengetahuan murni (Pure Sci&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;ence) dan  bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan yang terpaka&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;i (Applied  Science)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   adalah ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu   pengetahuan yang konkret. Artinya, bahwa yang diperhatikan adalah   bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat tetapi bukan  wujudnya  yang konkret.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola   umum. Artinya, sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi  prinsip  atau hukum-hukum umum dari interaksi antar umat manusia dan  juga  perihal sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat  manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Artinya, bahwa   hal ini berkaitan denngansoal metode sosiologi yang digunakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi  merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu  pengetahuan yang khusus. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Artinya,  sosiologi mempelajari gejala umum yang ada dalam setiap interaksi  antar manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1339087189554659553?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1339087189554659553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/sifat-hakekat-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1339087189554659553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1339087189554659553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/sifat-hakekat-sosiologi.html' title='Sifat Hakekat Sosiologi'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-206742002713032830</id><published>2010-10-22T16:33:00.000+07:00</published><updated>2010-10-22T16:36:11.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi'/><title type='text'>Pengertian Sosiologi</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Soekanto  (1982:57) mengungkapkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari  struktur sosial dan proses sosial, termasuk di dalamnya  perubahan-perubahan social. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sosiologi  adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan yang kategoris, murni, abstrak,  berusaha memberi pengertian-pengertian umum, rasional, empiris dan  bersifat umum. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Masih dalam sumber yang sama dipaparkan mengenai beberapa definisi sosiologi dari beberapa ahli sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Pitirim   Sorokin, mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang   mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka gejala   social, gejala social dengan gejala non social, dan ciri-ciri umum   semua jenis gejala social.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Roucek  dan Warren, mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang hubungan  anatara manusia dalam kelompok-kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;William   F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff, berpendapat bahwa sosiologi adalah   penelitian seara ilmiah terhadap interaksi social dan hasilnya yaitu   organisasi social.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Selo   Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi atau   ilmu masyarakat adalah adalah ilmu yang mempelajari struktur social  dan  proses-proses social, termasuk perubahan social. (Soekanto,  1982:19)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-206742002713032830?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/206742002713032830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/pengertian-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/206742002713032830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/206742002713032830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/pengertian-sosiologi.html' title='Pengertian Sosiologi'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1744123213766153438</id><published>2010-10-22T16:31:00.000+07:00</published><updated>2010-10-22T16:32:20.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi'/><title type='text'>Ciri-Ciri Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.59cm; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Johnsons,  1967 (dalam Soekanto,1982:14-15) mengemukakan ciri-ciri sosiologi  sebagai Ilmu pengetahuan. Adapun ciri-ciri utamanya adalah sebagai  berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   bersifat empiris. Artinya sosiologi didasarkan pada observasi   terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat   spekulatif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi  besifat teoritis. Artinya sosiologi selalu berusaha menyusun  abstraksi dari hasil-hasil observasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   bersifat kumulatif. Artinya bahwa teori sosiologi dibentuk atas  dasar  teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas  atau  memperhalus teori-teori lama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,sans-serif;"&gt;Sosiologi   bersifat non-etis. Artinya permasalahan yang dipersoalkan bukanlah   buruk atau baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah  untuk  menjelaskan fakta tersebut secara analitis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1744123213766153438?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1744123213766153438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/ciri-ciri-sosiologi-sebagai-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1744123213766153438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1744123213766153438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/ciri-ciri-sosiologi-sebagai-ilmu.html' title='Ciri-Ciri Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-858092808042030992</id><published>2010-10-22T15:17:00.005+07:00</published><updated>2010-10-22T16:14:17.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi'/><title type='text'>Introduction</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hello, let’s join with radhitisme online in sociology education. In this part we’ll discuss about why did the sociology was studied as one of the lesson at the school? Why did the sociology become a lesson at the tertiary educational institutions? Why many people did consider that sociology identic with any criminal action, poverty, dirty of settlement, vagrant, prostitutions, demonstration and any bad image other? Why there were parts of the people consider that sociology as producer of trouble maker society? Why sociology did ever be considered as a dangerous ideology?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some questions above is not true with sociology image now. Now, sociology be interest knowledge for many people in the world. Sociology present so had become a medium strategic to social problem solving. Only to develop the word about sociology, take attention the social behavior on the one of isolated ethnic. Do they know the mean of sociology? Do they understand that they are became as object for knowledge of sociology? Had they aware that specialist of sociology has study their behavior with any research method and theoretical sociology? Can the isolated ethnic make a analysis to behavior them self in the sociological perspective? In the fact, what’s sociology? Why do we need learn it’s?&lt;br /&gt;The problems context above is main lesson that must answer after learn this chapter. It’s doesn’t only read the material in my website radhitisme, it’s more important if you cab be able to understand what our behavior and our community in beside us on the sociological perspective. Lets study next with me in radhitisme online and remain to save your spirit....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-858092808042030992?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/858092808042030992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/introduction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/858092808042030992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/858092808042030992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/introduction.html' title='Introduction'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1703007828611562649</id><published>2010-10-18T23:04:00.000+07:00</published><updated>2010-10-18T23:05:58.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Antara Angin dan Dia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;aku terbaring menatap langit-langit kamar dan aku ingat sesuatu&lt;br /&gt;tak sekedar ingat, tapi cukup bergaung di kepala penjelasan pak hamdani&lt;br /&gt;personifikasi yang membuat kematian menjadi hidup&lt;br /&gt;baru saja deras hujan yang tertiup angin membuatku membayangkan masa lalu&lt;br /&gt;ku beranjak, ku kenakan sebuah baju tebal kesayangan pemberiannya&lt;br /&gt;karena aku khawatir bila membuatnya khawatir kalau sampai angin merasuk tubuh ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;angin pernah membantu ahmad dhani ketika jatuh cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dia meminta angin untuk menyampaikan pesan cintanya, lalu angin bersenandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;apa aku jatuh cinta? angin membuat ku jatuh cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ku tanyakan berulang hal itu di kepala ku, apa aku jatuh cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ku buka memori lalu ketika ku ingat personifikasi, itu masa smp ku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yaa, kini ku ingat aku pernah berkeluh kesah pada angin tentang cinta ku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;lalu ku mulai menulis hal indah tentangnya yang masih ku ingat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ah, tentu ku ingat karena ku fikir saat mencintai dengan tulus, setiap momen pasti terkenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;alm. pak ginting pernah berkata 'berfikirlah 1x lebih banyak dari orang biasa'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;aku mencintai dia, sejak dulu, kini dan mungkin nanti karena aku tulus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kini ku minta angin menyimpan rasa ini, bawalah kemana kau mau wahai angin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ku mau kau menjaga dia, menjaga rasa itu agar tetap ada meski tak ada bagi nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sekarang ku duduk di teras bagai craig david yang sedang insomnia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;menatap langit gelap tertutup awan mendung dan hujan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;hanya kamu wahai angin, membelai ku dan menarik baju tebal ku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;aku tahu kamu ingin mengajak ku bergerak menata esok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;aku tahu pula kamu mengerti hidup ku harus tetap berjalan seperti mu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;untuk mu wahai angin, simpanlah rahasia bahwa sejak lama aku mencintainya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1703007828611562649?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1703007828611562649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/antara-angin-dan-dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1703007828611562649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1703007828611562649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/10/antara-angin-dan-dia.html' title='Antara Angin dan Dia'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-5488764993539672161</id><published>2010-09-05T03:58:00.001+07:00</published><updated>2010-09-05T04:02:39.717+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Menciptakan Lingkungan Perumahan Perkotaan yang Berkualitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__iz-26hrz2c/TIKzysBDpCI/AAAAAAAAAMs/pcQpJvExEB8/s1600/macet_piala_asia.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__iz-26hrz2c/TIKzysBDpCI/AAAAAAAAAMs/pcQpJvExEB8/s320/macet_piala_asia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513166577245332514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CRadhit%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CRadhit%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CRadhit%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-family:"Tahoma","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kualitas suatu lingkungan merupakan salah satu persoalan utama di dalam perancangan kota dan selalu menjadi perdebatan. Perdebatan tersebut tidak terlepas dari dinamika pendekatan masalah perancangan kota itu sendiri sebagai bagian dari sebuah proses pembangunan kota yang bersifat multidimensi. Orientasi perancangan kota yang ada pada ada pada awalnya cenderung melihat persoalan kualitas lingkungan kota secara fisik (sosial) juga mulai bergeser pada isu-isu yang lebih berkelanjutan. Akan tetapi, permasalahan tidak berhenti sampai disitu saja karena konsep dasar keberlanjutan itu sendiri mencakup beberapa dimensi di dalamnya yaitu dimensi sosial, lingkungan (ekologis), maupun ekonomi. Dengan demikian ukuran kualitas lingkungan kota menjadi suatu hal yang tidak sederhana seperti yang dipikirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Prinsip perancangan kota karenanya harus menawarkan harapan akan pertumbuhan ekonomi serta mendorong peningkatan kualitas hidup dan menjadikan kota mejadi lebih berkelanjutan (Moghtin, 1996). Berbagai pendekatan muncul dan salah satu yang banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang berkelanjutan adalah dimensi ekologi. Pendekatan ini merupakan respon atas berbagai kenyataan yang memperlihatkan besarnya skala dampak yang ditimbulkan akibat dari kerusakan lingkungan. Kualitas lingkungan perkotaan karenanya tidak cukup hanya dikaitkan dengan aspek fisik yang terkait visual dan spasial. Kualitas lingkungan perkotaan juga harus dilihat dari kemampuannya menjadi tempat tinggal dan bekerja yang menyenangkan serta mampu mendorong keragaman hayati, integritas ekologi serta menjaga sumberdaya alamiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kriteria kualitas lingkungan tersebut tampaknya perlu menjadi perhatian terutama dalam pengembangan perumahan di perkotaan. Sebagai bagian dari sistem perkotaan, pengembangan perumahan mempunyai pengaruh sangat penting terhadap kualitas lingkungan perkotaan. Pengembangan perumahan mampu mendorong kapasitas pertumbuhan dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan baik secara sosial maupun fisik. Namun banyaknya kebutuhan lahan untuk pengembangan perumahan berdampak pada berkurangnya kemampuan lingkungan alam. Untuk itu pengembangan perumahan perkotaan harus dapat mengefisienkan dan mengefektifkan penggunaan sumberdayanya yang sangat terbatas khususnya tanah perkotaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Saat ini dalam memenuhi kebutuhan perumahan, pemerintah terus mendorong pemilikan rumah melalui pengembangan perumahan menengah ke bawah. Upaya tersebut tidak lepas dari banyaknya manfaat pemilikan rumah baik secara sosial, ekonomi maupun lingkungan. Pemilikan rumah diyakini dapat membantu menstabilkan lingkungan ketetanggaan (&lt;i&gt;neighborhood&lt;/i&gt;) dan memperkuat komunitas. Strategi ini juga menciptakan insentif bagi lingkungan dan individual yang penting untuk memelihara dan memperbaiki properti pribadi dan ruang publik. Semua itu merupakan syarat untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang berkualitas. Namun pemilikan rumah oleh keluarga menengah ke bawah ternyata tidak otomatis menghadirkan manfaat secara optimal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Orientasi pengembangan yang lebih terfokus pada kuantitas daripada kualitas telah mempengaruhi buruknya kualitas lingkungan perkotaan seperti diindikasikan dengan fenomena rumah kosong pada perumahan menengah ke bawah. Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan perumahan mengalami penurunan kualitas akibat rumah-rumah dibiarkan kosong. Hal yang tampak menjelaskan bahwa faktor prasarana dasar mempunyai pengaruh menentukan kualitas lingkungan perumahan. Pentingnya peranan faktor ini dapat menjadi dasar strategi untuk meningkatkan kualitas lingkungan perumahan di perkotaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tuntutan tersebut tentunya sulit untuk realisasikan apabila diterjemahkan secara sempit oleh para pengembang perumahan. Untuk menaggulangi persoalan kualitas prasarana dasar tersebut pemerintah seharusnya dapat mengambil alih peran penyediaan yang selama ini dibebankan kepada para pengembang. Dengan demikian tidak ada upaya penurunan kualitas oleh pengembang sehingga pengembangan perumahan menjadikan lingkungan perkotaan yang lebih berkualitas yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi serta sosial dan mendorong peningkatan kualitas hidup dan menjadikan kota lebih berkelanjutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-5488764993539672161?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/5488764993539672161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/09/menciptakan-lingkungan-perumahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/5488764993539672161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/5488764993539672161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/09/menciptakan-lingkungan-perumahan.html' title='Menciptakan Lingkungan Perumahan Perkotaan yang Berkualitas'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__iz-26hrz2c/TIKzysBDpCI/AAAAAAAAAMs/pcQpJvExEB8/s72-c/macet_piala_asia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-9147599046257627107</id><published>2010-06-24T23:18:00.001+07:00</published><updated>2010-06-24T23:20:26.475+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Lagu-lagu masa kecil kita ternyata menyesatkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata lagu anak-anak yang populer banyak mengandung kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi. Berikut buktinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!” Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) . Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. “Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya .. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta- Bandung dan Jakarta-Surabaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”&lt;br /&gt;Ini jelas lagu dewasa dan untuk konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. “nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk”&lt;br /&gt;Anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg “mengancam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “Bintang kecil dilangit yg biru…”&lt;br /&gt;Bintang khan adanya malem, lah kalo malem bukannya langit item?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. “Ibu kita Kartini…harum namanya.”&lt;br /&gt;Namanya Kartini atau Harum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. naik delman istimewa kududuk di muka.”&lt;br /&gt;Nah,gak sopan khan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. “Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”&lt;br /&gt;kalo mau nanam jagung, ngapain nyangkul dalam-dalam                                     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-9147599046257627107?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/9147599046257627107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/06/lagu-lagu-masa-kecil-kita-ternyata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/9147599046257627107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/9147599046257627107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/06/lagu-lagu-masa-kecil-kita-ternyata.html' title='Lagu-lagu masa kecil kita ternyata menyesatkan'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1158586835021947436</id><published>2010-05-31T09:49:00.001+07:00</published><updated>2010-05-31T09:49:52.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Sebuah jaman adalah sebuah buku.&lt;/strong&gt; Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tanggal-tanggal yang telah lampau menjelma menjadi nomor-nomor halaman. Apa yang dilakukan pemimpin, mungkin menjadi judul dari tiap-tiap bab. Dan tentang rakyat, terkadang ia menjelma sekedar sebagai catatan kaki. Ia sebuah buku, dengan daftar isi kemerdekaan atau kolonialisasi. Ia sebuah buku, dengan prolog preambule konstitusi, dengan epilog yang tak pernah pasti.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Dan pada suatu hari yang telah lampau, seorang pemuda dari Tapanuli menyadari hal ini. Ia mengumpulkan rekaman jaman, membuatnya sebagai sebuah buku, lalu memberinya pengantar. Bahwa sebuah pekerjaan untuk memaparkan geliat manusia dan ragam tingkahnya, serta memahami perubahan keadaan, telah diambilnya. Sementara itu sejarah berjalan.. Demikian kepada para pembaca ia mencoba mengantar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Pemuda itu adalah seorang guru di Palembang, yang kemudian memimpin Pandji Pustaka. Namanya Sutan Takdir Alisjahbana. Dan buku itu adalah kumpulan Puisi Baru. Terbit sembilan bulan setelah kemerdekaan Republik. Tercetak angka 1946, bersampul tipis berwarna kuning hitam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Dan begitulah sebuah jaman yang dibukukan. Lalu kita dibawa untuk membaca keadaan. Ada cinta, desa, perjuangan, impian kemerdekaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Lihatlah sekelumit kecil petikan bait-baitnya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Dalam Masjarakat&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Abdoel Hadi&lt;/em&gt;, 1914)&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Hatiku gemas bertjampur sedih,&lt;br /&gt;Mikirkan nasib kami melarat.&lt;br /&gt;Ideaal benderang melambai djiwa&lt;br /&gt;Badan diikat rantai masjarakat&lt;br /&gt;--&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Fantasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Bendera perdjuangan berkibar lagi,&lt;br /&gt;Gembira bertepuk atas kepalaku&lt;br /&gt;Darahku melantjar gembira pula&lt;br /&gt;Debar-berdebur dalam dadaku&lt;br /&gt;--&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Marhaen &lt;/strong&gt;(&lt;em&gt;Sanoesi Pane&lt;/em&gt;, 1905)&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Dewata lupa kepada kami,&lt;br /&gt;Kaum marhaen anak sengsara,&lt;br /&gt;Kami bekerdja setengah mati,&lt;br /&gt;Orang bersenang tertawa-tawa&lt;br /&gt;--&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Menjiangi Padi &lt;/strong&gt;(&lt;em&gt;A.Rivai&lt;/em&gt;, 1876)&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Tengah naik gerang matahari&lt;br /&gt;Anak dara menjiangi padi,&lt;br /&gt;Rumput dikais sambil berdendang,&lt;br /&gt;Berpantun bersadjak menundjukkan sajang&lt;br /&gt;--&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Sajak itu telah berhasil merekam wajah jaman. Sebuah kebijaksanaan telah menyatukan dalam sebuah 'kumpulan tulisan para penyair' agar sebuah masa tetap terjaga keutuhannya. Kemudian lebih dari setengah abad sesudahnya, kita bisa mengamini sambil bergeleng kepala: bahwa menyiangi padi tak mungkin lagi menjadi inspirasi, bahwa bendera tak jauh dari sekedar upacara, dan kemelaratan tetap ada.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Lebih dari setengah abad kemudian, seorang Taufiq Ismail masih menuliskan dalam &lt;strong&gt;'12 Mei '98'&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;/&lt;br /&gt;Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu&lt;br /&gt;Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom&lt;br /&gt;abad duapuluh satu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi&lt;br /&gt;kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena&lt;br /&gt;kalian berani mengukir&lt;br /&gt;alfabet pertama dari kata reformasi-damai&lt;br /&gt;dengan darah&lt;br /&gt;arteri sendiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Tapi sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tentang keadaan yang nyatanya tidak berubah, Amir Hamzah dalam Padamu Djua telah lama berseru&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Pulang kembali aku padamu&lt;br /&gt;Seperti dahulu.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-1158586835021947436?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/1158586835021947436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/05/membaca-jaman-dari-sajak-di-sebuah-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1158586835021947436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/1158586835021947436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/05/membaca-jaman-dari-sajak-di-sebuah-buku.html' title='Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-5372821411159270241</id><published>2010-05-31T09:35:00.001+07:00</published><updated>2010-05-31T09:37:47.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Cinta Si Semut Kecil</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku mencintaimu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejenak ia terdiam mendengar ucapan makhluk hitam mungil itu. Menatapnya tak bergerak. Lalu sejenak jadi dua jenak, lalu tiga jenak, empat jenak dan pada jenak kelima, meledaklah tawanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semut kecil itu merengut kesal mendengar tawa si macan betina. Padahal ia sudah sungguh-sungguh mengerahkan seluruh keberaniannya dan menyatakan cintanya pada macan cantik pujaan hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku serius lho!" ujarnya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Si macan menghentikan tawanya, lalu berbatuk-batuk yang dibuat-buat. "Ehem. Ehem. Ehem." Lalu ia menatap si semut kecil. Ia berusaha untuk serius, tapi tak bisa menahan rasa gelinya sehingga bibirnya terus menerus tersenyum lebar seakan mengejek. "Semut, maaf ya. Kamu itu tidak sepadan buatku. Kita ini bagaikan langit dan bumi. Bulan dan matahari. Siang dan malam. Lautan dan daratan. Surga dan..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Cukup cukup cukup!" potong semut sambil menutupi kedua antenanya dengan kaki depannya. "Aku mengerti maksudmu, macanku. Aku sadar kita memang berbeda. Tapi apa cinta peduli dengan semua itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Macan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Aneh sekali kamu ini, semut. Bukannya kamu ini diciptakan untuk mencintai ratumu, tapi kenapa kamu malah mencintai aku? Apa kau tidak tahu bahwa aku ini pemakan daging?" Macan betina itu memamerkan taringnya yang tajam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semut tertawa melihat kelakuan macan. "Macanku, alih-alih membuatku takut, kamu malah membuatku semakin terpesona padamu. Lagipula kau tidak suka daging semut kan?"&lt;br /&gt;Macan pun tertawa. "Tentu saja. Aku harus memakan ribuan makhluk seukuranmu untuk mengenyangkanku. Yang benar saja!" Lalu macan betina itu berkata dengan hati-hati pada si semut karena kini entah kenapa ia yakin si semut tidak bercanda. "Tapi maaf ya, semut. Bagaimana pun juga, seekor betina sepertiku tentunya mencari jantan yang bisa melindungiku. Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya dengan tubuh sekecil itu? Apa kau ingat? Bukankah malah aku yang melindungimu waktu itu."&lt;br /&gt;Semut pun terdiam mendengar kata-kata macan. Memang seminggu yang lalu, dirinya hampir mati tenggelam karena jatuh dari pohon tempat tinggalnya. Untunglah ia terjatuh tepat di atas daun yang mengambang di atas permukaan sungai, tapi celakanya kaki-kaki mungilnya hanya difungsikan untuk mencari makan, bukan mendayung. Jadilah si semut terancam akan mati kelaparan bila saja tidak ada si macan betina yang kebetulan lewat menyelamatkannya dari sungai itu. Itulah perjumpaan pertama mereka.&lt;br /&gt;"Tapi aku yakin. Aku bisa melindungimu, macanku."&lt;br /&gt;Macan betina hanya mengangkat bahu. "Kuharap begitu, semut. Jika memang begitu adanya, aku bersedia menjadi kekasihmu."&lt;br /&gt;Semut pun girang mendengarnya. Di hari-hari selanjutnya, ia selalu mengawasi kemana pun si macan betina pergi. Dengan penuh tekad, akan melindungi macan. Macan pergi ke kiri, semut ikut ke kiri. Macan ke kanan, semut ikut ke kanan dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, macan kesal dengan tingkah si semut. "Berhentilah mengikutiku! Kau membuatku kesal! Lagipula sudah ada macan jantan yang menyukaiku, kau bisa membuat semuanya jadi berantakan!"&lt;br /&gt;Semut sangat terpukul mendengarnya. Dengan penuh rasa kepedihan di hati, ia memenuhi permintaan si macan. Bila memang pujaan hatinya bahagia tanpa dirinya, maka ia tidak akan keberatan bila harus menderita.&lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu. Namun semut tidak dapat melupakan cintanya pada macan betina yang cantik itu. Kerinduannya yang sudah menumpuk hampir meledak di dadanya, hingga akhirnya tak tertahan itu yang mendorongnya untuk keluar dari sarangnya dan pergi ke pinggir sungai, tempat macan itu biasa berada. Tidak usahlah ia menyapa. Cukup baginya untuk hanya melihat pujaan hatinya dari jauh. Karena itu betapa girang hatinya begitu melihat si macan betina sedang duduk di tempat biasa mereka berbincang dulu.&lt;br /&gt;Tetapi selanjutnya, semut tercengang begitu menyadari bukan hanya mereka berdua saja yang ada di tempat itu. Sosok raksasa ribuan lipat kali besarnya dari dirinya membuat tubuhnya terasa dingin. Raksasa itu mirip dengan monyet, tetapi lebih besar dan lebih kejam. Ia tahu dari ratunya, bahwa raksasa itu bernama manusia. Dan manusia selalu membawa benda seperti batang kayu panjang yang bisa meneriakkan maut pada penghuni hutan yang dibidiknya.&lt;br /&gt;Sekarang manusia itu sedang mengarahkan batang kayu itu pada macan betina yang sedang duduk-duduk di pinggir sungai. Macan tidak menyadari akan adanya ancaman maut di dekatnya.&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, semut berlari sekencang mungkin menghampiri kaki putih berbulu manusia itu dan menggigit sekencang-kencangnya. Ia hanyalah semut pekerja dan tidak memiliki gigi setajam semut petarung, tapi rupanya cukup untuk membuat si manusia berteriak kesakitan.&lt;br /&gt;Semut pun lega karena teriakan sekencang itu pasti akan menyadarkan macan akan keberadaan si manusia. Namun malang menimpanya, sebuah tepukan menyakitkan mendarat di tubuhnya. "Semut sialan!" umpat manusia.&lt;br /&gt;Kemudian manusia itu menoleh untuk melihat macan buruannya. Betapa kagetnya ia begitu melihat ternyata macan buruannya itu sudah berada di dekatnya dan dengan ganas menerkamnya. Manusia berteriak ketakutan. Dengan sedikit pergumulan, ia pun berhasil membebaskan diri dari cengkeraman si macan dan mengambil langkah seribu membawa serta batang kayunya.&lt;br /&gt;Sesudah itu, macan menemukan semut yang mencintainya sedang terbaring di atas dedaunan kering dalam keadaan mengenaskan. Kakinya hanya tinggal dua, antenanya patah dan tubuhnya nyaris remuk. Namun rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan baginya untuk mengucapkan salam perpisahan bagi pujaan hatinya.&lt;br /&gt;"Jangan.. menangis, macanku. Kau lihat? Aku.. bisa melindungimu dengan tubuh kecilku." Kemudian lepaslah nyawanya.&lt;br /&gt;Macan betina itu meraung penuh kesedihan dan penyesalan. Ia sendiri merindukan hari-hari bersama si semut kecil. Hari-hari yang jauh lebih berharga, dibandingkan hari-hari yang dihabiskannya belakangan ini bersama seekor macan jantan kuat namun membosankan.&lt;br /&gt;Bila saja bisa memutar waktu, ia tidak akan pernah meragukan kesungguhan hati si semut. Mengapa ia bisa dibutakan oleh keadaan fisik? Tapi semuanya sudah terlambat, yang tersisa hanyalah penyesalan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-5372821411159270241?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/5372821411159270241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/05/cinta-si-semut-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/5372821411159270241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/5372821411159270241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/05/cinta-si-semut-kecil.html' title='Cinta Si Semut Kecil'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-3748360902625587195</id><published>2010-03-29T17:00:00.004+07:00</published><updated>2010-03-29T22:32:07.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Jika Mencintaimu adalah...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika mencintaimu adalah mendengarkan semua nasihat darimu dengan penuh khidmat sembari meminum dinginnya air di terik siang, maka akan kulumat semua nasehatmu tanpa bisa kumuntahkan kembali.&lt;br /&gt;Jika mencintaimu adalah mengajarkanku menelusuri peta-peta kota Jakarta dengan baik tanpa didampingi lagi olehmu, maka akan kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau sedang mengajariku mandiri.&lt;br /&gt;Jika mencintaimu adalah melaksanakan kata menunggu kala tengah malam bahkan sampai aku tertidur lalu bangun kembali di depan layar monitor hanya untuk berkata syukurlah kau sudah pulang dengan selamat, maka kata menunggu tak lagi membosankan untukku tapi kini menjadi sebuah kenikmatan yang sulit aku lukiskan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana menerima sisi buruk dan baik seorang manusia dengan mengambil hikmah dari apa yang telah Tuhan ciptakan tentang baik dan buruk, maka sebuah keburukan maupun kebaikan kini memiliki kata seimbang bagiku.&lt;br /&gt;Jika mencintaimu adalah memperlajari seorang pria yang tidak suka minum kopi dan akhirnya terpaksa meminumnya dengan alasan ditraktir, maka aku belajar bagaimana menghargai pemberian yang tidak kita suka dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah mengajarkanku bagaimana bersosialisasi dengan baik, maka perlahan kucari celah darimu lalu kupinta kau mengelurkanku dari alam maya yang penuh kamuflase ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah mencari dan memperhatikan tiap detail apa yang kamu lakukan dari hari ke hari, maka diam-diam aku selalu berdoa untukmu agar setiap detail yang kamu lakukan akan menjadikanmu lebih baik dari hari kemarin. Berdoa agar kau selalu diberi perlindungan dari bahaya apapun karena hanya dengan doa aku mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana mengendalikan kata cinta itu sendiri atas nama tahu diri, maka aku akan melakukannya asal tidak berjauhan denganmu, asal kau tidak pergi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah sebuah harapan dilema, maka aku akan mencari hikmah kenapa aku harus mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah suatu pembenaran bahwa cinta ini bukan aku yang mau dan cinta ini bukan tercipta dari keinginan semata, maka aku akan menutup telingaku rapat-rapat atas perkataan orang-orang yang cenderung menyalahkanku mencintaimu. Kupikir tidak ada yang salah dan dosa dari cinta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah mengeja tiap butir air mata yang jatuh karena kerinduan, maka aku belajar bagaimana mengatasi bias rindu tanpa obat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah menikmati tiap detak jantung dan menghitung kecepatan debarannya ketika aku tanpa sengaja menyebut namanu, maka diam-diam aku sedang bejalar matematika kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah merasakan kehangatan untuk pertama kalinyan di antara tusukan-tusukan air hujan, maka kini aku tahu betapa nyamannya jika ada seorang pria yang memberikan kita kehangatan di tengah terpaan dingin air hujan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah menjadikanku lebih dewasa, maka aku akan menempuhnya sebagai manusia yang lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah membuatku belajar tentang keikhlasan memberi, maka akan kuselimuti hatiku dengan kata tulus tanpa beban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah belajar melepaskan, maka aku akan melepas tanpa rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintamu adalah mengubah cinta menjadi sebuah kasih sayang, maka aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mengubahnya dan berdoa kepada Tuhan semoga akan datang yang lebih baik jika kamu bukan untukku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika mencintaimu adalah belajar melupakan, maka aku akan bilang padamu bahwa aku ini ada dan tak ingin dilupakan atau melupakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan aku memilih mencintaimu dengan pasrah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-3748360902625587195?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/3748360902625587195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/03/jika-mencintaimu-adalah_29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/3748360902625587195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/3748360902625587195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/03/jika-mencintaimu-adalah_29.html' title='Jika Mencintaimu adalah...'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-2402064805748298910</id><published>2010-02-19T22:09:00.011+07:00</published><updated>2010-05-18T21:31:18.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliah'/><title type='text'>Course</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Ini bahan-bahan Semua Mata Kuliah Semester 4 Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Silahkan ambil sepuasnya tapi JANGAN LUPA KOMENTAR yaaaa......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655510/NASKAHBUKUHEROES--ALL.pdf.html"&gt;Naskah Buku Seven Heroes&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655520/socialenterpreneurshiprogermartin.pdf.html"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Social enterpreneurship roger martin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655539/SAPKEWIRAUSAHAANSOSIALSEMESTERGENAP2009-2010umhw.rtf.html"&gt;SAP Kewirausahaan Sosial&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi Industri dan Ketenagakerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655546/SAPSOSIOLOGIINDUSTRIKETENAGAKERJAAN2010MH.doc.html"&gt;SAP &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655546/SAPSOSIOLOGIINDUSTRIKETENAGAKERJAAN2010MH.doc.html"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sosiologi Industri dan Ketenagakerjaan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655603/KELOMPOK2010.doc.html"&gt;Pembagian Kelompok Sosiologi Industri dan Ketenagakerjaan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.4shared.com/file/247450400/ef86dd58/bahansosind.html"&gt;Bahan Sosiologi Industri dan Ketenagakerjaan Sampai UTS&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahan UAS&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/4pkdE_zZ/KONFLIK_INDUSTRIAL.html"&gt;Konflik Industrial&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/otSF4hX5/makalah_sosind_kelompok_1_CSR.html"&gt;CSR&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/aiqgZWQi/MAKALAH_SOSIND2.html"&gt;Perburuhan Negara Berkembang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/Uu4kZ6RO/Hubungan_industrial_Negara_Maj.html"&gt;Perburuhan Negara Maju&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/n_jL6EsQ/cover_sosin.html"&gt;The Role of State&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi Keluarga&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655630/sapsoskel20092010uMHW.doc.html"&gt;SAP Sosiologi Keluarga&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi Perdesaan&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655676/SAPSosped2010.docx.html"&gt;SAP Sosiologi Perdesaan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655685/POKOKPikiran-1.doc.html"&gt; Pokok Pikiran Sosiologi Perdesaan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655656/KelompokSosdes.xls.html"&gt;Kelompok Sosiologi Perdesaan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655649/bridgingsocietyanduniversity.pdf.html"&gt;Bridging society and university&lt;/a&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://www.4shared.com/account/file/249938702/a59bb7e1/Sosiologi_Perdesaan.html"&gt;Bahan Sosiologi Perdesaan Sebelum UTS&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi Perkotaan&lt;br /&gt;1.&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655720/SosiologiPerkotaan.ppt.html"&gt; Sosiologi Perkotaan (bahan 1/Nanu Sundjojo)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655773/UrbanismediAsiaTenggara.ppt.html"&gt;Urbanisme di Asia Tenggara (bahan 2/Nanu Sundjojo)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655826/SATUANACARAPERKULIAHANSOSKOTA2010asof14Feb10revisi.pdf.html"&gt;SAP Sosiologi Perkotaan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/z8IP8-0Q/bahansoskot.html"&gt;4. Bahan UAS Soskot&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/akRQTPex/URBAN_COMMUNITY_DEVELOPMENT_LE.html"&gt;Bahan UAS Soskot 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statistik 2&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655901/Statistik-SPSS.zip.html"&gt;Data SPSS 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.4shared.com/file/228085000/8c777a7f/Crosstabs_23_Februari_2010_2.html"&gt;Data SPSS 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/cMwSUjvx/latihan-soal--std-jwban_regres.html"&gt;3. Jawaban dan Soal Regresi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Sosiologi&lt;br /&gt;1. P&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8655900/PembagianKelompokTesos.doc.html"&gt;embagian Kelompok&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Penelitian Sosial&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.4shared.com/file/cHvD2NL5/buat_presentasi.html"&gt;Kelompok 7&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.4shared.com/document/OArH1MwP/MPS_Kelompok_8.html"&gt;Kelompok 8&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-2402064805748298910?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/2402064805748298910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/02/course.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2402064805748298910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2402064805748298910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/02/course.html' title='Course'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-2245780469340840339</id><published>2010-01-17T22:11:00.004+07:00</published><updated>2010-01-17T22:28:05.741+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>The Burning Season : Sebuah Perjuangan dari Cachoeira</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepercayaan mengenai adanya Cirupira yang akan marah apabila hutan dirusak dan akan menyuruh jaguar untuk melawan perusakan hutan, menyebabkan masyarakat mulai berani untuk perlawanan terhadap perusakan hutan. Hal inilah yang coba dijelaskan dalam karya yang berjudul The Burning Season. Film ini merupakan cerita rakyat tepian dari hutan Amazone, Brazil. Di suatu daerah yang bernama Cachoeira, demikian sebagian masyarakat menyebut daerah yang berpusat pemerintahan di Xapuri, Brazil. Sebagian besar penduduk di darah ini memiliki pekerjaan sebagai penyadap karet dihutan. Penduduk ini merupakan sebuah masyarakat tepian serta para perambah hutan. Kelangsungan hidup mereka sehari-hari sangat bergantung kepada hutan Amazone. Salah satu dari keluarga yang bekerja sebagai penyadap karet tersebut adalah keluarga Mendes.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Mendes merupakan salah satu dari banyaknya keluarga di daerah Cachoeira yang menggantungkan hidupnya sehari-hari dengan menyadap karet dari dalam hutan Amazone. Pada suatu hari Mendes kecil mengikuti setiap langkah sang ayah untuk menyadap karet di hutan. Hasil yang di dapatkan Mendes kecil dan ayahnya cukup banyak, sehingga mereka optimis dapat memperoleh uang yang banyak. Dengan menaiki kano yang sudah cukup berumur, pasangan ayah dan anak ini pergi ke pusat kota untuk menjual hasil panen mereka hari itu.  Setelah tiba di pusat kota, mereka berdua bergegas menuju sebuah toko yang dimiliki seorang juragan kaya di kota. Hasil panen mereka pun ditimbang oleh sang juragan. Juragan tersebut berkata bahwa angka tersebut menunjukan angka 40 kg. Akan tetapi hal ini memunculkan pertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seorang anak muda berkata “Bukankah timbangan itu menunjukan angka 70 kg.” Hal ini mendapat jawaban yang kasar dari sang juragan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Jika saya berkata  40 kg, maka timbangan ini akan menurutinya”, demikian sang juragan berkata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tapi bukankah timbangan itu 70 kg?” Tanya pemuda itu makin keras.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Engkau pasti masih baru di sini anak muda”.  Marah sang juragan hingga menggebrak meja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Baiklah ini memang 40 kg”, ujar ayah Mendes yang mencoba untuk menengahi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Nah, orang tua ini lebih bijak dari kau hai anak muda. Lekaslah kau tanda tangan di sini hai orang tua”. Jawab balik sang juragan yang egois ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada akhirnya, Mendes dan ayahnya mencapai kesepakatan untuk selanjutnya menandatangani buku tanda terima. Akan tetapi, setelah dihitung oleh juragan mereka hanya mendapatkan 10 cruzeiro. Hal ini dikarenakan terdapat perhitungan lainnya, yaitu hutang sebesar 25 cruzeiro serta bunganya sebesar 5 cruzeiro. Diperjalanan pulang Mendes kecil menanyakan kepada ayahnya mengenai kebenaran hal tersebut, akan tetapi ayahnya tetap meyakinkan Mendes kecil bahwa ia harus tetap menuruti apa yang dikataka sang juragan. Karena ia hanya berharap agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik pada esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ketika mereka sampai di rumah yang bentuknya sangat sederhana, dengan atap yang terbuat dedaunan kering yang di sanggahi dengan kayu serta alas yang berbentuk panggung dengan kayu yang dilapisi dengan kulit kayu, secara tiba-tiba datang seorang pemuda yang sebelumnya mereka temui di kota, tepatnya di toko milik juragan tempat Mendes dan ayahnya menjual hasil panen. Tujuan pemuda ini datang ke rumah Mendes adalah untuk mempelajari cara menyadap karet dan sebagai imbalannya pemuda itu akan mengajarkan Mendes cara berhitung. Kemudian pemuda ini menanyakan siapa nama Mendes sebenarnya, lalu ia menjawab dengan nama Chico Mendes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada tahun 1983 era pembangunan di Brazil sudah di mulai. Hutan-hutan yang dahulunya digunakan sebagai kawasan yang asri, dibuka demi kepentingan kemajuan serta pembangunan daerah-daerah. Daerah hutan Amazone juga termasuk dalam kegiatan pembukaan lahan oleh pemerintah Brazil. Company Bordon merupakan salah satu pihak yang mengambil keuntungan dari kegiatan ini. Demi permintaan daging di pasar internasional khususnya Eropa, perusahaan yang bergerak dibidang penjualan ternak ini berencana memperluas daerah peternakannya yaitu di daerah Cachoeira serta hutan Amazone. Cara yang mereka gunakan untuk membuka lahan adalah dengan membakar hutan. Cara ini mereka pilih karena merupakan cara tercepat untuk membuka lahan sebesar-besarnya. Sebelum mereka membakar hutan, terlebih dahulu mereka menebangi pohon-pohon besar dan sisanya mereka bakar. Setelah semua selesai mereka baru menanami rerumputan untuk peternakan milik Company Bordon yang dijaga oleh gerombolan koboi yang dipimpin oleh Darli Alves, seorang yang telah sepuluh tahun menjadi peternak dan rela melakukan apa saja demi ternaknya, termasuk menghilangkan nyawa seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Semakin maraknya pembukaan lahan, mengancam kehidupan masyarakat di sekitar hutan Amazone dan di daerah Cachoeira. Atas nama pembangunan dan kemajuan pemerintah  juga menebang hutan demi pembangunan jalan. Hal ini melengkapi perusakan hutan yang terjadi. Keadaan inilah yang menyebabkan hutan Amazone, yang notabenya digunakan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat menjadi rusak. Saat ini masyarakat-pun tidak lagi memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup mereka. Dengan hilangnya pekerjaan maka mereka tak lagi sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama sandang, pangan dan papan. Seorang pemuda kota yang masuk desa bernama Wilson Pinheiro, kini telah menjadi seorang aktivis lingkungan. Dengan bantuan dari seorang mahasiswi yang berasal dari Universitas Sao Paulo, Regina de Calvarlho, Wilson membentuk Serikat Pekerja Pedesaan atau Sindicato. Pembentukan organisasi ini telah membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa mereka tertindas oleh sistem yang ada selama ini, bahkan mereka semakin dimiskinkan dengan program pembangunan dan kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Diawali dari sebuah forum gereja, Pinheiro berusaha untuk menumbuhkan kesadaran para buruh bahwa selama ini mereka sebenarnya telah ditindas oleh para kaum pemilik modal dan para juragan yang kini  menjelma menjadi penindas bagi masyarakat sekitar. Kondisi hutan yang semakin rusak, membuat hilangnya pekerjaan masyarakat menjadikan alasan kuat para masyarakat yang sebagian besar adalah para kaum penyadap karet dan perambah hutan untuk bersatu melawan ketidakadilan. Upaya ini pada akhirnya berhasil, kesadaran dan keberanian kaum buruh bangkit. Aksi damai menentang pemusnahan hutan dan pembuatan jalan pun berlangsung. Aksi protes demi aksi protes pun terus berlangsung. Hal ini menyebabkan konflik. Konflik kecil yang terjadi yaitu antara masyarakat Cachoeira dengan para pekerja bawahan penebangan. Aksi yang semakin gencar, membuat pihak Company Bordon gerah. Pihak pemodal ini menggunakan Kelompok Darli Alves untuk mengatasi aksi-aksi protes yang terjadi. Selain itu cara lain yang digunakan yaitu dengan menggerakan militer demi mengatasi gangguan keamanan nasional dalam pembangunan. Sementara itu disisi lain, Wilson Pinhiero berdebat dengan Chico Mendes. Chico kini sudah menjadi seorang pemuda yang kuat dan menjadi motor pergerakan bagi penduduk lokal. Perdebatan ini terjadi karena Pinhiero lebih mementingkan organisasi sedangkan Chico memilih agar masyarakat berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di pihak lainnya Darli Alves mulai melakukan teror-teror untuk menakuti warga. Puncaknya adalah ketika Pinhiero terbunuh di kantor Sindicato dan Regina melarikan diri ke Sao Paulo. Terbunuhnya Pinhiero ini segera disiarkan oleh Chico melalui radio nasional Brazil. Berita ini segera tersebar luas ke semua masyarakat. Dampak dari terbunuhnya Pinhiero membuat organisasi dan masyarakat terguncang. Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat kini menjadi sporadis dan tidak terorganisasi dengan rapi. Salah seorang pendudukpun menuntut balas atas kejadian ini. Kekerasan menjadi sebuah pilihan. Dibunuhlah salah satu pemimpin perusahaan Company Bordon yang bernama Nilo Sergio. Peristiwa ini kemudian menjadi sebuah pintu masuk bagi penyelesaian gangguan keamanan nasional dengan militerisme. Operasi militer pun dilakukan, semua masyarakat Cachoeira yang terkait dengan Sindicato ditangkap, di penjara dan disiksa dengan kejam. Satu persatu dari masyarakat mulai dilepaskan. Akan tetapi teror dan kekerasan struktural telah melemahkan pergerakan masyarakat. Kondisi sosial ekonomi pun makin parah. Tidak ada obat-obatan, dokter, rumah sakit dan sekolah. Semua akses sosial ditutup oleh pemerintah. Chico Mendes pun bertekad meneruskan perjuangan yang telah di rintis Pinhiero. Kantor Sindicato yang ditutup kini mulai beroperasi. Tanpa di duga pada awal beroperasinya kembali Sindicato, datanglah seorang film maker dokumenter bernama Steven Kyle. Ia mendapat info tentang Chico dari Regina dan ingin membuat film tentang kerusakan Amazone dan usaha-usaha menyelamatkannya. Kemudian film ini akan dikabarkan kepada dunia. Kini modal perjuangan bertambah satu lagi yaitu melalui media film dokumenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ancaman teror kepada masyarakat-pun masih saja berlangsung. Akan tetapi kondisi ini tidak menyurutkan aksi damai warga. Aksi semakin gencar dilakukan, teror pun semakin sering terjadi. Korban jiwa pun kembali jatuh. Serangkaian peristiwa Ini membuat Chicho mencoba mencari jalan lain agar dapat segera menyelesaikan masalah. Salah satu cara yang dia pakai adalah dengan mengikuti pemilihan Gubernur Xapuri. Apabila terpilih maka ia akan dapat melindungi warganya. Dalam mengikuti pemilihan gubernur ini Chico mendapatkan lawan berat yaitu Galvalho, yang ternyata disponsori oleh Company Bordon dan pro terhadap modal dan pembangunan. Hasilnya sudah dapat diduga, Galvalho menang mutlak dan Chico hanya mendapatkan 10 % suara. Pada suatu hari Steven Kyle mengundang Chicho Mendes untuk menerima penghargaan dari PBB karena usahanya menyelamatkan hutan Amazone. Acara ini dilangsungkan di Florida, Miami, Amerika Serikat. Di sini ia mencari media untuk menyebarkan kabar bahwa telah terjadi pemiskinan terstruktur karena pembangunan dan pembukaan Amazone. Tuntutannya adalah diberhentikannya penebangan hutan dan pemberian pekerjaan bagi rakyatnya. Tuntutan Chico Ini mendapat sambutan yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah kembali dari Amerika ternyata Chicho keliru. Kepergiannya ke Amerika Serikat ternyata tidak membawa perubahanya yang nyata di Cachoeira. Bahkan sebaliknya Darli Alves dan tentara makin menindas rakyat, bahkan melakukan pembantaian. Chico semakin sadar akan fungsi media. Ia lalu mengabarkan pembantaian ini. Media pun mengangkatnya, jadilah berita pembantaian Cachoeira menjadi headline surat kabar di seantero dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kondisi ini membuat pihak Company Bordon gerah dan menginginkan perundingan terjadi. Maka dikirimlah Savero yang ditemani oleh Gubernur Galvalho. Perundingan alot pun terjadi. Perundingan ini dijaga ketat oleh pasukan keamanan nasional Brazil. Perundimgan ini diadakan sehari semalam. Akhirnya keputusan telah di ambil, pemerintah Brazil akan melindungi tanah Chachoiera sepenuhnya, menegakkan hukum seadil-adilnya dan sementara itu, pihak Company Bordon melepaskan semua lahan yang pernah ditempati dan mengembalikan tanah Chachoiera ke penduduk. Keputusan ini membuat kecewa Kelompok Darli Alves. Ia merasa dikhianati oleh Company Bordon dan merasa malu karena telah mengalami kekalahan oleh para warga Cachoeira. Maka demi melampiaskan dendam ini setelah beberapa kali lolos dari percobaan pembunuhan, dibunuhlah Chico Mendes pada 12 Maret 1990 dirumahnya. Kematian Chico ini telah menyadarkan dunia dan membuat negara-negara di dunia bersimpati, sehingga pada 12 Maret 1990 pemerintah memutuskan untuk menghentikan secara total pembabatan dan pembakaran hutan dan menamakan hutan hujan tropis di Brazil tersebut dengan nama “Suaka Alam Chico Mendes” untuk mengenang kegigihan Chico dalam upayanya untuk memberdayakan kaum buruh dan melindungi hutan di Brazil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lingkungan dan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pernyataan bahwa pendidikan seseorang menentukan kualitas hidup orang tersebut dalam menjalani setiap aktivitasnya memang benar adanya. Tanpa adanya pendidikan yang berkualitas masyarakat akan semakin dekat dengan kebodohan serta akan berakibat pada ketertindasan. Dari ketertindasan inilah yang kemudian akan membawa seseorang di dalam masyarakat mengalami kemiskinan harta serta jiwa. Pada film The Burning Season ini diperlihatkan bagaimana seseorang menuruti perkembangan zaman yang semakin lama, semakin maju. Arus globalisasi yang sejalan dengan arus modernisasi membawa suatu perubahan yang cukup signifikan sekali terhadap gaya hidup serta orientasi seseorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Perubahan orientasi ini tentunya berakibat pada perkembangan masyarakat yang bersangkutan terhadap suatu hal. Salah satunya yaitu lingkungan. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana kehidupan manusia di Chachoiera sangat bergantung kepada hutan Amazon. Ketergantungan ini merupakan suatu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lainnya karena masyarakat di tempat tersebut memanfaatkan hutan sebagai lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sehingga dengan begitu mereka sangat merawat hutan dengan baik sekali. Ketika ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju, maka ilmu pegetahuan itu dapat berkembang serta berkontribusi kepada alam. Bagi masyarakat modern alam ini dilihat sebagai suatu hal yang dapat diatasi dengan teknologi. Para masyarakat modern kini beranggapan bahwa dengan teknologi yang semakin maju mereka dapat mengatur hal-hal yang berkaitan dengan alam sendiri. Kondisi ini jelas berbeda dengan anggapan para masyarakat yang tinggal serta menggantungkan hidupnya sehari-hari dengan hutan. Dalam film The Burning Season jelas sekali terlihat bahwa alam sangat membawa manfaat yang sangat besar sekali terhadap kehidupan masyarakat. Sebagai salah satu yang mempunyai pusat pemerintahan di Xapuri, daerah Cachoeira dapat dikatakan sebagai salah satu daerah yang mempunyai lahan hutan yang sangat luas dan asri. Para masyarakat di daerah tersebut mempunyai pekerjaan sebagai penyadap pohon karet yang di ambil di dalam hutan. Mereka menggunakan teknologi sederhana untuk menghasilkan sadapan karet yangb diinginkan. Terlihat bahwa masyarakat di daerah ini sangat peduli terhadap kelestarian hutan yang mereka tempati, meskipun teknologi canggih  dapat masuk kapan saja akan tetapi mereka tetap menggunakan cara sederhana yang tentunya lebih ramah lingkungan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ilmu pengetahuan yang di dapatkan seseorang tidakah cukup untuk menghadapi hal ini dibutuhkan sebuah realitas sosial yang kemudian mampu membentuk kesadaran pada diri seseorang. Kelompok masyarakat petani penyadap pohon karet itu-pun juga tersadar akan kemiskinan yang mereka rasakan sebagai timpangnya sistem dan kesempatan yang diberikan oleh pihak-pihak yang berkuasa. Lahan untuk mata pencaharian mereka sehari-hari pun ditebang habis demi satu kata yaitu pembangunan. Kondisi ini disadari oleh masyarakat Cachoeira melalui Wilson Pinhiero, Regina dan Chico Mendes. Mereka bertiga menjadi penggerak masyarakat untuk kehidupan mereka dan hutan yang lebih baik kedepannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah organisasi ini terbentuk, gerakan-gerakan sosial mulai terjadi. Organisasi ini tidak hanya mempermudah untuk kerja sosial, akan tetapi juga untuk menjaga kekuatan serta keberlangsungan gerakan lingkungan yang mereka usung. Pada dasarnya organisasi ini dibentuk untuk mencapai tujuan bersama masyarakat yakni mempertahankan kelestarian hutan Amazone, berawal dari tujuan inilah Serikat Pekerja Pedesaan atau Sindicato dengan basis masyarakat penyadap karet dan tepian hutan Amazone terbentuk. Keyakinan akan ajaran Jesus dalam agama Katolik yang dipegang teguh, membuat masyarakat Cachoeira dipersatukan dalam sebuah koloni persemakmuran demi menuntut keadilan. Masyarakat ini meyakini bahwa mereka menemukan pemecahan sendiri dalam menghadapi tantangan hidupnya. Dengan cara dan modal sosial tersendiri, lokalitas dan kearifan lokal, maka masyarakat akan mampu menghadapi tantangan hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Gerakan sosial yang terjadi dalam film ini merupakan salah satu gerakan sosial baru yang tentunya tidak menitik beratkan pada permasalahan-permasalahan politik saja. Terdapat beberapa hal yang menguatkan hal ini. Dalam gerakan sosial baru ini mpeningkatan realisasi dan kepercayaan diri masyarakat sipil yang tidak menempatkan nasib kemanusiaan di tangan negara dan harus tetap waspada terhadap penyakit-penyakit dari sistem politiknya, serta memiliki agensi atau pelaku-pelaku sejarah yang punya kemampuan mengubah medan pergerakannya dan transformasinya. Gerakan yang di motori oleh Chico dan teman-temannya ini adalah suatu gerakan untuk menyelamatkan lingkungan karena akan mengganggu kestabilan alam maupun masyarakat sekitar, karena dengan gerakan seperti ini masyarakat di ajak untuk bersama-sama menjaga hutan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kemudian gerakan sosial baru ingin mempertahankan masyarakat sipil dari kekuasaan politik dan mendefinisikan kembali budaya dan gaya hidup masyarakat sipil ketimbang mempengaruhi perubahan legislatif melalui negara. Izin pendirian peternakan oleh Company Bordon merupakan salah satu cara pemerintah yang menggunakan kekuasaan politik tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan, sehingga dampak-dampak yang terjadi tidak dapat teratasi dengan baik. Salah satu cara untuk mencegah hal ini terjadi yaitu seharusnya pemerintah daerah Brazil sebelum mengeluarkan izin pendirian jalan dan peternakan untuk suatu perusahaan melakukan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Dengan AMDAL kita dapat mengetahui Social Impact Assesment yang terjadi apabila pembangunan terus dilakukan tanpa memikirkan lingkungan. Hal ini sangat diperlukan karena dengan mengadakan analisis terlebih dahulu mengenai dampak yang akan terjadi terhadap lingkungan, pemerintah bisa mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan untuk menanggulanginya. Dalam mengaplikasikan AMDAL terdapat salah satu agenda gerakan lingkungan yaitu pembangunan berkelanjutan (suistanaible development). Gerakan yang diprakarsai oleh Serikat pekerjaan pedesaan Sindicato merupakan sebuah gerakan yang muncul bukan karena faktor-faktor sosial, tetapi karena masalah obyektif lingkungan. Selain itu mereka pun percaya akan adanya Curupira yaitu mahluk yang menjaga hutan Amazone dari kerusakan manusia. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa Curupira berwujud manusia cebol dengan kaki terbalik. Ia akan marah dan menyuruh jaguar untuk melawan perusakan hutan. Curupira inilah yang menjadi semangat untuk bersatu dan melawan yang diwujudkan dalam kumpulan “jaguar” yaitu Serikat pekerjaan Pedesaan Sindicato.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pengalaman terhadap masalah lingkungan itu sendiri yang kemudian menjadi motif utama para masyarakat Cachoeira untuk melakukan gerakan penolakan penebangan hutan, tanpa adanya pengalaman terhadap masalah lingkungan itu akan sangat sulit bagi para masyarakat untuk mendefinisikan keberadaan masalah tersebut sehingga dapat meningkatkan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan. Dalam film The Burning Season ini juga dapat dilihat bagaimana cara manusia mengetahui pengetahuan mengenai lingkungan. Contohnya ketika masih banyaknya masyarakat dunia yang tidak mengetahui apa permasalahan lingkungan di daerah Brazil, Chico mempunyai ide untuk membuat film dokumenter mengenai pembakaran hutan di daerahnya. Pembuatan film dokumenter oleh Steven Kyle mempunyai banyak keuntungan. Ini merupakan alat propaganda dalam menyebarkan kabar bahwa ada perusakan di Cachoeira dan pembantaian nyawa manusia akibat pembabatan hutan. Selain itu, film ini merupakan sarana untuk mendidik dan memproduksi wacana tandingan bahwa pembangunan yang dilaksanakan malah mengeksploitasi dan menghancurkan peradaban manusia. Banyak yang yakin bahwa jurnalistik mempunyai fungsi sosial bagi masyarakat. Ini pula yang dimanfaatkan oleh pergerakan Sindicato. Pengabaran ke seluruh belahan dunia, baik dengan media cetak maupun elektronika telah membuka mata masyarakat dibelahan dunia yang lain untuk tahu bahwa telah terjadi suatu peristiwa di Cachoeira. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan hal tersebut Chico mulai memberitahukan kepada dunia bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan sehingga menyebabkan lingkungan menjadi tidak asri seperti sedia kala. Selain itu masyarakat juga kehilangan lahan untuk mata pencaharian mereka. Untuk membuat hasil yang maksimal disini Chico telah melakukan tiga tahap dari Social Constructionism. Pertama, tahap assembling pada tahap ini klaim-klaim disusun menjadi suatu hal yang nyata dan diyakini oleh masyarakat. Chico sebagai pengambil alih pimpinan setelah Wilson Pinheiro meninggal dunia, mencari fakta-fakta yang menguatkan bahwa kerusakan hutan di daerah Cachoeira merupakan suatu hal yang disengaja. Kedua, tahap presenting pada tahap ini dilakukan cara-cara yang dapat menarik perhatian orang lain. Chico mempunyai caranya sendiri untuk hal ini yaitu mempresentasikan permasalahan ini kedalam forum PBB, sehingga membuat banyak dukungan yang mengalir bagi dirinya untuk tetap memperjuangkan hutan Amazone. Tahap terakhir yaitu contesting. Pada tahap ini isu lingkungan bersaing dengan masalah-masalah lainnya untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Dengan presetasinya Chico di forum internasional yang dilaksanakan oleh PBB, ia telah membwa permasalahan lingkungan menjadi suatu hal yang penting bagi keberlanjutan masyarakat yang hidup disekitar hutan pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya. Karena pentingnya hal itu para pemimpin negara-negara yang ada di PBB mendukung Chico untuk terus berjuang agar daerah hutan Amazone tidak dijadikan lahan bisnis. Semangat juang yang pantang menyerah dalam mempertahankan sesuatu yang memang menjadi haknya, membuahkan hasil yang maksimal. Perjuangan melakukan kampanye untuk meyakinkan masyarakat mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan dan penggunaan cara-cara yang kreatif misalnya dengan pembuatan film dan pengabaran dengan jurnalistik merupakan suatu modal besar, sehingga membuat pihak Company Bordon membatalkan rencana pembangunan mereka di daerah Cachoeira.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sutton, Phillip W. 2007. The Environment: A Sociological Introduction. Cambridge: Polity Press.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Susilo, Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: Rajawali Press.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;World Bank. 2001a. “Indonesia: Environment and Natural Resource Management in a Time of Transition.” Jakarta: World Bank.———. 2001b. Integrated Swamps Development Project, Rural Development and Natural Resources Sector Unit East Asia and Pacific Region. Implementation Completion Report. Jakarta: World Bank.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Internet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;http://books.google.co.id/books?id=gvwC4Ojo9fEC&amp;amp;dq=The+burning+season&amp;amp;printsec=frontcover&amp;amp;source=bl&amp;amp;ots=xY_y50igL0&amp;amp;sig=HM5xPlM6ri5DqEQh7ViaKmQvn6U&amp;amp;hl=id&amp;amp;ei=YwkJS5m-F82PkQXBnoHfCQ&amp;amp;sa=X&amp;amp;oi=book_result&amp;amp;ct=result&amp;amp;resnum=13&amp;amp;ved=0CDUQ6AEwDA#v=onepage&amp;amp;q=&amp;amp;f=false, diakses pada tanggal 19 November 2009 pukul 22.09&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;http://www.encyclopedia.com/doc/1G2-3404707413.html, diakses pada tanggal 20 November 2009 pukul 23.34&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-2245780469340840339?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/2245780469340840339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/burning-season-sebuah-perjuangan-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2245780469340840339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/2245780469340840339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/burning-season-sebuah-perjuangan-dari.html' title='The Burning Season : Sebuah Perjuangan dari Cachoeira'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-8954214674478992611</id><published>2010-01-16T22:35:00.002+07:00</published><updated>2010-01-16T22:40:25.350+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Musibah atau Ketidakwarasan (Insanity)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca judul diatas sepertinya kita harus mengetahui terlebih apa itu ketidakwarasan. Dalam menjawab hal ini saya mengutip pendapat dari seseorang yang terkenal dengan ke jeniusannya, yaitu Albert Einsten. Misalkan anda adalah seorang psikiater serta tidak menyetujui tentang pendapat Einstein, silahkan anda memperdebatkan hal tersebut dengan dia. Einstein berpendapat bahwa “ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda”. Dalam bahasa inggrisnya yaitu “insanity is doing the same thing over and over and expecting different results”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya manusia terbesar di dunia. Akan tetapi hal ini justru terkadang menjadikan sebuah ‘musibah’ yang menyebabkan bangsa ini terjebak dalam belenggu kemiskinan. Saya menggunakan tanda petik, karena hal inilah yang ingin dibahas dan selanjutnya ingin memperlihatkan atau menjatuhkan vonis bahwa manusia Indonesia, sebagian besar sudah tidak waras. Mereka harus melakukan terapi yang ditujukan untuk meluruskan cara berfikir masing-masing orang dalam aktivitasnya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sejak zaman dahulu kala, nenek moyang kita hidup secara berpindah-pindah. Pada awalnya, mereka menempati suatu daerah dan hidup disana. Membangun tempat tinggal dan menetap disana. Akan tetapi mereka tidak selamanya tinggal ditempat tersebut. Ketika daya dukung daerah tersebut sudah berkurang dan hilang, maka mereka pindah ketempat lainnya. Keputusan yang waras, karena mengapa harus tinggal di tempat yang tidak nyaman serta tidak menjanjikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perpindahan ini tidak hanya terjadi pada generasi pemburu serta pengumpul makanan, tetapi juga generasi yang lebih maju, seperti petani dan pedagang. Kita dapat lihat betapa banyaknya kota-kota yang hilang, serta ditinggalkan oleh penduduknya seperti Angkor Wat, Machu Picchu, Chichen Itza, Luxor, Akhetaten, Memphis, Leptis Magna, Carthage Angkor Wat, dan Ayutthaya. Penduduk kota-kota ini bukanlah pemburu dan pengumpul-makanan. Pertanian dan kemampuan rekayasa (engineering) mereka sudah tinggi dan dibuktikan oleh bangunan-bangunan yang mereka tinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sebuah pertanyaan muncul bagaimana dengan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi) yang notabenya merupakan daerah yang memiliki pertumbuhan cukup tinggi. Jabotabek saya jadikan kasus, tetapi hal ini berlaku juga untuk daerah-daerah lainnya. Saya memiliki teman yang tinggal dengan keluarganya di Kampung Melayu yang setiap 4 tahun sekali harus ganti tv dan peralatan elektroniknya. Itu 8 tahun lalu. Mungkin sekarang dia harus lebih sering menggantinya. Pasalnya dulu setiap 4 tahun sekali rumahnya kena banjir. Saya pernah menganjurkan dia untuk memiliki perahu, sehingga kalau banjir, barang-barang elektroniknya bisa diselamatkan. Bahkan saya meminta agar ia membuat sebuah tempat tidur yang bisa diubah menjadi perahu ketika banjir. Dia tidak pernah menggubris anjuran saya. Dia berharap apa yang dilakukannya selama ini (itu-itu saja dan tidak berubah), akan menghasilkan perbedaan. Akan menyelesaikan masalahnya. Itu terjadi dari 8 tahun lalu sampai sekarang. Berdasarkan kriteria Einstein dia, dan juga orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, sudah tidak waras. Kalau mereka waras maka mereka sudah berbuat sesuatu yang lain, seandainya tidak mau pindah seperti yang dilakukan moyangnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Orang Tidak Waras, Tidak Bisa Belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kampung Melayu merupakan wakil dari beberapa tempat yang secara rutin terkena banjir. Masih banyak lagi tempat-tempat di Jakarta yang sering terkena banjir. Jalan-jalan di Pluit, Sunter, Kelapa Gading – tempat tinggalnya orang kaya, selalu kena banjir ketika musim hujan tiba. Aspalnya rusak, jalan berlubang yang membuat mobil cepat rusak. Untuk daerah Pluit lebih parah lagi karena airnya sangat keruh dan cukup korosif (cenderung membuat karat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa yang orang-orang ini lakukan? Memilih gubernur Jakarta untuk menyelesaikan masalahnya. Yang dimaksud adalah masa setelah orde reformasi, sebelum itu mereka memilih presiden untuk memilih gubernur yang akan menyelesaikan masalah itu. (Komentar: Mungkin mereka pikir lebih baik memilih orang yang langsung menangani banjir dari pada presiden yang tidak mau turun tangan langsung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Awalnya Sutiyoso. Katanya dia akan mengatasi banjir Jakarta. Setelah 5 tahun lewat, dia (Sutiyoso) berjanji lagi kalau dia terpilih lagi maka banjir Jakarta akan ditanggulangi. Tetapi janji tinggal janji, mejelang pemilihan gubernur berikutnya (diakhir masa jabatannya yang ke II), Sutiyoso mengatakan bahwa banjir Jakarta sulit ditanggulangi. Hal ini dikatakannya karena dia sudah tidak boleh lagi mencalonkan diri lagi. Dia sudah tidak punya insentif dan keuntungan lagi untuk membuat janji-janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian setelah Sutiyoso, siapa yang mereka pilih? (Paling tidak 36% dari pemilih) Fauzi Bowo yang sudah lamaaaaaaaa sekali kerja di DKI – kantor pemerintahan Jakarta. Mengherankan, kenapa yang terpilih adalah orang yang sudah terbukti tidak mampu mengatasi banjir di Jakarta selama belasan tahun (mungkin juga puluhan tahun) untuk mengatasi banjir Jakarta? Bukankah Fauzi Bowo yang dulunya kerja di pemerintahan DKI yang sudah menangai masalah banjir Jakarta?Memang benar, secara de facto, kursi kosong mengungguli Fauzi Bowo dan pembaca situs ekonomi orang waras (EOWI) lebih suka bahwa Jakarta tidak ada gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang Tangerang dan Banten mungkin berpikir sama. Dulunya mereka pikir gubernur Jawa Barat jauh di Bandung. Maka mereka minta pemekaran daerah. Dan diadakanlah gubernur Banten. Apa yang terjadi, ‘musibah’ Situ Gintung dan parahnya lagi, sang tante gubernur merasa hal ini bukan menjadi wewenangnya... Hallloooo......, tante gubernur..., bangun. Tugas anda adalah memperhatikan kesejahteraan rakyat Benten termasuk Tangerang. Tugas anda termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk membuat orang-orang di daerah Banten selamat. Jangan katakan bahwa urusan bendungan dan situ adalah urusan PU. Itu namanya dalih. Bisakah anda membedakan antara alasan dan dalih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lain lagi dengan Timor Timur. Mereka pikir jika sudah merdeka dari Indonesia maka mereka lebih makmur. Haalllloooo, itu ladang minyak Bayu-Udan sudah berproduksi, kenapa anda – Timor Timur masih belum makmur? Kasus lain lagi, yaitu Aceh dan GAM nya. Mereka pikir kalau sudah ada otonomi daerah dan GAM berkuasa, maka Aceh akan makmur. Haallloooo, apa anda sudah makmur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Kali Code Yogya Dan Kampung Melayu Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertengahan tahun 80an Kali Code Yogya, katanya daerah yang kumuh dan mau digusur. Kemudian datanglah romo Magun (yang sekarang sudah meninggal). Dia bersama-sama dengan rakyat setempat menata dan membangun rumah di daerah Kali Code sehingga baik dan asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kali Code Yogya dan Kampung Melayu (atau Pluit atau Kelapa Gading) Jakarta mengambil jalur yang berbeda. Masyarakat Kali Code tidak minta gubernurnya untuk memperbaiki lingkungannya. Mereka kerja (gotong royong) membangun lingkungannya, sehingga asri. Sebenarnya mereka juga tidak perlu romo Mangun. Apalah artinya sumbangan 1 orang dibandingkan tenaga 1000 orang? Para LSM sajalah yang membesarkan peran romo Mangun dalam pembangunan lingkungan Kali Code sehingga dia yang memperoleh nama besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Demikian kalau nanti pemukiman Kali Code terkena banjir bandang, jangan salahkan romo Mangun. Paling enak memang menyalahkan romo Mangun. Sebab sebenarnya yang salah adalah penduduk di Kali Code itu sendiri. Kenapa membangun rumah yang menjorok ke daerah aliran sungai? Masalah itu disimpan dulu sampai nanti, kalau hal ini sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kembali pada masalah Jakarta dan Kampung Melayu. Ada dua alternatif untuk mengatasi masalah banjirnya bagi penduduk di Kampung Melayu. Dan memilih gubernur tidak termasuk di antaranya. Kedua pilihan itu adalah, pergi dari daerah itu (Kampung Melayu) sehingga mereka tidak kena banjir atau bergotong royong membuat pemukiman yang baik di Kampung Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk daerah Pluit, Kelapa Gading dan tempat-tempat orang kaya di Jakarta, anda punya uang untuk menyewa kontraktor untuk memperbaiki lingkungan anda. Persoalan banjir di Belanda jauh lebih berat dibandingkan Jakarta. Kalau perlu datangkan kontraktor dari Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Uangnya dari mana? Pajak anda. Jumlah pajak yang dibayarkan penduduk Pluit untuk 2-4 tahun mungkin cukup untuk membuat hidup anda lebih nyaman. Kalian bisa bilang ke pemerintah, apakah pemerintah yang mau jadi kontraktornya dan membangun sistem mengendali banjir yang benar, seperti pemerintahan penjajah Belanda dulu, atau didatangkan kontraktor langsung dari Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penjajah Belanda dulu sudah membangun kanal-kanal dan sistem pengendali banjir. Perkara sukses atau tidak, kita harus lihat kembali sejarah. Tetapi kalau kita lihat negara Belanda yang saat punya ancaman banjir yang lebih besar dari banjir Ciliwung dan berhasil mengendalikannya, maka dapat diasumsikan bahwa dulupun mereka berhasil melakukannya di Hindia Belanda. Masalahnya sekarang pemerintahan Republik ini tidak becus memelihara dan mempertahankan apa yang ada. Tidak usah dibilang membangun yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Kepala Negara Kanada Yang Warga Negara Inggris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang selalu berpikir bahwa putra daerah, bumi putra lebih baik dalam memperhatikan daerahnya dari pada orang luar. Apakah demikian? Nenek saya bilang, zaman Belanda dulu adalah ‘jaman normal’, dan jaman ‘republik’ jaman tidak normal. Artinya jaman Belanda lebih makmur dari jaman ‘republik’. Artinya Belanda lebih becus mengurus dari pada politikus republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang Timor-Timur mungkin juga bilang bahwa jaman penjajahan Indonesia lebih makmur dari pada jaman kemerdekaan. Ini masih ‘mungkin’, karena saya tidak pernah menanyakan langsung kepada orang Timor-Timur. Itu hanya dugaan saya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perkara putra daerah, pribumi, bumiputra, saya jadi ingat kepala negara Kanada. Tahukah anda siapa kepala negara Kanada? Saat ini adalah ratu Elizabeth II dari Inggris. Catatan: Ratu Elizabeth II bukan warga negara Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari situ mungkin kita bisa belajar, bahwa bisa saja Jakarta, Banten tidak perlu ada gubernur, atau gubernurnya orang Inggris atau orang Kanada. Juga presidennya. Yang penting becus. Mungkin itulah solusi dari kisruh di negara ini. Selama kita masih memilih orang yang tidak kompeten, karena pilihannya hanyalah sederet manusia yang tidak kompeten, jangan sebut anda orang waras. Hanya orang gila saja, yang dari tahun-ke-tahun memilih orang yang tidak kompeten dari stok yang tidak kompeten untuk mengurus kesejahteraannya, tetapi mengharap hasil yang berbeda. Maksudnya adalah tercapainya kemakmuran. Kesengsaraan dan ‘musibah’ yang dihadapi bangsa ini, sesungguhnya bukan ‘musibah’ tetapi ke-tidak-warasan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-8954214674478992611?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/8954214674478992611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/musibah-atau-ketidakwarasan-insanity_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8954214674478992611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8954214674478992611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/musibah-atau-ketidakwarasan-insanity_16.html' title='Musibah atau Ketidakwarasan (Insanity)'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-4869408202629997075</id><published>2010-01-16T18:25:00.004+07:00</published><updated>2010-01-16T18:30:07.459+07:00</updated><title type='text'>Politik Kampus : Sebuah Gerakan Kotemporer</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kampus merupakan sebagai salah satu center of intellectuality memberikan ruang bagi berkembangnya berbagai ranah pemikiran, isu–isu nasional hingga internasional selalu saja menjadi garapan yang menarik di kampus–kampus seantero dunia. Mahasiswa selalu memainkan peran atau menjadi pemain sentral di negara manapun, yaitu sebagai the universal opposition anti terhadap pemerintahan rezim apapun yang berkuasa di negara tersebut. Mewaspadi ancaman yang akan ditimbulkan oleh masyarakat intelektual kota ini, para pemimpin negara kerap kali akan melakukan gerakan–gerakan restruktuisasi politiknya hingga jauh menjangkau kedalam kampus.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia praktik restruktuisasi politik di contohkan dan di pertontonkan oleh rezim orde baru pimpinan “bapak pembangunan” Soeharto tiga puluh lima tahun yang lampau tepatnya pada tahun 1974 lewat SK menteri P dan K No 028/U/1974 tentang NKK (normalisasi kehidupan kampus) dan BKK (badan koordinasi kemahasiswaan) sekarang senat / BEM, dimana isi keputusan ini sangat membelenggu langkah gerak mahasiswa yang sejatinya pergerakan mahasiswa harus senantiasa bergerak dan merambah, menjalar, mengembangkan nalar intelektualitas sejatinya, namun dalam konteks NKK-BKK semua kegiatan mahasiswa kala itu harus seluruhnya melalui persetujuan pihak pimpinan perguruan tinggi / rektorat yang pada dasarnya pada waktu itu mereka adalah antek–antek penguasa, dan pergerakan mahasiswa harus sesuai dengan cita–cita kepala negara yang tentunya ini sangat jelas bertentangan dengan idealnya mahasiswa yang selalu menempatkan dirinya menjadi oposisi kritis pada pemerintahan yang sedang berkuasa, dampak yang paling terlihat adalah mahasiswa kehilangan ruang politiknya yang bebas dan kreatif, melainkan hanya sebatas teori dan konsep diruang kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun saat ini permasalahan kampus terus saja berkembang ditengah–tengah pasang surut kondisi sosial politik negeri ini, namun ironis justru permasalahan yang berkembang di kampus hanya permasalahan yang sama sekali tidak menunjukan kekuatan bersama sebuah kelompok mahasiswa yang besar, yang mengusung isu bersama dan ideologi menjadi oposisi penuh bagi pemerintah, sebagaimana warisan yang diberikan oleh pergerakan mahasiswa terdahulu yang seharusnya menjadi bahan kerjaan mahasiswa saat ini, sekarang yang berlangsung hanyalah pertarungan antar mahasiswa sendiri, tidak ada lagi teriakan “satu komando, satu perjuangan, rakyat (mahasiswa) bersatu tak bisa dikalahkan” justru diperalat oleh sekat–sekat dasar ideologi, atas dasar fanatisme sempit kelompok, kamu bukan kelompokku, maka kamu musuhku, kamu tidak sealiran denganku kamu salah, yang melahirkan tradisi politik kotor dan amoral, yang saat ini justru mahasiswa menjadi boneka atau malah robot kepentingan oknum tertentu yang haus akan kekuasaan, bahkan bisa jadi mahasiswa adalah pionir bagi pemerintahan yang sedang berkuasa, alamat kemunduran gerakan kampus. Indikas ini pun terlihat dari gaya hidup hedonisme anak muda yang dibawa oleh budaya barat, membuat mata dan hati tertutup untuk memikirkan masalah rakyat, dan lebih penting mengatur jadwal bersenang–senang pacaran, mumpung masih muda katanya??? ketimbang memikirkan kelanjutan atas kemajuan bangsa dan negaranya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Geliat Politik Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mencermati geliat gerakan mahasiswa di tataran politik nasional sembilan tahun pascareformasi bisa dikatakan minim partisipasi. Apalagi untuk urusan berkecimpung di dunia politik praktis, sangat kurang minat. Kenyataan ini diperlihatkan dari banyaknya “golongan tua” yang masih dominan di dunia politik. Tersebutlah nama-nama lawas seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Megawati, Amien Rais, Sutiyoso, Sultan HB X, atau Wiranto. Notabene kesemuanya telah berusia diatas 40 tahun. Tak ada satupun muncul nama baru dari golongan muda yang maju ke kancah perpolitikan nasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fenomena ini tentu lahir bukan tanpa sebab. Ketertarikan mahasiswa kontemporer saat ini cenderung kearah market oriented yaitu orientasi yang lebih membawa dampak profit and benefit bagi si mahasiswa itu sendiri. Lain kata, mahasiswa saat ini lebih berpikir soal untung-ruginya ia mengikuti sebuah kegiatan. Tentu saja hal ini amat kontras dengan tipe gerakan politik mahasiswa pada angkatan pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan, orde lama dan orde baru. Dimana arah pergerakan mahasiswa waktu itu lebih bersifat nation problem oriented dengan melibatkan massa rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meski begitu, saat ini masih terdapat kelompok mahasiswa yang memiliki interest terhadap kajian politik. Mereka ini sebenarnya merupakan kelompok termarjinalisasi dari kaum mahasiswa itu sendiri. Mereka yang peduli ini “bertahan” dan membuktikan “eksistensi” didalam bentuk organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti BEM, Senat, BPM, Dewan Kemahasiswaan atau kelompok studi yang berorientasi kepada kegiatan politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Isu-isu yang diusung biasanya merupakan isu lokal atau paling banter isu kedaerahan dimana organisasi kemahasiswaan itu berada. Contoh, BEM FISIP UI 2009 yang beberapa hari yang lalu mengadakan Simposium pendidikan. Sementara itu di wilayah lain, perkumpulan organisasi kemahasiswaan di Jawa Tengah mengangkat tema penolakan nuklir. Beda lagi di kawasan Ibukota, isu Pimilihan gubernur yang menjadi bahan omongan mahasiswa-mahasiswa Jakarta saat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Memperbincangkan Kampus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bila dilihat dari kacamata jurnalistik, isu lokal yang diusung organisasi kemahasiswaan diambil karena tingkat proximity-nya tinggi. Jarak memengaruhi minat individu atau kelompok untuk mengangkat sebuah isu. Isu yang diangkat biasanya mengenai kebijakan-kebijakan kampus. Seperti absensi 75%, naiknya SPP dari tahun ke tahun atau problem ketidakberesan birokrasi kampus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain itu, Gerakan mahasiswa saat ini memiliki kecenderungan memperjuangkan vested interest-nya masing-masing. Misalnya, Senat di sebuah fakultas memperjuangkan kepentingan mahasiswanya. Atau BEM yang mengusahakan kepentingan-kepentingan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dibawahnya. Akhirnya malah kesan eksklusif yang justru didapat. Dampaknya tenaga dan pemikiran kritis mahasiswa kekinian hanya habis tersedot untuk mengurusi masalah-masalah lokal dan internal kampus (meski tidak di semua perguruan tinggi). Sementara isu-isu nasional dikesampingkan atau tidak disorot sama sekali. Akibatnya individu atau anggota organisasi kemahasiswaan tersebut terisolasi pengetahuannya tentang perkembangan politik dunia luar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Disini gerakan mahasiswa perlu atur taktik dan strategi. Problem ini bisa diatasi dengan cara melakukan pembagian tugas antaranggota didalam organisasi tersebut. Pembagian berdasarkan urusan internal dan eksternal organisasi. Bagian internal mengurusi soal problem mahasiswa dan kampus (bahkan di beberapa lembaga pendidikan tinggi, fungsi ini diserahkan kepada organisasi lain seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan atau Himpunan Mahasiswa Program Studi). Sedangkan bagian eksternal bermain pada tataran menjalin relasi dengan organisasi kemahasiswaan ekstra-universiter. Juga membahas isu-isu yang bersifat nation problem oriented.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Perubahan Paradigma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Konon, akhir-akhir ini ada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa pergeseran paradigma yang terjadi dalam tubuh para aktivis mahasiswa semakin hari semakin riskan. Dunia kampus, yang sejatinya harus tumbuh dan berkembang di dalamnya tradisi intelektualisme, ternyata hanyalah omong kosong belaka. Demi mendapatkan kekuasan sektarian, kebohongan demi kebohongan mereka lontarkan seirama dengan umbaran janji-janji palsu yang menjijikkan. Mereka tidak menyadari, atau pura-pura tidak tahu-manahu perihal implikasi logis yang diakibatkan dari keculasan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lihatlah, begitu banyak para aktivis yang sering menyalahgunakan organisasi dan sering memanfaatkan kader yang masih bau kencur untuk memenuhi kepentingan “perut” mereka. Padahal dalam dataran idealitas, kader seharusnya tidak dijadikan tunggangan dan kemudian ditinggalkan ketika “kepuasan” telah digenggam, melainkan diberdayakan dan selalu diupayakan menuju kematangan-kematangan dan penyempurnaan-peneyempurnaan, baik secara intelektualitas maupun emosionalitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Barangkali karena mereka, para aktivis “kacangan” itu terlalu ahli dalam manajemen isu, sehingga mereka lupa dan terjerat ke dalam jurang oportunisme dan pragmatisme buta. Contoh yang sangat riil dapat kita temukan di kampus kita. Ketika pesta pemilu raya digelar, disadari atau tidak, muncul dan berkembang istilah yang disebut dengan bad campaign dan back campaign. Trem yang pertama adalah kampanye politik yang dimaksudkan untuk mengkritik lawan politik dan mengungkap segala kelemahan-kelemahannya. Term yang kedua diistilahkan sebagai kampanye politik dengan menjelek-jelekkan, bahkan memfitnah lawan politik demi membunuh karakter lawan politiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesungguhnya, berpolitik adalah hal yang sangat manusiawi. Karenanya, dalam politik ada ”aturan main” dan etika yang harus didindahkan tanpa bertolak belakang dengan tujuan yang diharapkan. Dalam perspektif Mahatma Ghandi, seorang tokoh revolusioner dari India, setiap tujuan yang ingin dicapai harus selaras dan seimbang dengan metode dan tata cara yang dilakukan. Mustahil hasil dari tujuan dinilai baik jika metode yang digunakan adalah dengan jalan yang buruk. Begitulah kiranya yang dimaksud dengan politik yang ”bersih”, sebagaimana yang pernah dikatakan Plato bahwa politik adalah seni mempegaruhi orang lain dengan kecerdikan dan kecerdasan, bukan dengan keculasan dan kebohongan serta cara-cara keji yang menghalalkan segala macam aturan demi meraih keinginan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi, antara idelitas dengan realitas memang cenderung berdiri secara diametris. Kerja-kerja politik yang idelanya selalu bersih dari ”kelicikan-kelicikan” dan ”keculasan-keculasan” ternyata banyak menuai kendala. Sehingga tidak heran jika kemudian ada ”justifikasi publik” bahwa politik itu memang kotor, tidak pernah bersih. Kalau jujur dan bersih itu bukan politik. Begitu mungkin kilah mereka. Hal ini terjadi, karena selama ini kerangka pikir mereka dalam ranah politik sudah terpola oleh asumsi umum bahwa politik memang harus oportunis, sporadis, pragmatis, bahkan anarkis. Sederhananya, politik sama dengan kebohongan dan kelicikan. Sehingga, apapun cara dan metode yang dilakukan dianggap sah-sah belaka selama dipandang akan memuluskan jalan menju ”tujuan”. Inilah yang dimaksud dengan pergeseran paradigma itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mentalitas mahasiswa, khusunya para aktivis kacangan itu, pada kenyataanya memang belum siap untuk memegang kendali bangsa, karena nurani kejujuran dan integritas keilmuan belum tertanam dalam jiwa mereka. Dan parahnya, sebagian kita terjebak pada distorsi pemahaman, bahwa aktivis selalu dididentikkan dengan mahasiswa yang sering berkoar-koar ketika demonstrasi, ”molor” sampai menjadi ”mahasiswa abadi”, sering bolos (karena kesibukan organisasi), dekil dan lain sebagainya. Padahal, aktivis sejatinya adalah mereka yang berkutat dalam wacana keilmuan, aktif berorganisasi tapi tidak melalaikan kuliah, serta memiliki tekad kuat dalam memperjuangkan idealismenya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari paparan singkat di atas, terdapat benang merah yang dapat dijadikan pijakan reflektif-otokritik bahwa ketika tradisi intelektualisme dalam aktivisme kampus mulai tergerus dan melemah, maka yang menguat kemudian adalah tardisi politik praktis. Dengan kondisi demikian, dunia kampus tidak lagi menjadi muara berkembangnya wacana keilmuan, melainkan menjadi pabrik penghasil poli(tikus)-poli(tikus) ulung yang terjerat dalam oportunisme buta. Aktivitas dan gerakan politik kampus tidak lagi diperjuangkan dengan mengusung idealitas yang sakral, tetapi cenderung pada perebutan kekuasaan semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-4869408202629997075?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/4869408202629997075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/politik-kampus-sebuah-gerakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/4869408202629997075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/4869408202629997075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/politik-kampus-sebuah-gerakan.html' title='Politik Kampus : Sebuah Gerakan Kotemporer'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-8528837634023030887</id><published>2010-01-15T11:40:00.003+07:00</published><updated>2010-01-16T16:40:45.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>NEGARA TEOKRASI INDONESIA : Tinjauan Terhadap Kondisi Demokrasi Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kondisi umum, sistem pemerintahan Negara yang sangat popular kini adalah monarki konstitusional, teokrasi dan demokrasi. Negara-negara kerajaan seperti Malaysia, Jepang, dan Inggris merupakan contoh Negara monarki konstitusional. Beberapa kerajaan di daerah Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran termasuk Negara penganut sistem teokrasi.  Yang terbanyak dianut sekarang ini adalah sistem demokrasi, walaupun masih sebatas dalam ungkapan resmi saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu, Bagaimana dengan Indonesia? Sejak merdeka, Indonesia mengklaim dirinya bukan sebagai negara monarkhi, baik monarki absolut maupun monarkhi konstitusional, karena tidak mengenal raja sebagai pemimpin negara tertinggi di negeri ini. Kita juga menolak disebut sebagai negara teokrasi, karena tidak ada pengakuan secara tersurat bahwa kita mengakui kepemimpinan berdasarkan aturan agama apapun. Kita dengan tegas selalu menempatkan diri dalam kelompok negara dengan sistim pemerintahan demokrasi. Namun, benarkah demikian? Sudahkah negara ini menjalankan sistim pemerintahan demokrasi yang sesungguhnya? Berikut ini adalah analisa umum tentang sistim pemerintahan Indonesia dalam prakteknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk menganalisa realitas sistim pemerintahan Indonesia, sebaiknya kita tinjau sekilas pengertian dan unsur-unsur penunjang dari sistim teokrasi dan demokrasi. Istilah teokrasi diserap dari bahasa Yunani, theos (tuhan) dan kratein (memerintah), yang terjemahan bebasnya: pemerintahan tuhan. Kata demokrasi juga dari bahasa Yunani, demos (rakyat) dan kratein, dan diartikan sebagai: pemerintahan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam sistim pemerintahan tuhan, negara teokrasi dipimpin oleh seseorang atau sekelompok orang dari golongan pemimpin agama (clergy) dan menjalankan ketentuan agama yang diakui negara dalam pemerintahannya. Pada beberapa negara tertentu, pemimpin negara ini malah dianggap sebagai wakil tuhan atau bahkan terkadang jelmaan tuhan. Konsekwensinya, pemimpin negara adalah dari kalangan agamawan. Ketentuan yang dijalankan adalah amanah tuhan yang tersurat dalam kitab suci dan diperuntukan untuk rakyat. Sehingga rakyat tidak lebih sebagai kelompok penderita dan menerima apa adanya segala ketentuan dan kebijakan dalam negara. Karena undang-undangnya dari tuhan, maka sudah sewajarnya bila peraturan-peraturannya ditujukan hanya untuk kalangan warga negara yang percaya pada kitab suci agama tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebaliknya, dalam negara demokrasi dengan slogan: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, segalanya ditentukan oleh rakyat. Pimpinan dipilih dari antara rakyatnya, pemilihan dilakukan oleh rakyat, dan dia mengabdi untuk rakyat. Dalam menjalankan tugasnya, pemerintah mempedomani ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh rakyatnya dan ia akan dinilai serta dimintai pertanggungjawaban oleh rakyat menggunakan ukuran yang dibuat oleh rakyat itu sendiri. Pemimpin bisa bergantian dengan anggota masyarakat yang lainnya sesuai mekanisme yang dibuat oleh rakyat tanpa diskriminasi agama, jenis kelamin, dan lain-lain. Setiap individu dalam masyarakat memiliki hak yang sama secara individual dan dihormati oleh negara tanpa kecuali. Tidak terdapat pembedaan dalam mengakomodasi kebutuhan rakyatnya, tidak perlu mayoritas-minoritas, besar-kecil, kelas atas – kelas bawah, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari penjelasan istilah teokrasi dan demokrasi di atas, secara singkat kita dapat menentukan beberapa unsur utama dalam penyelenggaraan pemerintahan negara dari dua sistim tersebut. Setidaknya ada tiga unsur yang dapat dikemukakan di sini, yaitu faktor penguasa, ketentuan perundangan, dan sasaran pemerintahan. Pada negara teokrasi, penguasa negara lebih dominan ditentukan oleh pengaruh keagamaan tertentu, sedangkan pada sistim demokrasi lebih ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk memikul tanggung jawab memenuhi keinginan rakyatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peraturan perundangan dan kebijakan pemerintahan negara teokrasi berdasarkan kitab suci, sebaliknya pada negara demokrasi, undang-undang adalah cerminan aspirasi seluruh rakyatnya. Sasaran implementasi pemerintahan negara teokrasi dan demokrasi adalah sama yakni rakyat. Perbedaanya, di negara teokrasi yang dianggap rakyat adalah mereka yang secara sadar tunduk dan taat pada ketentuan hukum kitab suci agama yang dianut negara, sedangkan pada negara demokrasi hal itu tidak dikenal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenyataanya di Indonesia, pemilihan kepemimpinan negara masih didominasi oleh pengaruh kelompok keagamaan. Bahkan secara sadar atau tidak, kita sering terjebak pada ketentuan agama tertentu untuk menentukan memenuhi syarat atau tidaknya seorang calon pemimpin, seperti yang dialami oleh mantan presiden Megawati dengan polemik wanita tidak boleh menjadi pemimpin dalam agama Islam. Secara tersirat, ketentuan bahwa calon presiden RI harus beragama Islam juga sangat kental, tapi tidak disuarakan. Ada keyakinan bahwa bila saja terdapat kandidat presiden non-muslim hal ini akan menjadi perbincangan hangat tentang sah tidaknya sang calon karena agamanya. Argumen yang mungkin mengemuka: wajarkah kaum muslimin dipimpin oleh non-muslim? Sama persis seperti, mungkinkah seorang non-muslim menduduki jabatan menteri agama Indonesia? Realitas ini menunjukkan bahwa Indonesia cenderung menganut sistim teokrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagian besar produk hukum dan kebijakan negara, baik ditingkat nasional maupun daerah, juga merupakan bukti implementasi sistim teokrasi. Sebut saja yang paling jelas terang benderang: syariat Islam dengan beragam bentuk dan wujudnya. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Undang-undang Nomor 17 tahun 1999 tentang urusan haji, yang justru merupakan pengejawantahan “keinginan tuhan” yang tertuang dalam kitab suci agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perda-perda juga tidak luput dari distorsi “menjalankan perintah tuhan”, seperti peraturan hukum cambuk di Aceh dan perda larangan keluar malam di Tangerang. Yang paling aktual dan santrer diperdebatkan saat ini, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang jelas-jelas hanya mengakomodasi ketentuan tuhan dalam agama Islam merupakan calon UU penambah deretan ketentuan hukum negara teokrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam percakapan sehari-hari, baik resmi kenegaraan maupun tidak resmi, terdapat banyak sekali ikon dan ungkapan “hukum tuhan” yang digunakan pemerintah dan politisi. Sebut saja “Indonesia sebagai negara agamis”, atau yang lebih spesifik “daerah A identik dengan Islamnya”, “Kota B adalah kota Beriman” (kota lainnya tidak beriman?), dan lain-lain. Simbol-simbol keagamaan juga sangat kental dalam koridor pemerintahan kita. Juga, pada setiap UU, PP, Kepres, dan seterusnya pasti terdapat kalimat ini: “Dengan Rahmat Tuhan Yang maha Esa” pada awal konsiderannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Contoh-contoh tersebut sesungguhnya merupakan perlambangan Indonesia yang ingin mengatakan bahwa kita berdiri sebagai suatu negara dan menjalankan pemerintahan kenegaraan dengan fungsi utama untuk menjalankan pemerintahan tuhan di nusantara, sehingga semua ketentuan-ketentuan yang ada harus mengakomodasi keinginan tuhan. Celakanya, keinginan tuhan yang dituangkan dalam buku suci agama tertentu saja yang dijadikan pedoman, kitab suci agama lain dianggap tidak ada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keadaan ini dinilai banyak kalangan lebih diakibatkan oleh sistim perpolitikan kita yang amat kental dipengaruhi kaum elit agama tertentu. Kelompok ini dapat dianggap sebagai perwujudan “utusan tuhan” sehingga seakan memiliki legitimasi untuk mendiktekan “pesan tuhan” kepada pemerintah dan masyarakat, semisal melalui fatwa, doktrin, somasi, dan lain-lain. Tentu disertai bumbu penutup: bila pesan tuhan ini diabaikan, kesengsaraan dan kutuk dari langit akan menimpa bangsa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa demokrasi kita sesungguhnya baru pada tahap demokrasi “kulit luar”, belum menerapkan „nurani demokrasi“ yang sesungguhnya, yang melihat esensi warga negara sebagai individu yang perlu diperhatikan, dilindungi dan diakomodasi kepentingan hidupnya sebagai individu oleh negara. Yang sudah kita lakukan masih sebatas pada pemaknaan demokrasi sebagai multi partai, suara mayoritas, dan kepentingan mayoritas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keadaan tersebut dapat saja berdampak positif dan baik. Namun dilemanya, struktur sosial dan politik masyarakat kita yang masih dominan dikungkung oleh ketentuan dogmatis keagamaan tertentu, mengalahkan akal sehat untuk menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan bersama dalam pluralitas. Akibatnya, pola pemerintahan negara yang tercipta mengikuti trend ketentuan dogma agama tertentu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara teokrasi berbungkus kulit demokrasi, negara pelaksana ketentuan tuhan yang cenderung mengingkari pluralisme rakyatnya. Kenyataan ini tentu saja merupakan pengingkaran sejarah pembentukan negara pada awalnya karena Indonesia hakekatnya dibentuk atas dasar kesepakatan bersama (kontrak sosial) rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke melalui wakil-wakilnya, para pejuang kemerdekaan waktu itu. Kontrak sosial tersebut, sebagai dasar kehidupan berdemokrasi suatu negara, telah kita ganti dengan “pesan-pesan tuhan” dari kelompok agama tertentu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-8528837634023030887?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/8528837634023030887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/negara-teokrasi-indonesia-tinjauan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8528837634023030887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/8528837634023030887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2010/01/negara-teokrasi-indonesia-tinjauan.html' title='NEGARA TEOKRASI INDONESIA : Tinjauan Terhadap Kondisi Demokrasi Kita'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-7464681175807100051</id><published>2009-10-10T23:18:00.003+07:00</published><updated>2010-01-16T18:01:00.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Surat Kepada Bapak/Ibu Presiden</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Bapak/Ibu Presiden yang sangat saya hormati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sebagai seorang mahasiswa, saya saat ini seperti layaknya sedang menonton seorang petinju yang sedang tepojok di sudut ring tinju. Ia dipukul ‘straight’ oleh kenaikan-kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menghindar ke kiri terkena ‘hook’ kanan karena nilai rupiah yang terus melemah, mencoba mundur akan tetapi terkena ‘uppercut’ karena kondisi politik dan budaya yang terkadang justru mengurangi kekuatan bertahan, bahkan kehilangan nafas pada saat pergantian ronde yang disebabkan oleh rangkaian bencana alam yang terus datang menghampiri. Si petinju tersebut tidak akan mungkin keluar dari ring tempat pertandingan, bukan hanya karena ia seseorang yang penuh tanggung jawab serta dibatasi oleh ring konstitusi, akan tetapi ia juga didukung oleh mayoritas penonton yang mengharapkan dia bangkit, menghadapi secara tegar semua pukulan serangan yang pada akhirnya nanti diharapkan dapat meng’knock out’ lawannya.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Bapak/Ibu Presiden yang diharapkan kebijaksanaannya, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Keadaan republik yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya ini memang seperti layaknya seorang petinju yang sedang terpojok di atas ring, untungnya Allah masih sayang dengan negara yang mayoritas beragama islam ini. Tidak terbayangkan apa yang dapat terjadi jika Pemerintah tidak mampu untuk menyediakan dana subsidi BBM yang ‘meledak’ karena harga minyak mentah yang sangat melonjak tinggi. Suatu hal yang mengagumkan memang di saat terjadi resesi perekonomian dunia, ekonomi kita tetap tumbuh diatas 6 %. Hal ini tentu patut diberi acungan jempol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Bapak/Ibu Presiden yang sedang berjuang menyelamatkan Ibu Pertiwi,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sang Petinju, apabila ingin tetap bertahan dan menang, bukan hanya perlu stamina serta kemampuan yang kuat, tetapi ia juga perlu di dukung oleh para pembantunya yang handal, pembantu yang mampu menganalisa serta memprediksi langkah-langkah lawannya, lalu memberikan masukan serangan balik dan pastinya membuat si petinju dapat bertanding dengan baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Presiden membutuhkan pembantu yang professional juga yang berkualitas, yang mengerti apa yang harus dia kerjakan, yang objektif, serta mempunyai pengalaman yang cukup dibidang yang dia tempati dan yang pasti yang mau berbakti untuk Republik ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Bapak/Ibu Presiden yang diharapkan ketegarannya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Selama ini, masyarakat serta para elit politik terlanjur memiliki opini bahwa jabatan menteri merupakan jabatan politis atau ‘pembantu’ Presiden. Jika sebagai pembantu, yang penting ‘dekat’ dengan Presiden serta mengerti apa yang diinginkan Presiden. Pada era Orde Lama dan Orde Baru, posisi menteri ini memiliki peran sebagai ‘pelestari’ kekuasaan politik presiden. Menteri sebagai seorang ‘hulu balang’ yang merupakan perpanjangan tangan presiden.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Karena persepsi bahwa menteri adalah jabatan politis tersebut, pada era Presiden Soeharto dikenal menteri-menteri ABS (Asal Bapak Senang). Walaupun kemudian mereka ‘berkhianat’ dengan berteriak “ABS = Asal Bukan Soeharto”. Di era Presiden Abdurrahman Wahid terkenal menteri-menteri yang nasibnya “terlunta-lunta” bahkan di lepas jabatannya oleh presidennya sendiri, sehingga untuk pertama kali – kesan menteri itu bukan “siapa-siapa”, karena dapat terancam setiap hari, sekehendak presiden.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Era Presiden Megawati, nasib menteri sepertinya lebih “powerfull” dibandingkan presiden. Selain karena kabinetnya terbentuk karena gotong-royong, juga merupakan kabinet pelangi hasil kompromi, para menteri kabinet ini berjalan sendiri-sendiri, hampir tanpa komunikasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bapak Presiden yang akan bekerja keras,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Mahasiswa sebagai rakyat biasa tidak bisa menuduh bahwa penurunan nilai tukar rupiah, apalagi kenaikan harga minyak mentah adalah karena para menteri pembantu presiden tidak bekerja dengan baik. Tetapi mahasiswa hanya merasakan bahwa republik ini seperti seorang petinju yang sedang terpojok, yang mungkin terjadi karena para pembantu diluar ring tidak menganalisa kemampuan petinju lawan dengan baik dan tidak mampu memberikan masukkan kapan menyerang serta bertahan dengan double cover atau bahkan kapan bertahan dan berlindung menyender ke tali ring.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Banyak yang berpendapat bahwa apabila mendasarkan pilihan menteri atas popularitas, vokalitas, dan asal partai, maka sepertinya pendekatan aspek kelanggengan kekuasaan menjadi terlihat lebih dominan, dibandingkan mendahulukan kinerja para calon menteri berdasarkan asas professionalitas serta kualitas sebagai figure atau tokoh yang selama ini handal dalam bidangnya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Bapak/Ibu Presiden yang telah dipilih oleh rakyat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sebenarnya banyak rakyat yang pantas menjadi menteri, saat Bapak/Ibu akan memilih menteri maka sudah saatnya untuk mempertimbangkan calon-calon menteri yang berasal dari orang-orang yang professional, yang berprestasi dan berdedikasi selama ini, serta telah puluhan tahun bekerja, tentunya dengan kualifikasi yang teruji. Bayangkan saja, biasanya mereka adalah lulusan terbaik dari universitasnya, masuk menjadi pegawai negeri dengan test berjenjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Suatu hal yang tidak dapat dibayangkan bila Presiden dan Wakil Presiden dipilih sebagai seorang generalis yang populer karena rakyat, lalu menteri hanyalah jabatan politis, siapa yang menjadi ‘direktur’ negara ini, yang membuat garis besar kebijaksanaan secara terpadu, yang memonitor hasil kerja sehari ari seperti layaknya seorang manager.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bapak/Ibu Presiden yang akan bekerja menyelamatkan Negara,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Rakyat saat ini mendambakan, menteri kabinet adalah orang-orang yang bekerja keras dengan cerdas, jujur, dan professional, serta mampu mengangkat bangsa ini keluar dari krisis, sadar dan tahu diri akan beratnya amanat yang dipegang, sambil member teladan, tidak mementingkan diri sendiri atau organisasinya, tetapi bekerja untuk rakyat dan negara tercinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Semoga Bapak/Ibu yang telah terpilih sebagai presiden dapat melakukan tugas-tugasnya dengan maksimal untuk menghajar balik lawan, duduk memilih pembantu yang tepat untuk memenagkan pertandingan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Selamat bertugas rakyat menantikan realisasi janji-janji-Mu !!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-7464681175807100051?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/7464681175807100051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/10/surat-kepada-bapakibu-presiden.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/7464681175807100051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/7464681175807100051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/10/surat-kepada-bapakibu-presiden.html' title='Surat Kepada Bapak/Ibu Presiden'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-5008525539589812600</id><published>2009-09-19T23:27:00.003+07:00</published><updated>2010-01-16T18:02:22.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Ironi Makna Idul Fitri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Insya Allah beberapa jam lagi, kita, ummat Islam yang melaksanakan puasa, akan menyelesaikan ibadah puasa kita hari terakhir Ramadhan 1430 H. Dan kita akan menyongsong 1 Syawal sebagai hari kemenangan. Subhanallah, karena Allah telah memberi umur panjang untuk kita sehingga kita akan bisa menyelesaikan puasa tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai insan hamba Allah SWT, saya yakin, semua kita telah berusaha untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan memperbanyak amalan, baik yang wajib maupun yang sunat. Kita telah melakukannya, dan hanya Allah Yang Maha Kuasa yang tau, apakah ibadah kita sudah baik dan benar, sehingga akan mendatangkan pahala. Atau kah, kita hanya termasuk golongan yang merugi...? Yang hanya menahan lapar dan dahaga saja. Wallahu'alam....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, nanti malam sudah masuk pada tanggal 1 Syawal. Tentu saja kita sangat merasa kehilangan. Saya tidak bisa membayangkan, apakah pada tahun 1431 H masih diberi umur panjang sehingga dapat bertemu lagi dengan Ramadhan. Hanya yang Allah yang Maha mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kita pada tahun-tahun sebelumnya, malam Lebaran di berbagai kota selalu meriah, tak terkecuali Depok. Biasanya semua orang akan tumpah ruah turun ke jalan untuk melakukan Takbiran. Suasananya sangat ramai, dipenuhi dengan berbagai macam model manusia yang sibuk dengan eforia takbiran. Kenderaan dipastikan akan memenuhi jalanan Kota.... Sebagian orang sudah berduyun-duyun memenuhi toko pakaian dan malam ini barangkali adalah puncaknya. Ibu-ibu tak ketinggalan memenuhi toko yang menjual berbagai macam kue. Selusin kaleng kue di rumah, rasanya belum cukup, masih ditambah dengan berbagai penganan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah... apakah semua perilaku yang sudah saya sebutkan di atas merupakan perilaku yang benar dan dianjurkan Rasulullah...? Sebagian memang benar. Kita dianjurkan untuk memperkuat tali silaturrahim, saling kunjung-mengunjungi. Kita dianjurkan memuliakan tamu. Kita dianjurkan membeli baju baru, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Namun melihat fenomena sekarang ini, rasanya apa yang sudah dilakukan oleh sebahagian orang, sudah menjurus pada salah kaprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak! Semua orang rame-rame takbiran, namun hampir dapat dipastikan mereka akan melanggar aturan berlalu lintas di jalan raya. Menggunakan truk bak terbuka, yang disesaki puluhan orang, bercampur laki-laki dengan perempuan. Menggunakan sepeda motor juga dengan kecepatan kayak pembalap MotoGP, namun tidak menggunakan helm pengaman maupun pengaman lainnya. Silahkan rekan-rekan perhatikan. Semua yang saya ungkapkan adalah pengalaman beberapa tahun belakangan. Mudah-mudah saja perilaku seperti ini, tidak merenggut nyawa, seperti tahun-tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga ingin menggarisbawahi perilaku Ibu-ibu. Meja ruang tamu-nya sudah dipenuhi dengan bermacam ragam kue, tapi pada menit-menit terakhir Ramadhan, malah menambah belanjaan sehingga dapat dipastikan setelah hari ke lima belas Syawal, kue-kue tersebut masih tersisa alias tidak habis dikonsumsi oleh para tamu. Ironisnya, padahal tetangganya yang anak yatim masih kekurangan. Jangankan keluarga mereka membeli berbagai penganan yang mahal itu, untuk sekedar membeli baju baru sepasang saja, mereka tidak punya uang. Untuk membeli setengah kilogram daging meugang saja mereka tidak bisa. Ketika kita membeli baju baru untuk anak-anak berpasang-pasang, tetangga kita yang fakir miskin, membeli baju dari tukang loak saja tidak bisa.&lt;br /&gt;Apakah ini yang namanya makna Lebaran....? Na'uzubillah, semoga saja Allah SWT tidak melaknat kita, kaum muslimin, yang sudah menjauhi makna Idul Fitri sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana juga kita merayakan Lebaran atau Idul Fitri..? Sebagaimana sudah sering disampaikan oleh para Ustadz, bahwa hakikat puasa Ramadhan adalah menjadikan manusia menjadi orang yang bertaqwa. Kalau sebelum Ramadhan masih ringan melakukan dosa, maka setelah berpuasa Ramadhan, mudah-mudahan tidak lagi. Kalau dulu, terasa sangat berat untuk bersedekah, setelah Idul Fitri kali ini, mudah-mudahan kita akan menjadi manusia yang suka menolong. Idul Fitri dapat dimaknai dengan kemenangan bagi kita setelah sebulan penuh berpuasa. Nah, kemenangan dapat dikatakan benar, bila kita menjadi orang yang makin bertaqwa pada Allah SWT. Diharapkan setelah Lebaran, perilaku baik yang sudah terpelihara selama Ramadhan dapat terus berlanjut. Kehidupan Islami harus terus kita pelihara. Namun bagaimana bisa Islami kalau pada saat menjelang Lebaran saja, kita lalai dengan makna Idul Fitri sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam beberapa contoh yang ironis, seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Mari kita rayakan Idul Fitri dengan meningkatkan amalan, merayakan dengan perilaku sederhana, membuang jauh-jauh eforia duniawi, yang tidak diajarkan oleh syari'at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN &amp;amp; KEKHILAFAN, MUDAH-MUDAHAN KITA JADI INSAN YANG FITRAH.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-5008525539589812600?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/5008525539589812600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/09/ironi-makna-idul-fitri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/5008525539589812600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/5008525539589812600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/09/ironi-makna-idul-fitri.html' title='Ironi Makna Idul Fitri'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-3796846216118279502</id><published>2009-07-28T15:39:00.001+07:00</published><updated>2010-01-16T18:03:04.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Bahasa Nasional vs Bahasa Asing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari ketika ada seorang kawan yang baru saja lulus kuliah kemudian ia ingin melamar kerja, akan tetapi ia selalu tidak diterima. Setelah dievaluasi kesalahannya hanya satu hal yaitu ia terlalu bangga menggunakan bahasa Indonesia. Berbeda dengan pelamar-pelamar pekerjaan lainnya yang selalu menggunakan bahasa Inggris sebagai sebuah bahasa pokok, kawan tadi tersebut menggunakan Bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Alasan kawan itu memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu yakni, karena ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya Berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi serta menyeleksi karyawannya dalam Bahasa Inggris. Ya mungkin supaya dibilang intelek …cuy…!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;Memang banyak bagian-bagian perusahaan yang memiliki istilah-istilah asing, seperti meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy.  Kita beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah berbahasa Inggris juga sangat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Lihatlah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol dan tidak masuk diakal yaitu, Busway. Entah, hal apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita seperti ini. Mengapa kata-kata asing sangat bertaburan bebas dalam percakapan masyarakat sehari-hari? Bahasa Indonesia sepertinya tidak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng Bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih mengucapkan kata tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping,  yang merupakan suatu syarat bagi penduduk berwawasan global, meskipun pengetahuan serta nalarnya tidak diajak mengglobal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti tidak mau ketinggalan zaman – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, justru melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari Berbahasa Indonesia, yang bahkan sebagian dari mereka justru tidak mengerti Bahasa Inggris. Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang silih berganti di setiap halaman Koran didepan mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada Koran SINDO contohnya, sebuah media massa nasional, yang notabenya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, justru melakukan hal tersebut. Coba periksa koran tersebut pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggriskan ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini. Mau contoh lain? Tidak usah pergi jauh-jauh, karena cukup sambil duduk sambil membaca halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda seperti, merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut, yang justru tentunya akan memanjangkan rasa jengkel kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian, apakah akan menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa-bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi segemilang mereka? Apakah dengan begitu bangsa ini terlihat cerdas karena berhasil menyamakan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu malunyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung  ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam Bahasa Indonesia-nya.  Masih cukup sehatkah pemikiran kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria sambil mengucapkan kata, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, ‘shit’, atau ‘fuck you’. Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap Inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan yang memadai serta memupuni. Contoh paling mencegangkan, juga paling tolol, ada pada istilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”. Sungguh menyedihkan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ sebagai Air Conditioner dan’HP’ sebagai Hand Phone. Bukankah kita melogatkan a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal kalau kita sok Inggris layaklah dieja dengan nama ei-si dan eitch-pi. Akan tetapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dibaca dengan mengejanya menjadi em-en-si, bukan em-en-ce. Kemudian yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya serta Bahasa Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di daratan Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, Bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik seratus delapan puluh derajat bila artis Indonesia yang tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memang, bahasa yang hidup merupakan bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti Bahasa Latin serta bahasa-bahasa lainnya. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita sekarang ini tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang mengrogoti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi ego sendiri terhadap budaya asing yang datang. Hal ini seperti orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman, dan sesampainya dikampung halaman ia tidak tahu harus melakukan apa dengan riasannya tersebut. Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri (yaa..setidaknya kita memiliki kawan seperjuangan). Bangsa tersebut adalah Bangsa Romawi. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Suatu pertanyaan yang riskan sekali untuk dijawab secara rasional. Seharusnya kita tersinggung dengan pernyataan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-3796846216118279502?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/3796846216118279502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/bahasa-nasional-vs-bahasa-asing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/3796846216118279502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/3796846216118279502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/bahasa-nasional-vs-bahasa-asing.html' title='Bahasa Nasional vs Bahasa Asing'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-4647829288092527360</id><published>2009-07-28T11:22:00.006+07:00</published><updated>2010-01-16T18:04:43.636+07:00</updated><title type='text'>Award</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__iz-26hrz2c/Sm59jDTKpcI/AAAAAAAAAKQ/nbxoK79e_c0/s1600-h/award-Irfan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__iz-26hrz2c/Sm59jDTKpcI/AAAAAAAAAKQ/nbxoK79e_c0/s320/award-Irfan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363362247379428802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ini award pertama yg gw post. Award blog ini akan gw berikan pada teman blog gw ini:&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.shandyisme.com/" target="_blank"&gt;Shandy&lt;img id="snap_com_shot_link_icon" class="snap_preview_icon" style="border: 0pt none ; margin: 0pt ! important; padding: 1px 0pt 0pt; max-height: 2000px; max-width: 2000px; min-width: 0px; min-height: 0px; font-style: normal; font-weight: normal; float: none; position: static; left: auto; top: auto; line-height: normal; background-image: url(http://i.ixnp.com/images/v6.1/theme/purple/palette.gif); background-color: transparent; visibility: visible; width: 14px; height: 12px; background-position: -943px 0pt; background-repeat: no-repeat; text-decoration: none; vertical-align: top; display: inline;" src="http://i.ixnp.com/images/v6.1/t.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.ekaitpc.blogspot.com/"&gt;Eka&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://spongebaykun.blogspot.com/"&gt;Bay&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://www.biosukses.co.cc/"&gt;Biosukses&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://s-training.blogspot.com/"&gt;Sautparl&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;a href="http://sibadrin.blogspot.com/"&gt;Ad1n&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;a href="http://h4sn4-adventure.blogspot.com/"&gt;Gadis Liar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;a href="http://scientificfasting.blogspot.com/"&gt;SF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;a href="http://banzaiprimanet.blogspot.com/"&gt;Tonibanzai&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;a href="http://linkbee.com/blogmusikrock"&gt;Blog Rock&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;silahkan copas code dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;textarea rows="4" cols="20" name="code"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://masterzukhruf.blogspot.com" target="_blank" title="The Blog of Master Zukhruf"&gt;&lt;img border="1" alt="Master Zukhruf" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rr0mvRlnavM/SmRnPyrWYJI/AAAAAAAAAJY/Ak67w5MKipA/s320/award-Irfan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PENTING !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerima award diatas diharuskan untuk membagikan kembali award ini kepada sepuluh link lainnya. Selanjutnya si penerima award harus meletakkan link-link berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.renijudhanto.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://evyliahardy.blogspot.com/"&gt;Evylia Hardy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://eric-musik.blogspot.com/"&gt;Eric Ariyanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://masterzukhruf.blogspot.com/"&gt;Irfan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://www.masdoyok.co.cc/"&gt;Piyenkz&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://www.masdoyok.co.cc/"&gt;Mas Doyok&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;a href="http://aremaniangalam.blogspot.com/"&gt;Reza&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;a href="http://boybloglinux.blogspot.com/"&gt;Rizky&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;a href="http://indoneter.blogspot.com/"&gt;Indoneter&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;/span&gt;&lt;a style="" href="http://andreas-bisnismurah.blogspot.com/"&gt;Humor Bisnis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;10. &lt;a href="http://radhitisme.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Radhit&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum kamu meletakkan link di atas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1&lt;br /&gt;Posisi 9, jml backlink = 5&lt;br /&gt;Posisi 8, jml backlink = 25&lt;br /&gt;Posisi 7, jml backlink = 125&lt;br /&gt;Posisi 6, jml backlink = 625&lt;br /&gt;Posisi 5, jml backlink = 3,125&lt;br /&gt;Posisi 4, jml backlink = 15,625&lt;br /&gt;Posisi 3, jml backlink = 78,125&lt;br /&gt;Posisi 2, jml backlink = 390,625&lt;br /&gt;Posisi 1, jml backlink = 1,953,125&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan traffik tambahan.&lt;br /&gt;Nah, silahkan copy paste saja, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-4647829288092527360?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/4647829288092527360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/award.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/4647829288092527360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/4647829288092527360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/award.html' title='Award'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__iz-26hrz2c/Sm59jDTKpcI/AAAAAAAAAKQ/nbxoK79e_c0/s72-c/award-Irfan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-7356336241125879403</id><published>2009-07-27T15:45:00.001+07:00</published><updated>2009-07-27T15:48:47.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Hasil Akhir Quick Count dan KPU</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada tanggal 25 Juli 2009 ini Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan hasil rekapitulasi suara Pemilihan Presiden 8 Juli 2009. Berikut ini hasil rekapitulasinya yang saya bandingkan dengan hasil Quick Count (perhitungan cepat) dari 3 lembaga survei yakni LSI, Cirrus, dan LP3ES.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 446.25pt; text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" width="595" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pasangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;KPU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0cm; width: 103.5pt;" width="138"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;LSI (+/- Suara)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0cm; width: 101.25pt;" width="135"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Cirrus (+/- Suara)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0cm; width: 100.5pt;" width="134"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;LP3ES (+/- Suara)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;Mega-Prabowo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;26.79%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 56.25pt;" width="75"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;26.56%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 47.25pt;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;0.23%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 59.25pt;" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;27.49%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 42pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;0.70%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 44.25pt;" width="59"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;27.33%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 56.25pt;" valign="top" width="75"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;0.54%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;SBY-Boediono&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;60.80%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 56.25pt;" width="75"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;60.85%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 47.25pt;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;-0.05%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 59.25pt;" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;60.20%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 42pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;-0.60%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 44.25pt;" width="59"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;60.36%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 56.25pt;" valign="top" width="75"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;-0.44%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;JK-Wiranto&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;12.41%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 56.25pt;" width="75"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;12.59%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 47.25pt;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;-0.18%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 59.25pt;" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;12.30%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 42pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;-0.11%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 44.25pt;" width="59"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;12.31%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 56.25pt;" valign="top" width="75"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: red;" lang="IN"&gt;-0.10%&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari tab&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-CA"&gt;el&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; diatas, dapat dilihat bahwa hasil perhitungan cepat tidak akan berbeda cukup jauh dengan hasil dari penghitungan &lt;i style=""&gt;real&lt;/i&gt;, apabila menggunakan metode stastistik yang benar serta tepat. Kalkulasi statistik lembaga survei seperti LSI, Cirrus maupun LP3ES memiliki tingkat keakuratan hingga 99%. Hal ini membuktikan bahwa hasil perhitungan cepat dapat dipercaya selama metode yang digunakan oleh lembaga tersebut sesuai dengan ilmu statistik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari hasil rekapitulasi suara Komisi Peilihan Umum di 31 provinsi Indonesia, pasangan SBY-Boediono memperoleh suara lebih dari 31% pada setiap propinsi. Suara terkecil pasanagn bernomor urut 2 ini berada di Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah suara 31, 62%, sedangkan pasangan ini mendapatkan kemenangan mutlak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussallam dengan suara 93,25%. Fakta ini secara konstitusi pasangan yang memiliki jargon ‘SBY Berbudi’ ini memenangkan peilihan presiden Juli 2009 dalam satu putaran seperti yang tertulis pada pasal 6A ayat 3 UUD 1945 amandemen-III :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Pasangan calon Presiden &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;dan wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen suara) disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari 1/2 (setengah) jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dari jumlah suara yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dapatkan SBY-Boediono mendapat 73.9 juta suara dari 177 juta hak pilih. Disusul oleh Mega-Prabowo yang mendapatkan 32.5 juta suara, serta JK-Wiranto dengan 15.1 juta suara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 253.5pt; text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" width="338" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pasangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;KPU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mega-Prabowo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;32,548,105&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;SBY-Boedionno&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;73,874,562&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 87pt;" width="116"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;JK-Wiranto&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm; width: 54pt;" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;15,081,814&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tugas Menanti SBY-Boediono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam penyelenggaraan Pemilu kali ini, ada begitu banyak PR atau tugas bagi pasangan SBY-Boediono dalam pemerintahan pada periode 2009-2014 nanti. Masih banyak janji-janji kampanye tahun 2004 kemarin yang belum dapat direalisasikan dan hingga kini masih menjadi masalah serta harus diselesaikan. Terdapat sekian banyak masalah multidimensi bangsa yang harus dikerjaan secara terpadu dan sebisa mungkin terlepas dari kepentingan-kepentingan politik partai dan pribadi. Berikut ini beberapa hal yang akan saya bahas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pertama, yakni permasalahan kemiskinan. Menurut data kemiskinan bulan Maret 2008, angka kemiskinan Indonesia mencapai 35 juta jiwa atau 15,4% tidak mengalami penurunan signifikan seperti janji SBY-JK pada tahun 2004 yang mengatakan akan menurunkan angka kemiskinan hingga 8,2%. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;SBY-Boediono harus melakukan perubahan ekonomi yang mendasar untuk menurunkan angka kemiskinan yang secara signifikan agar 35 juta orang miskin dengan penghasilan dibawah Rp 6.000 per hari jauh dari standar hidup layak. Karena selama 4 tahun lebih memerintah, SBY-JK hanya mampu menurunkan 1 juta angka kemiskinan rakyat Indonesia meski anggaran naik 300%.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal kedua adalah pengangguran. Berdasarkan data BPS jumlah penduduk yang menggangur Indonesia pada tahun 2008 adalah 8.4%. Ini berarti ada sekitar 9 juta orang yang menganggur dan ini menjadi cikal bakal kemiskinan. Butuh cara-cara komprehensif untuk mengatasi pengangguran ini. Salah satu adalah mengubah kebijakan yang cenderung pro pada pemodal besar (saudagar dan asing) ke arah kebijakan UKM dan koperasi. Indonesia memiliki yang luas, tapi sayang masyarakat tidak memiliki akses memberdayakannya. Begitu juga lahan-lahan nganggur, disisi lain konsumsi rakyat kita cukup progresif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal ketiga adalah pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Kita tahu bahwa pasca gugatan para guru kepada MK, akhirnya pemerintah mau tidak mau harus memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20% APBN. Dengan kenaikan angka anggaran ini, maka tugas utama pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan disisi lain harus berusaha melakukan pemerataan akses pendidikan di seluruh Indonesia. Akses pendidikan di pedalaman Papua harus sama dengan dengan di ibukota Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal keempat adalah masalah hukum dan pemberantasan korupsi. Jika kita mau jujur, sejumlah kasus yang berkaitan hukum di negeri ini masih diproses secara tebang pilih, disisi lain hukuman masih jauh dari keadilan. Pertama ada berbagai kasus korupsi besar yang tidak diungkap bahkan dihentikan seperti kasus aliran dana korupsi non-budgeter DKP kepada semua capres-cawapres 2004 termasuk SBY sendiri. Termasuk dalam masalah hukum adalah kasus lumpur Lapindo yang secara tidak langsung pemerintah SBY-JK melindungi para perusak lingkungan dan pelanggaran UU Amdal. Jadi kita buktikan apakah keyakinan sebagian besar masyarakat (hingga terpelajar) bahwa tidak tegasnya SBY dalam kasus Lapindo karena ada kepentingan JK sebagai Wapres melindungi Bakrie! Kita tunggu 100 hari pertama SBY-Boediono, apakah ia akan mencabut Per.Pres 14 tahun 2007. Kita tunggu bukti bagaimana niat tegas SBY kepada Ical pasca kekalahan JK.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal kelima adalah kedaulatan negara. Masalah pertahanan, kedaulatan Ambalat, dan perbatasan negara masih menjadi ancaman kedaulatan negara. Belum lagi kisruh diberbagai daerah konflik. Selain itu pemerintah juga harus bisa menyelesaikan konflik yang terjadi di Papua dan di daerah-daerah lainnya, jangan sampai ada tangan-tangan asing yang tidak bertanggung jawab memecah rasa nasionalisme masyarakat Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal keenam adalah reformasi birokrasi dan efiesiensi pegawai negeri. Sampai saat ini, kita masih melihat dilema buruknya birokrasi serta begitu banyaknya pegawai negeri yang bekerja leha-leha, tidak efesien dan korup baik waktu maupun disiplin kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal ketujuh adalah masalah-masalah besar lain misalnya kasus pembunuhan Alm Munir yang sudah hampir 5 tahun membisu, BLBI, pemertaan pembangunan daerah, kemandirian pengelolaan sumber daya alam, peningkatan kinerja BUMN, reformasi dan rekayasa di bidang pertanian, perkebunan, hak-hak anak dan perempuan, layanan kesehatan serta banyak hal lainnya mengenai kependudukan (pengusuran, tata kota).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Itulah segelintir tugas-tugas besar yang harus dikerjakakan. Dan terpilihnya pasangan ini harus diterima dan dihargai sebagai hasil demokrasi. iapapun mereka baik pendukung SBY-Boediono, pendukung Mega-Prabowo ataupun JK-Win bahkan golongan golput sebaiknya tetap mendukung kebijakan pemerintah yang akan datang selama kebijakan itu baik dan benar secara hukum maupun moral. Disisi lain, siapapun orangnya, mesti secara tegas dan berani mengatakan kekeliruan sebagai kekeliruan dan berani mengkritik apabila kebijakan tidak sesuai lagi dengan nilai hukum dasar, budaya dan moral bangsa kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebagai contoh, semua pihak terutama ketiga capres-cawapres ini harus mendukung upaya penegakan hukum terkait pelanggaran-pelanggaran pemilu presiden 2009. Siapapun yang melanggarnya harus ditindak. Namun saya cukup pesimis dengan adanya upaya hukum yang akan menghukum capres-cawapres kita apalagi kepada presiden dan wakil presiden terpilih. Salah satu memori yang masih tersimpan saya adalah pelanggaran hukum Pilpres 2004 terkait dana kampanye seperti saya utarakan dibagian atas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekali lagi selamat atas kemenangan ini. Semoga bahwa ada perubahan yang lebih baik selama 5 tahun kedepan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-7356336241125879403?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/7356336241125879403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/hasil-akhir-quick-count-dan-kpu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/7356336241125879403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/7356336241125879403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/hasil-akhir-quick-count-dan-kpu.html' title='Hasil Akhir Quick Count dan KPU'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-904442581495689266</id><published>2009-07-24T08:35:00.001+07:00</published><updated>2009-07-24T08:38:35.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>BUMN,  IMF-Word Bank dan Privatisasi di Indonesia (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD) 1945 merupakan landasan konstitusi negara Indonesia. Melalui UUD 1945 pula secara jelas para founding father merumuskan falsafah dan prinsip ekonomi yang menjadi landasan ekonomi kita. Mengenai sistem ekonomi negara Indonesia, dapat kita lihat dalam Bab XIV UUD 1945 yang berjudul “Kesejahteraan Sosial”, khususnya pasal 33 UUD 1945. Kesejahteraan sosial (umum) menjadi salah satu pilar, semangat berikut tujuan berdirinya Negara Republik Indonesia, selain untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menempatkan Pasal 33  UUD 1945 dalam bagian Kesejahteraan Sosial, ini berarti pembangunan ekonomi nasional haruslah berlandaskan pada peningkatan kesejahteraan sosial. Peningkatan kesejahteraan sosial merupakan paramater dari keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya yang merata, bukan semata-mata angka pertumbuhan ekonomi apalagi kemegahan pembangunan ekonomi fisikal. Pasal 33 UUD 1945 merupakan pasal yang mengutamakan kepentingan masyarakat bersama masyarakat, tanpa mengabaikan kepentingan individu dalam berwiraswasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kutip kembali isi Pasal 33 UUD 1945 dalam sub-bab Kesejahteraan Sosial (non-Amandemen):&lt;br /&gt;1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.&lt;br /&gt;2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.&lt;br /&gt;3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan pasal 33 UUD 1945 sebagai berikut. Landasan demokrasi mewarnai ekonomi produksi yang dikerjakan oleh semua pihak, untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonmian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Jenis perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ketangan orang seorang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada ditangan orang-seorang. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat untuk kedaulatan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sistem utama ekonomi negara menganut  paham demokrasi ekonomi berdasar “kebersamaan dan asas kekeluargaan”, namun pada saat itu, negara tetap menjamin paham individualisme atau asas perorangan  dalam berwiraswasta seperti tertuang dalam Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang salah satunya tetap menggunakan ketentuan Wetboek van Koophandel (KUHD).  Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi “Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.” merupakan salah satu ruang yang diberikan kepada pihak swasta untuk mengerakkan sektor ekonomi yang tidak dominan, yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Cikal Bakal BUMN atau Perusahaan Negara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pokok-pokok Perusahaan negara (yang kemudian dikenal sebagai BUMN) muncul dalam pasal 33 ayat 2 dan 3  yang mana pasal 31 ayat 1 UUD 1945 merupakan prinsip dasar kerja dari perusahaan negara yakni pengelolaan bersama untuk kepentingan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pasal 33 ayat 2 dan 3, secara jelas menerangkan bahwa cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak serta bumi air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam kalimat tersebut, secara jelas Negara Indonesia memposisikan diri sebagai negara kesejahteraan (welfare state).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Indonesia merdeka, fungsi dan peranan perusahaan negara sudah menjadi perdebatan dikalangan  founding fathers terutama pada kata dikuasai oleh negara. Bung Karno menafsirkan bahwa karena kondisi perekonomian masih lemah pasca kemerdekaan, maka negara harus menguasai sebagian besar bidang usaha yang dapat menstimulasi kegiatan ekonomi. Sedangkan, Bung Hatta menentang pendapat ini dan memandang bahwa negara hanya cukup menguasai  perusahaan yang benar-benar menguasai kebutuhan pokok masyarakat seperti listrik dan transportasi. Pandangan Hatta ini kemudian lebih sesuai dengan paham ekonomi modern, dimana posisi negara hanya cukup menyediakan infrastruktur yang mendukung proses pembangunan (Rice, Robert C., 1983, The Origin of Basic Economic Ideas and their Impact on New Order Policies, Bulletin of Indonesian Economic Studies)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca kemerdekaan, Indonesia harus membangun ekonomi ditengah usaha para negara imperaliasme menjajah kembali Indonesia. Perang dan pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah terus terjadi tanpa henti hingga Dekrit Presiden 1959. Pada awal tahun 1950-an, pendirian negara dibatasi pada beberapa sektor vital yang sesuai Hattaconomic,  namun pendirian perusahaan negara masih tidak efektif karena adanya gangguan/guncangan keamanan dan politik. Dan diakhir tahun 1957, pemerintah mulai melakukan nasionalisasi hampir semua sektor yang  sesuai dengan konsepsi Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan mendirikan perusahaan negara dan nasioanalisasi menurut Bung Karno adalah untuk mendorong perekonomian nasional, terutama perusahaan negara yang bergerak dalam bidang infrastruktur. Sederatan perusahaan Belanda dinasionalisasi seperti PT Kereta Api atau Djawatan Kerera Api (UU 71/1957), PT Pos (Djawatan Pos), PT Garuda Indonesia Airways, dan diakhir pemerintah Soekarno sempat mendirikan Perusahaan Negara (PN) Telekomunikasi. Namun, sebagian perusahaan yang dinasionalisasi oleh Pemerintahan Soekarno banyak merugikan negara karena Belanda sudah terlebih dahulu mengalihkan aset perusahaannya ke Belanda. Namun demikian, perusahaan vital dan strategis pada akhirnya menjadi jati diri bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Detik-Detik Menjelang Neokolonialisme dan Imprialismenya Jilid II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam Konferensi Moneter dan Keuangan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bretoon Woods-Amerika Serikat yang diadakan antara tanggal 1 Juli 1944 sampai 22 Juli 1944 telah dicapai apa yang dinamakan “Persetujuan Bretoon Woods“. Persetujuan in ditandatangani oleh 44 negara, menetapkan dibentuknya 2 badan keuangan internasional, yakni Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund atau IMF) dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (International Bank For Reconstruction and Development atau IBRD). IBRD menjadi salah satu lembaga yang membentuk Bank Dunia (Word Bank atau WB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pokok dari dana ini sebagaimana tercantum dalam statutennya adalah stabilisasi kurs penukaran mata uang negara anggota, perluasan perdagangan internasional, penurunan tarif bea-bea, penghapusan pembatasan-pembatasan secara berangsur (cikal bakal free trade/pasar bebas). Tujuan dari Bank adalah untuk memberi bantuan-bantuan berjangka panjang kepada para anggota guna mengadakan rekonstruksi produksinya akibat kerusakan peperangan ataupun mengadakan pembangunan ekonomi untuk menaikkan kemakmuran rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia didorong oleh keinginan yang besar untuk menyatakan kesediaannya mengadakan kerjasama internasional, Dan pada tanggal 24 Juli 1950, Indonesia mengajukan permintaan untuk menjadi anggota dari Dana dan Bank tersebut. Setelah 3 tahun yakni pada pertengahan 1953, akhirnya Indonesia diterima sebagai anggota dari kedua Badan itu, keanggotaan mana kemudian disahkan dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1954 tertanggal 13 Januari 1954.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pengalaman Indonesia sejak masuk menjadi anggota sampai saat tahun 1965 (kurang lebih 12 tahun) tidak membawa manfaat yang banyak, bahkan merugikan bagi kepentingan bangsa dan negara dalam mewujudkan cita-citanya, yakni membangun masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 12 tahun, Soekarno melihat pengalaman bahwa justru hubungan Indonesia dengan Bank Internasional lebih merugikan bagi kita. Pemerintahan Soekarno melihat bahwa IMF dan IBRD melalui praktik-praktik yang dijalankan selama ini, terutama terhadap negara-negara yang sedang berkembang hanyalah menjadi alat dari kaum kapitalis untuk menjalankan politik neokolonialisme dan imprialismenya dan dengan demikian tidak sesuai dengan ide Berdikari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan yang selama ini dialami Indonesia adalah lembaga ini hanya bersedia memberi bantuan mereka jika bantuan tersebut lebih menguntungkan bagi kepentingan mereka. Pemerintah Bun Karno melihat bahwa pada hakekatnya kedua lembaga keuangan ini tidak jauh berbeda dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni hanya sekedar merupakan alat kaum neokolonialisme dan imperialisme untuk menjalankan manipulasi politiknya. Bahkan dalam kedua lembaga ini, dominasi dari golongan kapitalis ini dapat dikatakan mutlak baik dalam hal politik, modal, pegawai pimpinannya maupun administrasi organisasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, maka dapat dipastikan bahwa kehadiran IMF dan WB memberi andil bagi kehancuran ekonomi Indonesia di era 1950-an hingga 1960-an selain gerakan separatis seperti PRRI-Semesta yang didukung oleh pasukan  CIA di bagian timur Indonesia.  Berhubung dengan itu, maka Bung Karno secara tegas menarik Indonesia dari IMF dan IBRD ini melalui UU 1/1966 pada tanggal 14 Februari 1966.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8177585601854219700-904442581495689266?l=radhitisme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://radhitisme.blogspot.com/feeds/904442581495689266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/bumn-imf-word-bank-dan-privatisasi-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/904442581495689266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8177585601854219700/posts/default/904442581495689266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://radhitisme.blogspot.com/2009/07/bumn-imf-word-bank-dan-privatisasi-di.html' title='BUMN,  IMF-Word Bank dan Privatisasi di Indonesia (1)'/><author><name>Raditia Wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01666069634839892225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-DNNHAQTPwPA/TruPguAcJJI/AAAAAAAAARY/_tV_DVfd7x8/s220/IMG_2954.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8177585601854219700.post-1624953859635227235</id><published>2009-07-23T16:01:00.001+07:00</published><updated>2009-07-23T16:17:52.455+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Mahasiswa'/><title type='text'>Spekulasi Bom Ritz Carlton dan JW Marriot</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-CA"&gt;Pada hari Jumat 17-7-2009 kemarin, bom bunuh diri kembali terjadi di Indonesia yakni di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriot yang menewaskan sedikitnya 12 orang. Ada banyak isu spekulasi yang beredar terkait motif bom di dua tempat yang menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;penginapan sementara para turis dan orang asing di Indonesia. Dan seperti kita ketahui bahwa Hotel Ritz-Carlton telah direncanakan sebagai tempat penginapan para pemain &lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Manchester United&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; dalam tour ke Jakarta (Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span lang="EN-CA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&l
