21/03/09

Sebuah Kontroversi di Akhir Tahun Ajaran

Akhir tahun ajaran adalah saat yang membuat banyak manusia menjadi lebih sibuk dari hari biasanya. Semua institusi pendidikan bersiap-siap melepas dan menerima anggota barunya. Bermula dari Ujian Nasional, selebrasi kelulusan, pendaftaran sekolah, dan tak lupa keributan kecil tentang sepatu dan buku baru. Terjadi semacam babak baru kehidupan yang melibatkan tawa dan air mata. Hal ini karena adanya proses meninggalkan sesuatu untuk menempuh sesuatu yang baru. Tetapi di lain sisi, hal yang menarik dari dinamika itu adalah selalu adanya kontroversi yang seperti sudah menjadi sebuah keniscayaan.

Ujian Nasional tentu bukan merupakan hal asing bagi siswa SD, SMP, maupun SMA. Ujian ini penuh ketegangan, sebuah ujian penentuan kelulusan seorang siswa dari institusi pendidikan. Ketidakseimbangan ketika durasi belajar sedemikian tahun hanya ditentukan dengan beberapa jam saja menjadi ”bahan obrolan” banyak media dan menimbulkan pro-kontra dalam masyarakat. Ujian Nasional mejadi hal yang hangat untuk beberapa saat, sebuah kontroversi bersifat ritualistik disertai regulasi yang berputar-putar. Membingungkan pastinya.

Tak berbeda dengan tragedi Monas 1 Juni tahun 2008 lalu, yang oleh Amien Rais dikatakan sebagai pengalihan isu kenaikan BBM, demikian halnya dengan selebrasi kelulusan Ujian Nasional. Konvoi dan aksi coret-mencoret seragam sekolah yang dianggap mengganggu ketertiban umum pun menimbulkan kontroversi. Benturan antara ekspresi kebahagiaan di satu pihak, dan ketertiban umum di pihak lain. Bersamaan dengan ramainya corat-coret seragam sekolah, luntur pulalah perbincangan tentang Ujian Nasional. Sedangkan keributan kecil tentang buku dan sepatu baru seolah-olah mengucapkan selamat tinggal bagi penyelesaian polemik Ujian Nasional.
OKK: Obyek Kontroversi Kelas
Dalam lingkup yang lebih kecil, Universitas-Universitas terkesan tidak mau ketinggalan untuk ikut andil dalam berbagai ”keributan” akhir tahun ajaran. Demi menyambut kedatangan ’anggota keluarga baru’, sebuah acara akbar pun di gelar, Orientasi Kehidupan Kampus (OKK). Dari nama kegiatan tersebut, dapat dilihat bahwa OKK diharapkan dapat mempersiapkan anggota-angota baru kampus agar dapat terbiasa dengan kehidupan kampus. Kegiatan ini mempersiapkan mahasiswa baru agar terbiasa dengan perbedaan-perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan kehidupan SMA sebelumnya.
Selanjutnya, ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan sejatinya merupakan pemicu ketidakpuasan, yang pada akhirnya berpotensi menjadi sebuah konflik dan kontroversi. Pada kenyataannya, banyak kontroversi lahir dari 3 kata tersebut (OKK). Mulai dari kekerasan terhadap peserta, pelecehan terhadap panitia, penyelewengan dana, keributan-keributan selama kegiatan, sampai dengan klaim materi yang tidak sesuai dengan hakikat OKK. Berbagai ketidaksesuaian ini mendorong pihak rektorat untuk berupaya memberlakukan Surat Keputusan DIKTI (Th. 2001) tentang pelarangan kegiatan semacam itu, yang sekarang ini masih dalam tahap Rancangan Surat Keputusan Rektor. Upaya pelaksanaan OKK yang ”mendidik” terlihat dari poin-poin rancangan Rancangan Surat Keputusan tersebut dengan memberlakukan penghapusan atribut, pembatasan kurikulum yang dirasa bisa mewujudkan OKK bercorak akademis, dan juga penghematan (baca:pemotongan) biaya operasional kegiatan. Dan sampai sekarang pun kontroversi dan negosiasi sebagai buntut Rancangan Surat Keputusan tersebut masih belum terselesaikan.

Sebenarnya, permasalahan tidak terletak pada ”kita harus memperjuangkan ini!” atau ”hal ini dilakukan agar tidak terjadi keributan!”. Tetapi lebih dari itu, tidak menutup kemungkinan terjadi hal-hal seperti yang dikatakan oleh Yasraf Amir Piliang sebagai hiper reality. Fenomena gunung es yang terlihat kecil di permukaan, tetapi dibalik itu ada ”kejadian-kejadian” lain yang disamarkan oleh kejadian permukaan tersebut. Atau meminjam bahasa Jean Bauldilldard sebagai simulacrum, sebatas rekayasa dan kepura-puraan. Atau menurut hermeneutika Saussure sebagai signifier (penanda), yang dalam hal ini terdapat banyak kemungkinan apa yang ditandainya.

0 komentar:

Poskan Komentar