Dengan Tulisan Aku Ingin Menghirup Berupa-Rupa Pengalaman Lalu Terjun Bebas Menyelami Labirin Lika-Liku Kehidupan Yang Ujungnya Tidak Dapat Disangka-radhitisme
02/01/12

Anthony Giddens : The Last Modernist (Sebuah Biografi Singkat)

Sebuah Pengantar

Menarik sebuah benang merah dari inti teori Struktur Anthony Giddens ke arah konsep pemikir-pemikir sebelumnya seputar teori tersebut bukanlah sebuah pekerjaan yang singkat. Gagasan yang plural tentang beberapa subjek, serta rentangan kurun waktu sejarah sampai pada zaman Comte misalnya -yang merupakan rentangan waktu yang cukup panjang- yang telah memuat daftar ratusan gagasan para sosiolog dan teoritisi lainnya, turut menambah rumit proses perunutan tersebut. Namun, untuk bisa memahami dengan jelas siapa Giddens dan bagaimana teori strukturnya, maka proses perunutan merupakan hal yang wajib dilakukan. Untunglah, peta perkembangan pemikiran teori Sosiologi yang dibuat Ritzer bisa membantu pekerjaan itu.

Tulisan ini berisi biografi singkat Anthony Giddens, teori struktur dan agennya, serta pembahasan singkat peta perkembangan pemikiran dari Auguste Comte sampai Giddens, ditambah dengan teori terpadu George Ritzer, sebagai perkembangan teori selanjutnya. Tulisan ini sengaja hanya difokuskan pada teori struktur dan agen dengan maksud agar bisa diperoleh gambaran lebih mendalam seputar teori tersebut.

I. Biografi
Anthony Giddens adalah seorang teoritisi sosial Inggris. Ia lahir pada 18 Januari 1938. Karya awalnya bersifat empiris dan memusatkan perhatian pada masalah bunuh diri. Dalam karya-karyanya, Giddens membangun perspektifnya sendiri, yang terkenal sebagai teori strukturasi.

II. Teori Struktur dan Agen

Anthony Giddens

Giddens mengemukakan teori strukturasi. Kunci pendekatan Giddens adalah bahwa ia melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya dapat dipisahkan satu sama lain. Agen terlibat dalam struktur dan struktur melibatkan agen. Menurutnya, seluruh tindakan sosial memerlukan sturktur dan seluruh struktur memerlukan tindakan sosial. Giddens menolak untuk melihat struktur semata sebagai pemaksa terhadap agen (misalnya seperti Durkheim), tetapi melihat struktur baik sebagai pemaksa maupun penyedia peluang.

Inti konseptual teori strukturasi terletak pada pemikiran tentang struktur, sistem dan dwi rangkap struktur. Struktur didefinisikan sebagai “properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya), yang memungkinkan praktek sosial serupa yang dapat dijelaskan untuk eksis di sepanjang ruang dan waktu dan yang membuatnya menjadi bentuk sistemik. Struktur hanya akan terwujud Karena adanya aturan dan sumber daya. Struktur itu sendiri tidak berada dalam ruang dan waktu. Fenomena sosial mempunyai kapasitas yang cukup untuk menjadi struktur. Giddens berpendapat bahwa struktur hanya ada di dalam dan melalui aktivitas agen manusia. Jadi Giddens mengemukakan definisi struktur yang tak lazim, yang tak mengikuti pola Durkheimian dalam memandang struktur sebagai suatu yang berada di luar dan memaksa aktor. Menurutnya, struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial.

Giddens melihat modernitas sekarang sebagai “juggernaut” (panser raksasa) yang lepas kontrol.
“kehidupan kolektif modern ibarat panser raksasa yang tengah melaju hingga taraf tertentu bisa dikemudikan, tetapi juga terancam akan lepas kendali hingga menyebabkan dirinya hancur-lebur. Panser raksasa ini akan menghancurkan orang yang menentangnya dan meski kadang-kadang menempuh jalur yang teratur, namun ia juga sewaktu-waktu dapat berbelok ke arah yang tak terbayangkan sebelumnya. Perjalanannya bukannya sama sekali tak menyenangkan atau tidak bermanfaat; adakalanya memang menyenangkan dan berubah sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi, sepanjang institusi modernitas ini terus berfungsi, kita takkan pernah mampu mengendalikan sepenuhnya baik arah maupun kecepatan perjalanannya. Kita pun takkan pernah merasa aman sama sekali karena kawasan yang dijelajahinya penuh dengan bahaya. (Giddens, 1990:139)"

Istilah “juggernaut” (panser raksasa) digunakan Giddens untuk menggambarkan kehidupan modern sebagai sebuah “dunia yang tak terkendali” (runaway world). Citra panser raksasa dimaksudkan Giddens untuk menerangkan bahwa mekanisme modern jauh lebih besar kekuasaannya ketimbang agen yang mengemudikannya.

Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari sudut empat intitusi mendasar. Pertama, kapitalisme yang ditandai oleh produksi komoditi, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja tanpa property, dan sistem kelas yang berasal dari ciri-ciri tersebut. Kedua adalah industrialisme yang melibatkan penggunaan sumber daya alam dan mesin untuk memproduksi barang. Industrialisme tak terbatas pada tempat bekerja saja dan industrialisme mempengaruhi sederetan lingkungan lain, seperti transportasi, komunikasi, bahkan kehidupan rumah tangga. Ciri yang ketiga adalah kemampuan mengawasi. Hal ini mengacu pada pengawasan atas aktivitas warga Negara individual (terutama) dalam bidang politik. Dimensi institusional keempat dari modernitas adalah kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasaan, termasuk industrialisasi peralatan perang.

Modernitas menurut Giddens erat kaitannya dengan ruang dan waktu. Dengan datangnya modernitas, ruang makin lama makin dilepaskan dari tempat. Berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik makin lama makin besar peluangnya. Menurut Giddens, tempat semakin menjadi “phantasmagoric”, artinya “tempat terjadi peristiwa sepenuhnya ditembus dan ditentukan oleh pengaruh sosial yang jauh jaraknya dari tempat peristiwa itu.

Menurut Giddens, modernitas adalah kultur berisiko. Ini bukan berarti bahwa kehidupan sosial kini lebih berbahaya daripada dahulu. Konsep risiko menjadi masalah mendasar baik dalam cara menempatkan aktor biasa maupun aktor yang berkemampuan spesialis-teknis dalam organisasi kehidupan sosial. Modernitas mengurangi risiko menyeluruh bidang dan gaya hidup tertentu, tetapi pada waktu yang bersamaan memperkenalkan parameter risiko baru yang sebagian bersar atau seluruhnya tidak dikenal di era sebelumnya.

Mengapa kita menderita akibat negatif di dalam panser raksasa modernitas? Giddens mengemukakan beberapa alasan: pertama, karena kesalahan rencana dalam dunia modern; orang yang merencanakan unsur-unsur dunia modern membuat kesalahan. Kedua, kegagalan operatornya; masalahnya bukan berasal dari perencana, tetapi dari mereka yang menjalankan dunia modern.

III. Kritik Teori
Giddens mengemukakan definisi struktur yang tak lazim, yang tak mengikuti pola Durkheimian dalam memandang struktur sebagai suatu yang berada di luar dan memaksa aktor. Menurutnya, struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial.

Giddens menolak pendapat pakar yang menyatakan bahwa kita telah memasuki era post-modern, meski ia menyatakan kemungkinan munculnya tipe post-modernisme di masa datang. Namun demikian, menurutnya kita masih masih hidup di era modern.

Giddens menolak sebagian besar pendirian yang biasanya dikaitkan dengan post-modernisme. Sebagai contoh, bagian pemikiran post-modernisme yang menyatakan tak mungkinnya menciptakan pengetahuan sistematis. Menurut Giddens, pandangan seperti itu membawa kita kepada penolakan aktivitas intelektual sama sekali.

IV. Peta Pemikiran (Dari Comte – Giddens)
Auguste Comte (1798) berpendapat bahwa keteraturan sosial tergantung pada pembagian pekerjaan dan kerjasama ekonomi. Individu-individu menjalankan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi begitu pembagian kerja muncul, partisipasi individu dalam kegiatan ekonomi menghasilkan kerjasama, kesadaran akan ketergantungan juga bertambah.

Pendapat Comte ini dimentahkan oleh Karl Marx (1818-1883), terutama ketika dia menganalisis bahwa potensi konflik akan lebih besar ketika ada perbedaan pekerjaan, karena perbedaan ini kemudian akan mengakibatkan munculnya perbedaan kelas dalam masyarakat. Menurut Marx, masyarakat terbentuk atas struktur dalam bentuk pembagian kelas masyarakat, yang terdiri dari kelompok kapitalis dan kelompok buruh/ pekerja. Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisis kapitalisme, yakni borjuis dan proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Struktur dalam masyarakat terbentuk karena ada perbedaan penguasaan aset-aset ekonomi. Dimana kelompok kapitalis menguasai berbagai komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut dengan gaji, sedangkan para pekerja hanya memiliki sedikit hak milik dan mereka harus memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dalam masyarkat kapitalis dilihat juga sebagai penghasil berbagai produk dan komoditas. Marx berpendapat bahwa kekuasaan-kekuasaan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Di samping itu, struktur ekonomi kapitalisme turut menentukan pemikiran dan tindakan individu.

Marx berpikir bahwa eksistensi kelas-kelas dalam masyarakat berpotensi menimbulkan konflik. Konflik ini terjadi manakala muncul konfik kepentingan antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang bekerja. Misalnya: orang yang memberi upah berharap memberikan upah sekecil-kecilnya, sedangkan para buruh menghendaki yang sebaliknya.

Marx berpikir bahwa perbedaan kelas dan konflik yang menyertainya hanya bisa diatasi dengan menciptakan dunia sosialis, dimana tidak ada penguasaan aset-aset produksi oleh salah satu pihak. Jadi aset-aset produksi harus dimiliki bersama.

Dari sini Marx kemudian mendambakan sebuah masyarkat komunis dalam mana terjadi revolusi ekonomi besar-besaran. Sementara gerakan massa kaum buruh yang tidak puas dengan perlakuan yang mereka terima dari kaum kapitalis merupakan kekuatan revolusioner yang sewaktu-waktu bisa bangkit dan meruntuhkan kekuatan kapitalisme.

Namun, teori Marx ini disanggah oleh Vilfredo Pareto (1848-1923). Pareto justru berpikir bahwa tidak realistis berharap akan tercapainya perubahan sosial yang dramatis melalui revolusi ekonomi. Menurut Pareto, masyarakat akan didominasi oleh sejumlah kecil elite yang memerintah berdasarkan kepentingan diri sendiri. Elite kecil ini memerintah massa rakyat yang didominasi oleh faktor non-rasional. Menurut Pareto, karena kapasitas rasional terbatas, maka mereka bukanlah kekuatan revolusioner. Pareto berpikir bahwa perubahan sosial terjadi manakalah elite mulai mengalami kemerosotan moral dan digantikan oleh elite baru yang berasal dari elite yang tak memerintah atau unsur yang lebih tinggi dari massa. Segera setelah elite baru berkuasa, proses yang baru pun terjadi. Jadi, Pareto menyodorkan teori perubahan sosial melingkar, sedangkan Marx menyodorkan teori perubahan sosial linear.

Pareto membayangkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, sebagai kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung. Perubahan satu bagian dipandang menyebabkan perubahan bagian lain dalam sistem. Dari sini dapat dilihat Pareto menganut teori sistem dalam pemikirannya tentang masyarakat. Dalam mana setiap sub-sistem dalam kesatuan sistemnya akan dipengaruhi dan turut mempengaruhi sub-sistem lainnya.

Berbeda dengan Pareto yang menekankan masyarakat yang terikat dalam sistem, George Simmel (1858-1918) meninjau masyarakat lebih dari sudut interaksi sosial yang tercipta di dalamnya. Ia berpendapat bahwa masyarakat merupakan serangkaian interaksi. Menurutnya, struktur yang terbentuk dalam masyarakat, seperti: Negara, marga, keluarga, kota atau serikat pekerja, merupakan kristalisasi dari interaksi tersebut.

Dalam kaitan dengan kelompok yang muncul dalam masyarakat, Simmel mengungkapkan pemikirannya tentang dyad (kelompok yang terdiri dari dua orang) dan triad (kelompok yang terdiri dari tiga orang). Dyad tidak memperoleh makna di luar individu yang terlibat di dalamnya, dan masing-masing anggota dyad akan mempertahankan tingginya level individualis. Sebaliknya, triad -yang memiliki kemungkinan besar memperoleh makna di luar individu yang terlibat- berpotensi melairkan struktur kelompok. Hal inilah yang menjadi ancaman bagi individualitas anggotanya.

Lain halnya dengan pandangan Max Webber (1864-1920) seputar struktur sosial. Berbeda dari Karl Marx yang melihat stratifikasi yang tercipta dalam masyarakat diakibatkan semata karena faktor ekonomi, Weber menilai bahwa stratifikasi tersebut terbentuk karena hal-hal yang bersifat multidimensional, yakni basis ekonomi, status dan kekuasaan. Implikasinya adalah orang dapat menempati peringkat yang tinggi di satu atau dua dimensi stratifikasi tersebut sementara berada pada posisi yang lebih rendah di dimensi lainnya. Teori Weber ini merupakan kritik teori Marx sekaligus merupakan perkembangan teori yang melihat bahwa faktor ekonomi bukanlah faktor tunggal penentu struktur sosial masyarakat.

Eksistensi George Lukacs sebagai seorang teoritisi yang menganut paham Marxisme-Hegelian tak dapat diabaikan dalam perkembangan teori sturktur. Lukacs mengkritik teori Marx yang mengungkapkan bahwa orang dalam masyarakat kapitalis merupakan penghasil produk atau komoditas, sehingga nilai dilihat sebagai sesuatu yang dihasilkan pasar dan bukan oleh aktor itu sendiri. Menurut Lukacs, oranglah yang menghasilkan komoditas dan sekaligus memberi nilai kepadanya.
Perbedaan kelas dalam masyarakat yang menurut Marx disebabkan karena dampak dari distribusi faktor ekonomi yang tidak merata dinilai berbeda oleh Lucaks. Justru menurutnya, manusia dalam masyarakat kapitalis berhadapan dengan realitas yang diciptakannya sendiri (sebagai kelas) yang baginya tampak sebagai fenomena alamiah yang asing bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, kaum proletar bukan teralienasi karena sistem, tapi karena diri mereka sendiri yang menganggap demikian. Hal tersebut karena mereka tunduk pada hukum-hukum yang mereka buat sendiri.

Konsep Lukacs inilah yang dikemudian dikenal dengan konsepnya mengenai kelas dan kesadaran palsu. Kesadaran kelas ini merujuk pada sistem kepercayaan yang dimiliki bersama oleh mereka yang menempati posisi kelas yang sama dalam masyarakat. Jadi, pada umumnya, masyarakat kapitalisme tidak memiliki pengertian yang jelas tentang kesadaran kelas mereka sebenarnya. Kesadaran kelas mereka berarti ketidaksadaran atas kondisi ekonomi dan sosio-historis seseorang yang dikondisikan kelasnya oleh kelas kepalsuan.

Jika menurut Marx, perbedaan kelas dalam masyarakat menyebabkan rusaknya harmoni masyarakat, para penganut teori fungsionalisme struktural justru berpikir sebaliknya. Para penganut teori ini beranggapan bahwa perbedaan aktifitas dalam masyarakat merupakan hal yang harus diperlihara untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Perbedaan posisi dan aktifitas berarti juga perbedaan fungsi. Fungsi-fungsi yang berbeda dalam sistem ini, jika dipelihara dengan baik sangat produktif untuk mencapai tujuan masyarakat. Gugusan aktivitas justru harus diciptakan sesuai dengan kebutuhan sistem. Talcot Parson, salah seorang tokoh fungsionalisme struktural mengemukakan sistem yang disebut AGIL, yakni adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi (pemeliharaan pola). Sistem inilah yang harus dijalankan agar masyarakat bisa harmonis.

Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat selalu berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Masyarakat hidup dalam suatu sistem yang teratur, karena mereka secara formal diikat oleh norma, nilai dan moral. Setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas.

Robert Merton (1910-2003), salah seorang teoritisi fungsionalisme-sturktural agak berbeda pendapat dengan pendahulunya. Menurutnya, tidak setiap struktur, adat-istiadat, gagasan, keyakinan dan lain sebagainya memiliki fungsi positif. Menurutnya, suatu fakta sosial dapat mengandung konsekuensi negatif bagi fakta sosial lain. Untuk itulah maka Merton mengembangkan teorinya mengenai disfungsi. Ketika struktur atau institusi dapat memberikan kontribusi pada terpeliharanya bagian lain sistem sosial, mereka pun dapat mengantung konsekuensi negatif bagi bagian-bagian lain tersebut.
Dalam kaitan dengan disfungsi di atas, Merton mengembangkan konsep fungsi manifest dan fungsi laten. Dimana fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak dikehendaki.

Dalam perkembangannya, teori struktur-fungsional diperhadapkan dengan kritik yang muncul dari teoritisi lainnya. Konsep Herbert Blumer (1900-1987) tentang interaksionisme simbolik merupakan salah satu bentuk kritik terhadap teori fungsionalisme struktural. Menurut Blumer, teori fungsionalisme struktural cenderung memusatkan perhatiannya kepada beberapa faktor, misalnya norma, yang menyebabkan perilaku manusia. Menurutnya, teori ini mengabaikan proses krusial ketika para aktor menopang kekuatan yang bertindak padanya dan pada perilaku mereka sendiri dengan makna.

Blumer juga menolak teori fungsionalisme struktural yang mengemukakan bahwa perilaku individu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Ia menolak anggapan bahwa perilaku aktor ditentukan oleh faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh aktor itu sendiri. Karena yang terpenting menurut Blumer adalah proses pendefinisian ketika aktor melakukan perbuatannya.

Kritik terhadap teori Struktur-fungsional datang juga dari Ralf Dahrendorf (1929) dengan teori konfliknya. Ia menolak pandangan para fungsionalis yang menganggap bahwa masyarakat adalah statis, atau kalaupun berubah maka perubahan tersebut secara seimbang. Menurutnya, masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Jika para fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, para teoritisi konfliki melihat apa pun tatanan yang ada di tengah masyarakat tumbuh dari tekanan yang dilancarkan segelintir anggota yang berada di puncak. Kalau para fungsionalis memusatkan perhatiannya pada kohesi yang diciptakan oleh nilai masyarakat yang dimiliki bersama, para teoritisi konflik menitikberatkan pada peran kekuasaan dalam memelihara tatanan di tengah-tengah masyarakat.

Dahrendorf mengemukakan gagasannya bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsensus. Teori konsensus merupakan teori yang membahas tentang integrasi nilai di tengah-tengah masyarakat, sedangkan teori konflik membahas tentang konflik kepentingan dan hal-hal yang menyatukan masyarakat di bawah tekanan-tekanan tersebut. Menurut Dahrendorf, masyarakat tak mungkin ada tanpa konflik dan konsensus. Pendapat Dahrendorf ini semakin memperjelas perbedaan antara dirinya dengan para penganut teori fungsional-struktural.

Dalam kaitan dengan struktur yang terbentuk dalam masyarakat, menurut Dahrendorf, kelompok mana yang berada di atas dan mana yang berada di bawah ditentukan oleh kepentingan bersama. Dalam setiap asosiasi, kelompok yang berada di atas berusaha mempertahankan posisi mereka, sementara kelompok yang berada dibawah akan berusaha melakukan perubahan. Dalam hal inilah kemudian konflik terjadi. Sehingga konflik dalam kelompok-kelompok tersebut akan berlangsung sepanjang waktu.

V. Perkembangan Teori Setelah Giddens (Teori Terpadu Ritzer)
Dalam kaitan dengan perdebatan yang panjang antara para teoritisi dengan kekuatan teori-teori masing-masing, yang mengkritik dan kritik, seputar struktur yang terbentuk dalam masyarakat, George Ritzer mencoba mengemukakan sebuah paradigma terpadu. Paradigma terpadu Ritzer ini merupakan salah satu bentuk kritik terhadap tiga paradigma lainnya. Yakni kritik terhadap paradigma fakta sosial yang hanya memusatkan perhatian pada struktur dan institusi skala besar; kritik terhadap paradigma definisi sosial yang memusatkan perhatian pada situasi sosial dan pengaruhnya tindakan dan interaksi; kritik terhadap paradigma perilaku sosial yang memusatkan perhatian pada imbalan yang mendorong perilaku yang diharapkan dan hukuma yang mengekang perilaku yang tidak dikehendaki.

Ide kunci Ritzer ialah “tingkatan realitas sosial”. Ini bukan berarti bahwa realitas sosial benar-benar terbagi dalam beberapa tingkat. Namun, menurut Ritzer, realitas sosial paling tepat dipandang sebagai kesatuan sosial yang berskala luas yang mengalami perubahan secara terus-menerus. Untuk itu dia mengungkapkan gagasan perlu adanya perpaduan antara hal-hal yang mikroskopis dan makroskopis, serta dimensi objektif dan subjektif.

Dalam kaitan dengan perpaduan mikro-makro, Ritzer memahami bahwa dunia sosial dibangun atas serangkaian entitas yang berskala kecil sampai yang berskala besar, karena itu merupakan hal yang lazim. Sementara dalam pemahamannya seputar dimensi subjektif-objektif, menurut Ritzer pada level mikro atau individu, terdapat proses mental subjektif aktor dan pola objektif tindakan dan interaksi yang ia ikuti.

Untuk pembahasan lebih lanjut bisa download buku yang ditulis oleh S. Mestrovic dengan judul Anthony Giddens: The Last Modernist berikut ini. Download


Rujukan : warugakita.com
15/11/11

Aku Bukanlah Seekor Burung


Aku bukanlah seekor burung
Dengan kedua sayapku
Aku bisa langsung melesat ke angkasa luas
Tanpa aku merasa takut akan terjatuh

Aku bukanlah seekor burung
Yang bisa terbang melintasi dunia
Sejauh yang aku inginkan
Kemanapun aku pergi

Aku bukanlah seekor burung
Yang bebas bertengger dimana saja
Dan pergi kapan saja
Sesuka hatiku

Aku bukanlah seekor burung
Yang punya suara indah
Yang bisa bernyanyi merdu
Atau pun punyai bulu bulu cantik warna warni

Namun…
Aku tak perlu menjadi seekor burung
Untuk aku bisa mencapai langit yang tinggi
Bahkan ‘tuk sekedar memetik bintang bintang yang menghiasinya

Aku tak perlu menjadi seekor burung
Untuk ku bisa menjelajah dunia ini
Karena aku punya dunia sendiri
Yang setiap saat bisa aku arungi dengan mudahnya

Aku juga tak perlu menjadi seekor burung
Yang harus bisa bernyanyi dengan indah
Dan berhiaskan bulu bulu cantik
Karena aku sendiri merasa begitu sempurna tanpa itu semua

Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri
Karena yang aku miliki adalah sebuah dunia, dan menjadi duniaku
Karena yang aku miliki adalah sebuah kelebihan dan menjadi kelebihanku
Karena yang aku miliki adalah sebuah kecantikan, dan menjadi kecantikanku
Karena yang aku miliki adalah sebuah rahasia, dan menjadi rahasiaku
Karena yang aku miliki adalah sebuah surga, dan menjadi surgaku
Dan aku bisa apa saja dengan semua yang kumiliki

Hanya amanah untuk dijaga
Karena pasti semua akan kembali pada Sang Maha Memiliki...

Dunia yang Mulai "Terbelah"

Kondisi status sosial di kehidupan seperti saat ini sangatlah terbagi dalam berbagai spektrum. Kata sosial tidak hanya dimaknai sebagai hubungan yang terjadi diantara umat manusia, namun juga hubungan manusia yang dilihat dalam berbagai perspektif yakni ekonomi, budaya dan lainnya. Disini disebut bahwa bentuk budaya, politik,ekonomi dan yang lain merupakan perangkat yang membentuk sistem sosial yang ada di masyarakat.

Dalam wilayah ekonomi, mungkin prespektif Karl Mark yang menarik untuk dijadikan rujukan. Bahwa dalam struktur masyarakat produksi kelas masyarakat sosial dibagi menjadi dua yakni proletar dan borjuis. Proletar adalah kaum buruh yang dalam hal ini menjadi babu kaum borjuis atau kaum majikan. Dalam pandangan Karl Mark bahwa kaum borjuislah yang mengusai kaum praletar dalam bidang produksi. Kaum proletar sebagai yang terkuasai mengalami alienasi atau keterasingan dalam hidupnya. Jika masyarakat proletar bekerja dalam sistem produksi modern maka dalam pandangan Karl Mark mereka mengalami keterasingan dari lingkungan kerja, teman kerja, alat produksi, dan hasil produksi. Kaum proletar seakan an sich terhadap lingkungan kerjanya, tidak mau tau yang terjadi dilingkungan kerja.

Dalam Pandangan Karl Mark tersebut ada ketimpangan kelas ekonomi yang berdampak sistemik pada kelas sosial. Dalam artian sistem sosial terpecah menjadi dua muka disebabkan kelas ekonomi yang sengaja dipecah oleh sistem produksi modern yang kapitalistik. Oposisi biner dalam wilayah sosial disini tidak sendirinya ada namun bentukan ekonomilah yang mengakibatkan kelas sosial terjadi.

Hal tersebut kalau dilihat dalam spektrum ekonomi. Kalau dalam spektrum budaya ada “dunia yang terbelah” dalam kebudayaan kita. Keterbelahan tersebut minimal terjadi antara kutub ke budayaan barat dan timur. Eropa yang mereperentasikan budaya barat yang menjadi oposisi biner dari kebudayaan asia sebegai reprentasi budaya timur. Dalam dua budaya besar tersebut seringkali berbeda dan sengaja digesekkan.

Barat yang terlambangkan sebagai budaya pop yang terkesan glamour dan hedonistik. Sedangkan budaya timur sebagai representasi budaya sopan dan lemah lembut. Kedua kutub berbeda inilah yang sering menjadi pergolakan dalam fenomena sosial. Ada anggapan bahwa Indonesia itu budaya timur jadi tidak usah sok barat atau anggapan-anggapan lain. Hal inilah yang menjadi keterbelahan dalam budaya dalam ruang lingkup kewilayahan yang luas.

hal yang kemudian menjadi pertanyaan sekarang, apakah kebudayaan harus dipisah oleh geografis, atau harus dipecah-pecah dalam suatau kewilayahan. Budaya bukannya lebih baik digeneralkan dan tidak dikota-kotakkan yang cendrung dangkal. Orang Indonesia boleh berbudaya layaknya orang eropa, Malaysia boleh berbudaya layaknya orang Indonesia begitu juga sebaliknya. Budaya dalam pandangan penulis tidak harus dikotak-kotakkan dalam kewilayahan. Tidak harus ada oposisi biner yakni timur-barat, asia-eropa,indonesia-malaysia atau lain sebagainya. Biarkan budaya seperti air yang mengalir dan merembes kemana saja.

Dari papaparan penulis dari fenomena sosial yang ada selama ini, baik dalam sistem ekonomi dan kebudayaan atau mungkin dalam bidang lain ada semacam pembelahan yang terjadi. Ada “dunia yang terbelah” menjadi dua bagian besar atau dalam bahasa filsafatnya oposisi biner. Dalam asumsi penulis selayaknya dunia ini tidak dijadikan dua atau terpecah jadi bagian-bagian yang cendrung berbeda dan berakibat pada gesekan sosial. Kalau boleh berharap, bangunlah dunia yang utuh dalam satu kesatuan tidak dunia yang terbelah. Dunia yang utuh tidak oposisi biner dan sengaja membedakan antara proletar-borjuis dan antara barat dan timur.

Tulisan iseng-iseng ini hanya sebagai refleksi dan kegusaran penulis akan situasi sosial dan dunia yang terbelah. Entah menurut pembaca hal ini terlalu dangkal atau apalah yang mungkin beranggapan bahwa perbedaan itu rahmat. Namun dalam pandangan penulis perbedaan yang rahmat itu tidaklah memarginalkan kelompok yang lain dalam hal ini proletar dan budaya yang merasa termarginalkan baik itu barat maupun timur. Selanjutnya, terserah anda untuk ber-asumsi yang terpenting dalam pandangan penulis “dunia yang mulai terbelah” ini sudah saatnya diakhiri dan membuat dunia yang utuh dalam satu kesatuan. Tidak ada yang harus dimarginalkan dalam spektrum dan konteks apapun.

28/10/11 0 komentar

Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Ratapan Anak Negeri

Hari ini tanggal 28 Oktober, 83 tahun yang lalu
Keanekaragaman suku nampak indah bagaikan pelangi
Beda agama tak jadi penghadang tuk ikhlas mengabdi
Warna-warni bahasa tak jadi penghalang tuk saling memahami
Ceritanya masih jelas kudengar sampai hari ini

Hari ini 28 Oktober, 83 tahun yang lalu
Dada mereka penuh bangga bisa satukan hati
Jiwa mereka penuh bangga mampu mendarma bhakti
Kudengar banyak raga penuh bangga turut membela negeri
Lecut semangat bersatu menggelora tak pernah henti
Ceritanya masih jelas kudengar sampai hari ini

Hari ini 28 Oktober, setelah 83 tahun berlalu
Kulihat dada-dada penuh iri
Kulihat jiwa-jiwa berhiasan pamrih dan rasa dengki
Kulihat raga-raga bergelimang materi
Kulihat lecut semangat mengejar nafsu duniawi
Tak peduli walau harus makan saudara sendiri

Hari ini 28 Oktober, setelah 83 tahun berlalu
Kulihat bumi compang-camping tak terperi
Alam kempot peot, tercabik-cabik oleh eksploitasi
Lumpur menyembur, tanah longsor, banjir bandang, gempa dan tsunami
Masih saja kudengar sudut bibir mencibir, "Ah, itukan karena bencana alam"

Di saat persembunyian si bijak tak lagi kutemukan
Kulihat di tengah padang ilalang yang mengelupas
Seonggok akar menyeruak ke permukaan melintas
Berbalut butir embun membaris kata 'Suara Komunitas'
Kepadanya lantas bergegas kusematkan pesan seutas
"Jagalah negeri ini, wahai kawan"
23/10/11 1 komentar

Hal-Hal Yang Ingin Ku Ungkapkan Kepadamu

1. Bagaimana Aku Memanggilmu?
Aku ingin memanggilmu lewat telepon, "Cita, Cita berapa lama lagi matamu akan mencair di mataku?" Tetapi selalu saja ada yang cemburu, mungkin kau sedang memandang gaun hitam, untuk ke pemakaman. menghidangkan sendok, piring, dan garpu di meja yang berisikan menu-menu: tentang bagaimana caranya membuat airmata dari kelopak matamu.

2. Aku Merindukanmu
Aku bingung bagaimana mengungkapkan rindu mungkin rindu seperti rumah tua yang tak dijaga di mana laba-laba dan kecoa bebas bersarang memanggil kenang lampau yang enggan hilang

mungkin pula rindu adalah telepon genggamku yang kunanti berdering sendiri---memanggilku untuk sekedar melihat namamu dalam daftar nomor kontakku

3. Aku Ingin Kau Baik-Baik Saja
Aku tidak sedang mendengarkan lagu picisan yang mengumbar keinginan klasik dalam rayuan

Setiap malam, aku ingin membacakan dongeng untukmu, kemudian kunyalakan api di perapian, agar kehangatan terus bersarang di senyummu

4. Aku Sayang Kamu

Selalu lucu, jika aku bilang sayang, dan kau minta pembuktianku perlukah kita ke pengadilan, mengajukan bukti dan saksi di persidangan untuk sekadar menunjukkan rasa sayangku?

5. Aku Mencintaimu (Dengan Sederhana)
Tiba-tiba aku ingat pelajaran kalkulus, dan statistika distribusi poison, bernoulli, soal-soal integral lipat tiga

Tetapi aku tidak ingin mencintaimu serumit itu. Aku ingin mencintaimu saja, apa adanya seperti sebuah kertas yang kaulipat kemudian kauterbangkan bersama harapan lain yang ingin kautitipkan padaku.
0 komentar

Yang Ku Inginkan Darimu

Aku ingin melihat senyummu,
agar kutahu kau benar-benar mengagumiku

Aku ingin melihat sedihmu,
agar kutahu kau benar-benar merindukanku

Aku ingin melihat diammu,
agar kutahu kau benar-benar merasakan kehadiranku

Aku ingin melihat marahmu,
agar kutahu kau benar-benar mengkhawatirkanku

Kadang aku ingin kau tahu,
rasa cinta di hatiku membuatku tersenyum,
bersedih, marah dan terdiam

Jadi

tetaplah disampingku,
agar kau benar-benar tahu
aku bahagia bersamamu
0 komentar

Awal Paragraf (Curhatan Penulis)

Puisi ini merupakan curahan perasaan yang dirasakan oleh penulis saat ini, ketika sedang berusaha menyelesaikan skripsi.

Awal paragraf adalah bait terindah pada awal bulan ini
Formulasi kata yang tak bisa dipecahkah beribu pujangga
Figuratif setiap ucap yang tertuang dalam pinta
Resonansi mengalun merdu setiap simpuh

Intisari desah nafas yang tak lelah kita helat
Lingkar masa menggema dalam lembaran lalu bertajuk kenangan, kisah ataupun sejarah
Isyarat dari sang maha melaui janjinya dalam “demi masa”
Agung dan syahdu tepat di saat purnama tandai hari jadi

Ungkapan qalbu tak henti berujar ihwal imaji lusuh tak tergenggam
Tasyakur serupa syair yang melebur tidak menjadi cita dan jika untuk sebuah janji
Awal paling indah dalam symfoni sebuah kisah, kembali
Mengisi paragraf paragraf selanjutnya
Intuisi melankolik yang tertinggal, mengharap segala bahagia yang kelak tercipta
22/10/11 0 komentar

Ironisme Sebuah Badan Kemahasiswaan (Curhatan Penulis)

Tulisan ini sekedar curhatan terkait dengan kondisi badan kemahasiswaan kampus yang saat ini semakin kurang mampu membentuk karakter sebenarnya seorang mahasiswa, sebagai seseorang yang ‘katanya’ memiliki daya intelektualitas yang diatas rata-rata. Yaa...keberadaan Badan Kemasiswaan yang ada di tingkat fakultas dan universitas dianggap tidak mampu menjalan peranannya sebagai lembaga yang mampu untuk menggerakan mahasiswa ke arah yang lebih maju dan mampu membuat perubahan pada diri pribadi yang peduli akan ilmu pengetahuan. Tapi pada kenyataannya badan-badan seperti hanya disebut sebagai sebuah organisasi pembuat acara saja, alias Event Organizer. Kondisi ini tentu bukan sebuah harapan yang diinginkan, sebagai seorang mahasiswa seharusnya mampu menaruh dan memberikan perhatian lebih akan perkembangan khasanah ilmu pengetahuan baik yang bersifat akademis maupun non-akademis. Sungguh di sayangkan setiap kegiatan yang diadakan oleh badan kemahasiswaan terutama di kampus ‘kuning’ saya tercinta, hanya terkesan sebagai sebuah kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya menjadi topeng penutup untuk menegaskan eksistensi keberadaan akan badan kemahasiswaan kampus.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan terjadi dengan mengalir begitu saja tanpa adanya sebuah proses pemahaman mendalam terkait dengan esensi serta signifikansi dari kegiatan ataupun acara yang akan diselenggarakan. Kegiatan yang dilaksanakan bahkan sering dianggap tidak memiliki dasar serta konsep yang jelas, kesan hanya pengadaan acara saja yang dikaitkan dengan program kerja (biasanya disebut proker) yang udah disusun sebelumnya. Dengan kata lain, acara dilaksanakan bukan berangkat dari program kerja, tetapi program kerja lah yang secara fleksibel menyesuaikan dengan acara yang diadakan. Dengan demikian, pantas saja bahwa organisasi kemahasiswaan ‘nomor wahid’ di kampus ini direndahkan martabatnya dengan gelar ‘EO kampus berjaket kuning’. Yaa, dari penjabaran diatas mengkerucutkan saya pada sebuah hipotesa bahwa hal ini merupakan WARNING!!! bagi kita semuanya (termasuk saya sendiri) bahwa aksi-aksi dari mahasiswa kita pada masa sekarang ini sedang berada di dalam kebuntuan. Mengapa penulis berhipotesa demikian? Ya, memang pada kenyataannya bahwa setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan, umumnya, hanya sekadar menjadi suatu aksi ‘puncak’. Acara ‘puncak’ ini merupakan hari H atau hari waktu pelaksanaan kegiatan tersebut seakan-akan menjadi puncak gunung besar, puncak dari rencana-rencana yang telah disusun dalam program kerja. Setelah acara selesai dilaksanakan tidak ada kelanjutannya...(Nahloh!!!). Kegiatan yang dilakukan oleh anggota-anggota badan kemahasiswaan itu hanya menjadi ‘puncak’ dari sebuah proses penyusunan rencana dalam program kerja atau malah ga ada di dalam proker, melainkan cuma berupa puncak dari proses penyusunan kegiatan dalam kepanitiaan yang telah dibentuk (yang terkadang pembentukan panitianya ini pun dilihat tidak memperhatikan kualitas setiap individu namun dari kuantitas individu yang masuk sebagai panitia, asas semakin besar jumlahn panitianya semakin baikpun menjadi pilihan).



Kondisi yang terkadi seperti ini menjadikan nggak adanya proses pemahaman akan seberapa PENTING sebuah kegiatan itu diadakan. Tidak ada proses pengkajian dan pendalaman materi dan substansi dari kegiatan, yang kemudian menyebabkan pelaksanaan hari H-nya itu tidak memberikan kepuasan kepada kelompok-kelompok yang suka mengkritik (orang-orang iseng, seperti halnya saya sendiri namun diharapkan dari adanya orang-orang seperti ini akan menjadi masukan untuk membuat kegiatan yang lebih bermutu). Proses ini semestinya dilakukan pada awal saat pembentukan atau pengodokkan kegiatan dan dilakukan evaluasi setelah kegiatan selesai dilaksanakan. Karena proses awal yang kurang baik ini, efeknya langsung berdampak pada tidak adanya keberlanjutan atau aksi susulan dari kegiatan yang telah dilakukan, padahal aksi-aksi susulan itu amatlah penting untuk meneruskan (menyempurnakan) visi awal dari kegiatan yang dimaksud sebagai suatu usaha untuk menegaskan bahwa kepentingan atau signifikansi dari kegiatan itu dapat dicapai dengan baik. Namun, pada kenyataannya di kampus ‘kuning’ saya ini, kegiatan seperti festival hanya sekedar menjadi sebuah acara festival yang bersifat sesaat pada hari festival itu dilaksanakan, kegiatan seminar dan diskusi hanya mejadi kegiatan diskusi (sesaat) ketika diskusi itu dilaksankan; aksi demonstrasi hanya sekadar menjadi kegiatan dramatisasi jalan-jalan (sesaat) di jalan raya dan menyebabkan kemacetan; acara-acara seni budaya dan olahraga pun ujung-ujungnya juga sekadar menjadi ajang atau lahan tanding untuk memperlihatkan kekuatan masing-masing jurusan yang berdampak kepada mengerucutnya orang-orang yang unggul dan berprestasi karena yang lainnya ‘dilibas’ (dengan kata lain ‘mahasiswa secara umum’ perlahan mati karena yang juara dan menang atau yang tampil ke panggung, ‘yang menonjol’, hanya yang itu-itu saja). Setiap kegiatan yang dilaksanakan hanya menjadi ajang penegasan ‘kita aktif sebagai mahasiswa’ atau ‘kita memberikan kontribusi’, bukan sebagai ‘gerakan mahasiswa yang mencerdaskan’. Kalaupun mau dikatakan bahwa setiap kegiatan itu merupakan suatu usaha untuk belajar, ya, bisa saja kita katakan demikian: belajar membuat acara.

Apabila pihak yang dituding masih berkilah bahwa setiap kegiatan memiliki aksi-aksi susulan, boleh lah saya menyebutkan beberapa usaha-usaha aksi susulan itu. Pertama, dokumentasi foto, yang lebih banyak berisikan pose narsis dari panitia, dan kemudian diunggah ke facebook lalu di tag ke teman-teman panitia yang lainnya. Dalam hal pendokumentasian ini, tidak banyak yang bisa dikategorikan sebagai arsip penting sebagai sejarah aksi mahasiswa di dalam kampus dalam melakukan kegiatan. Kedua adalah pembuatan laporan kegiatan yang umumya dikebut dalam beberapa hari sebagai beban tugas pertanggungjawaban. Bayangkan saja!!!, suatu kegiatan telah dilaksanakan pada awal-awal atau pertengahan tahun, tetapi laporan kegiatan baru dibuat di akhir tahun sebelum berakhirnya masa jabatan ‘ajang menyibukkan diri di akhir tahun’. Ketiga, dan ini sesungguhnya tidak pantas dikatakan sebagai aksi susulan, adalah melaksanakan kegiatan tersebut sebagai apresiasi tradisi kepengurusan sebelumnya (dengan kata lain: mengulangi kegiatan. Dengan alasan: acara tahunan atau program kerja turun-temurun badan kemahasiswaan). Sebenarnya bisa saja dikatakan sebagai aksi susulan yang baik kalau misalnya acara (kegiatan) yang telah dilaksanakan di tahun sebelumnya itu diadakan kembali di tahun berikutnya dengan kemasan yang berbeda, eksplorasi ide yang baik, dan tidak memberikan kebosanan kemonotonan bagi semua warga kampus (dalam kalimat lain: ada progress yang baik dan meningkat dari kegiatan tersebut dan memiliki dampak yang nyata bagi semua kalangan berupa majunya pola pikir dan pemahaman masing-masing mahasiswa terhadap isu-isu latar belakang masalah yang menyebabkan dilaksanakannya kegiatan tersebut). Yang lebih mengherankan adalah, di akhir tahun masa aktif, diadakan pula kegiatan lain berupa ‘pesta’, sebagai perayaan berakhirnya masa aktif anggota-anggota Badan Kemahasiswaan tersebut, dan dengan bangga pula menyatakan telah melakukan sesuatu yang berarti, padahal sesuatu yang dikatakan berarti itu hanyalah berupa kegiatan-kegiatan tanpa konsep, yang diadakan dalam bentuk tontonan dan acara hiburan semata.

Masalah Sebenarnya
Saya melihat bahwa tidak semua kegiatan bersifat demikian, karena saya juga pernah merasakan melakukan hal-hal seperti itu dan akhirnya menyadari bahwa hal yang saya lakukan tersebut tidak terlalu membawa dampak yang berarti bagi diri saya. Pada kenyataannya, ada pula kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Badan Kemahasiswaan yang memang bertujuan memberikan edukasi atau usaha ‘pertolongan’ bagi masyarakat, seperti kepedulian panitia terhadap pilkada, bedah kampus, bantuan bencana, dan sebagainya. Namun, sekali lagi saya berhadapan pada kenyataan bahwa aksi-aksi seperti itu berhenti di saat itu saja. Ketika penyuluhan kepada masyarakat tentang apa itu pilkada telah usai, ya usailah dia, paling-paling kemungkinan akan diulangi kegiatan itu di tahun depan ataupun pada masa pilkada akan dilaksanakan kembali (lagi-lagi memberikan penyuluhan serupa, padahal masyarakat sudah mendapatkannya di tahun sebelumnya). Begitu juga dengan aksi-aksi penyuluhan lainnya. Dengan demkian, kembali kita pada kesimpulan bahwa semua itu hanya menjadi ‘acara’ saja, sekadar acara. Untuk kegiatan-kegiatan seminar yang dilakukan, mungkin ini menjadi argumen simpanan bagi pihak yang dituding untuk membela diri. Nah, sekarang saya mempertanyakan beberapa hal akan kegiatan yang dilakukan tersebut: apakah setiap seminar yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa di kampus ada memiliki arsip tulisan (notulensi) pembahasan yang dilakukan dalam tulisan? Jika ada, apakah kesimpulan dari seminar itu telah dilakukan atau direalisasikan dalam kehidupan? Kalau iya, apakah telah dilakukan pengkajian mendalam atau riset lanjutan untuk menemukan permasalahan-permasalahan baru atau solusi konkret terhadap isu-isu yang dikaji tersebut? Kalau boleh saya menebak dengan arogan, kemungkinan hanya menulis di note facebook, penerbitan buletin yang isinya hanya berupa reportase kegiatan atau sedikit tulisan artikel yang mendalam, atau lebih parah hanya rencana untuk turun ke jalan. Apakah ada karya ilmiah atau karya akademis dari mahasiswa (panitia) sendiri yang membahas tentang kegiatan-kegiatan seminar yang dilaksankaan itu beserta pembahasan isu-isunya? Sudah berapa banyak buku atau dokumentasi yang baik telah dihasilkan oleh para aktivis kita sekarang ini, yang terlibat dalam pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan-kegiatan itu, terkait dengan program kegiatan beserta isu-isunya? Paling-paling hanya blog atau website, yang jika dibuka hanya berisikan informasi jadwal sebagai bentuk usaha publikasi. Bukan sebagai usaha penyebaran informasi melalui media dengan tujuan kepentingan edukasi.

Badan Kemahasiswaan Yang Diharapkan
Pemerintah merupakan badan eksekutif dalam sebuah negara. Ada banyak tuntutan kepada pemerintah agar dapat memberikan pendidikan kepada seluruh anak bangsa supaya negara menjadi maju. Yang paling gencar meneriakkan tuntutan ini adalah kalangan intelektual, termasuk mahasiswa. Begitupun dengan Badan Kemahasiswaan yang merupakan badan eksekutif di kampus yang pada dasarnya memiliki peran yang sama persis dengan pemerintah, yakni harus memenuhi aspirasi dari rakyat kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa tuntutan akan edukasi adalah kebutuhan pokok bagi setiap kalangan. Atas dasar itu lah, bisa pula kita tarik keseimpulan bahwa para mahasiswa sebagai rakyat di lingkungan kampus memiliki tuntutan yang sama dengan rakyat di lingkungan bangsa dan negara: butuh gerakan pencerdasan! Dan Badan Kemahasiswaan yang baik harus dapat memenuhi aspirasi anggotanya ini. Setiap program kerja harus memiliki visi untuk pengembangan diri setiap mahasiswa, harus memiliki unsur untuk belajar (dalam arti yang sebenarnya), harus berupa suatu aksi untuk maju ke depan: untuk bergerak! Dengan kata lain, kalau misalnya tidak bisa dielakkan kenyataan bahwa Badan Kemahasiswaan memang terlahir untuk mengadakan acara-acara, maka setiap kegiatan atau acara yang dilaksanakan oleh badan eksekutif harus memiliki tujuan edukatif dan sebagai ruang atau lahan untuk studi.

Sekarang bagaimana agar supaya setiap kegiatan atau acara itu menjadi lahan dan ruang untuk edukasi? Ya, hal kongkret dan jelas, lakukanlah kegiatan yang memiliki konsep, dan memiliki aksi-aksi susulan yang berkelanjutan. Contoh yang dapat saya berikan adalah melakukan kegiatan atau acara yang memang membuka ruang seluas-luasnya untuk belajar dan mengembangkan diri. Sudah semestinya Badan Kemahasiswaan membuat suatu acara yang memiliki program pengkajian, bukan acara tontonan belaka. Program kerja yang memang memberikan jawaban terhadap isu-isu yang diangkat, bukan malah menjadikan isu-isu itu sebagai pembenaran untuk diadakannya acara hiburan semata. Ingin mengadakan acara seni budaya, pahamilah terlebih dahulu apa seni budaya itu dengan melakukan berbagai diskusi mendalam, riset mendalam, dan pengejawantahan usaha penkajian itu dalam sebuah acara yang memang berisi. Lalu selanjutnya lakukan pengarsipan dan pendokumentasian yang baik, yang nantinya memang bisa menjadi bahan koreksi, bahan bahasan, bahan kajian selanjutnya. Begitu juga dengan acara-acara dan kegiatan lainnya. Lakukan kegiatan dengan wacana yang memang memberangkatkan kita semua (mahasiswa) kepada pemahaman tentang isu yang ada. Visi dan misi pencerdasan tidak boleh berhenti atau selesai pada acara hari H dilaksanakan, tetapi semestinya memiliki aksi selanjutnya untuk mencampai kesempurnaan tujuan.

Terwujudnya tuntutan ini lah yang nantinya akan dapat menjawab “Apa dan bagaimana Badan Kemahasiswaan kampus ?” yang dapat menjelaskan state of the art yang telah dimiliki oleh Badan Kemahasiswaan kampus. Kalau tidak demikian, selalu saja melakukan kegiatan dan mengadakan acara tanpa konsep, tanpa pengkajian, tanpa aksi susulan berkelanjutan (berhenti dan selesai di sebuah acara belaka), berbahgialah menyandang gelar sebagai Event Organizer-nya kampus yang berbasis pada mahasiswa.



 
;